SEPAK BOLA Indonesia kembali menggelora. Kemenangan Tim Garuda atas Saint Kitts and Nevis dalam ajang FIFA Series 2026 jadi pemantiknya. Meski masih ada beberapa pekerjaan rumah, capaian positif Jay Idzes cs Jumat lalu (27/3) menjelma seperti obat pelipur lara.
Hasil minor di Kualifikasi Piala Dunia 2026 dengan berbagai drama di dalamnya tidak bisa dimungkiri jadi pukulan untuk pencinta sepak bola tanah air. Saya yakin banyak dari kita sempat punya harapan tinggi untuk melihat Timnas Indonesia mentas di Piala Dunia 2026. Momentum saat itu, tentu juga jadi titik balik untuk beberapa masyarakat menyaksikan lagi dan punya rasa optimistis dengan tim Garuda.
Selama Kualifikasi Piala Dunia 2026 Timnas Indonesia memang menjelma layaknya Popeye setelah makan bayam. Tangguh (baca: tak mudah dikalahkan) dan punya mentalitas bertanding kuat. Sebelum itu, tentu akan sulit membayangkan mampu menang atas Arab Saudi, Bahrain, China, dan menahan imbang Australia. Apalagi sampai tembus putaran keempat kualifikasi piala dunia.
Euforia kemenangan di FIFA Series untuk sementara juga mengalihkan pandangan atau juga refresh pikiran dari problem-problem yang terjadi di tanah air. Dalam beberapa bulan terakhir, masyarakat dihantam beragam berita menjengkelkan yang kebanyakan sumbernya berasal dari kebijakan sampai tingkah para elite. Mulai dari MBG, gabung BOP, asal bunyi para pejabat, korupsi, deforestasi, sampai tindakan yang mencederai demokrasi dengan adanya penyiraman air keras kepada masyarakat sipil.
Tiga poin dari Stadion Utama Gelora Bung Karno malam itu bisa jadi, juga membuat kita untuk sementara melupakan ancaman krisis BBM. Seperti diketahui, konflik Iran melawan Amerika Serikat dan Israel berdampak luas. Salah satunya, menyasar ke pasokan BBM.
Secara psikis, efek kemenangan tim merah putih atau klub sepak bola memang besar. Terkadang berpotensi meninabobokan. Bisa dimanfaatkan elite ’nakal’ untuk meredakan gejolak di dalam negeri. Efek semacam itu memang tidak bisa dihindari. Namun, lebih baik merasakan kemenangan Timnas saat berlaga dibanding harus mendengar jurus hemat gas dengan mematikan kompor.
Beberapa sumber menyebut, sepak bola menciptakan collective effervescence (euforia bersama) dan catharsis (pelepasan emosi). Sehingga menjadi pelarian yang aman dari penderitaan nyata. Lalu, sepak bola juga bisa digunakan sebagai alat pembangunan bangsa (nation-building), karena mendukung Timnas tak mewajibkan harus berasal dari ras, suku, dan asal daerah yang sama.
Penelitian Football for All menyebutkan, bermain atau merayakan kemenangan dalam sepak bola bisa melepaskan endorphin, Dopamin, dan serotonin (hormon bahagia). Alhasil, meningkatkan mood dan mengurangi gejala depresi serta kecemasan. Penelitian juga mencatat, olahraga tim seperti sepak bola bisa 1,5 kali lebih efektif daripada konseling atau obat untuk mengurangi gejala tersebut.
Sedangkan masyarakat Irak melihat partisipasi Timnas negaranya pada Piala Asia 2007 sebagai beacon of hope atau mercusuar harapan. Itu menyusul, pada waktu itu jadi obat pelipur lara saat terjadi konflik dan invasi Amerika Serikat. Saat itu, Timnas Irak berhasil jadi juara ajang itu.
Sedangkan gelar Piala Dunia Lionel Messi dan kawan-kawan pada 2022 lalu memberi hiburan kepada masyarakat Argentina. Mereka bisa melupakan sejenak krisis ekonomi yang terjadi. Saat itu, kabarnya inflasi di Negeri Tango mencapai 100 persen dan 40 persen masyarakat hidup di bawah garis kemiskinan, nilai tukar mata uang peso anjlok drastis.
Berkaca dari itu, besar harapan hasil FIFA Series bisa happy ending untuk Rizky Ridho cs. Meski tak bisa menggantikan keikutsertaan ke Piala Dunia 2026, namun setidaknya capaian itu jadi layaknya air di padang pasir gersang. Sedikit melepas dahaga dari perjalanan panjang, penuh liku, dan tantangan menjadi seorang warga negara Indonesia. Dan selayaknya air, semoga euforia juara nanti tak memabukkan.
Herdman Bangun Kepercayaan
Kehadiran John Herdman sebagai nakhoda baru Timnas Indonesia memang tak seheboh pelatih Garuda sebelumnya. Dia bergabung saat kepercayaan pencinta bola tanah air mulai luntur lantaran hasil di kualifikasi Piala Dunia 2026. Namun tanpa sorotan besar atau gemerlap pemberitaan, dia perlahan mulai menumbuhkan kebanggaan akan skuad garuda.
Meski belum teruji betul di laga lebih berat atau ajang level besar, tapi dia mempunyai kompas untuk membawa ke mana kapal yang dinakhodai berlayar. Keberaniannya mau melanjutkan fondasi permainan yang diterapkan Shin Tae-yong dan Patrick Kluivert jadi hal spesial. ”Kami harus terus membangun apa yang sudah ada sebelumnya,” kata Herdman sebelum laga pertama di FIFA Series.
Pujian ini memang terdengar terlalu cepat. Mengingat pelatih asal Inggris itu baru menjalani satu pertandingan. Tapi, berkaca bagaimana terseok-seok klub Manchester United selepas kepergian Sir Alex Ferguson, penurunan performa Timnas Indonesia era Patrick Kluivert, sulitnya Jerman pasca Era Joachim Low langkah itu ada betulnya. Perlu diingat salah satu kunci keberhasilan Vicente Del Bosque bersama Timnas Spanyol menyempurnakan warisan nakhoda sebelumnya Luis Aragones.
Mantan pelatih Real Madrid itu membawa Tim Matador berjaya di Eropa dan Dunia. Menjadi juara Piala Dunia 2010 dan Piala Euro 2012.
Menurut saya, sebagai pencinta sepak bola tanah air ada dua hal perlu dilakukan sekarang. Pertama, beri kesempatan Herdman bekerja. Meski nanti tak juara FIFA Series. Kedua, mengawal perjuangan Garuda untuk mencapai target lolos ke Piala Dunia 2030. (/*).
Editor : A. Nugroho