Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Nasib Piala Dunia Terombang-ambing

Aditya Novrian • Minggu, 8 Maret 2026 | 15:02 WIB

Bayu Mulya Putra: Jurnalis Radar Malang
Bayu Mulya Putra: Jurnalis Radar Malang

Saat Israel mulai melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari lalu, kekhawatiran terkait nasib Piala Dunia 2026 muncul dari sejumlah kalangan. Utamanya dari para pencinta sepak bola. Terlebih, setelah itu Amerika Serikat ikut-ikutan menyerang Iran. 

Amerika Serikat, banyak orang tahu, adalah salah satu tuan rumah Piala Dunia 2026. Dua negara lainnya yakni Kanada dan Meksiko. Kekhawatiran terkait nasib Piala Dunia 2026 itu sebelumnya juga ada. Sebab, Meksiko juga membara akibat perang terhadap kartel narkoba pimpinan El Mencho.

Kekhawatiran terkait menipisnya stok BBM memang ada. Tapi warga negara ini sepertinya masih percaya ke Menteri ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral) Bahlil Lahadalia. Dia sudah menyebut bahwa stok BBM masih aman sampai 25 hari. Sesuai dengan kapasitas penyimpanan (storage) BBM di dalam negeri.

Semoga perang di Asia Barat selesai lebih cepat. Agar kekhawatiran terkait BBM yang bisa merembet ke inflasi tidak benar-benar terjadi. Agar hiburan empat tahunan itu juga masih bisa kita saksikan. Utamanya penampilan Timnas Iran, yang dipastikan lolos kualifikasi Piala Dunia 2026.

”Dengan apa yang terjadi hari ini dan serangan dari Amerika Serikat, kecil kemungkinan kami bisa menantikan Piala Dunia,” kata Presiden Federasi Sepak Bola Iran (FFIRI) Mehdi Taj seperti ditulis di beberapa media. Piala Dunia 2026 rencananya akan diselenggarakan tiga bulan lagi.

Tepatnya mulai 11 Juni sampai 19 Juli 2026. ”Dengan hanya tiga bulan tersisa menuju Piala Dunia, penundaan turnamen tampaknya kecil kemungkinannya. Dari sisi logistik, ekonomi, dan politik, menjadwalkan ulang acara sebesar itu akan menjadi tantangan besar,” kata pakar industri olahraga global Simon Chadwick kepada SPORTbible.

Meski begitu, dia memberi catatan khusus apabila konflik meluas ke Amerika Utara dan Eropa, ceritanya bisa berbeda. Kemungkinan terburuknya, penundaan Piala Dunia 1942 dan 1946 akibat Perang Dunia II bisa terjadi lagi.

Pada 1942, FIFA membatalkan turnamen sebelum tuan rumah dipilih secara resmi. Ada yang menyebut bahwa Jerman Nazi berniat mengajukan diri saat itu. Ketiadaan turnamen membuat beberapa negara menggelar sendiri ajang serupa.

Seperti digelar di Patagonia, Argentina, yang melibatkan 12 Tim. Tidak banyak ulasan yang membedah turnamen di sana. Kabarnya, tim-tim yang menjadi pesertanya berisi pemain-pemain dari kalangan pekerja. Beberapa juga ada yang berisi para tentara.

Jerman di bawah Nazi saat itu juga sempat menggelar Piala Dunia tidak resmi. Mempertemukan Timnas Jerman dan Swedia di partai puncak. Hasilnya, Timnas Swedia unggul dengan skor 3-2. Partai final itu menjadi titik awal dari berakhirnya Tim Sepak Bola Jerman Nazi. Sejak November 1942, Partai Nazi menangguhkan semua pertandingan tim itu. Sebagian besar pemain diharuskan bergabung dengan angkatan bersenjata.

Saat Perang Dunia II berakhir pada 1945, rencana menghidupkan kembali Piala Dunia dimulai. Dengan jadwal turnamen berikutnya yang harus digelar pada 1946, banyak pihak yang menilai peluang untuk menyelenggarakannya sangat minim. Dan benar, Piala Dunia 1946 tak jadi digelar. 

Brasil sempat ditunjuk sebagai tuan rumah untuk Piala Dunia 1949. Namun, karena dari awal turnamen itu digelar empat tahunan, jadwal di Brasil diundur setahun. Jadilah Piala Dunia 1950 menjadi penanda kembalinya supremasi tertinggi di dunia sepak bola.

Melihat perkembangan yang ada sampai saat ini, belum bisa diprediksi kapan perang di Asia Barat bakal berakhir. Iran, yang kehilangan supreme leader-nya, Ayatollah Ali Khamenei, sudah menegaskan sikap. Mereka tak mau bernegosiasi dengan Amerika Serikat.

Mereka juga belum menunjukkan tanda-tanda mengendurkan serangan balasan. Semoga perang segera berakhir. Karena Perang Dunia tak akan pernah bisa menghibur dibanding Piala Dunia. (*)

Editor : Aditya Novrian
#Pendapat #Berita Terbaru #Piala dunia