Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Kapan Arema FC Juara Liga Lagi?

Galih R Prasetyo • Minggu, 17 Mei 2026 | 13:34 WIB
Galih R. Prasetyo, Jurnalis Jawa Pos Radar Malang
Galih R. Prasetyo, Jurnalis Jawa Pos Radar Malang

 

PERTANYAAN itu mudah untuk dilontarkan, tapi sulit menemukan jawabannya. Sejak kompetisi bertajuk Liga 1 sampai Super League, Arema FC lebih banyak jadi partisipan dibandingkan tim penantang juara. Pada kompetisi musim ini misalnya, Singo Edan sulit menembus posisi lima besar.

 

Malah, ada potensi mengulang capaian pada Liga 1 2024/2025. Pada waktu itu, Arema FC mengakhiri kompetisi dengan berada di posisi 10 klasemen. Tapi, kemenangan atas PSBS Biak Jumat malam lalu (15/5) bisa membuka peluang tim merangsek ke peringkat delapan pada akhir musim.

 

Berdasar penelusuran wartawan koran ini, hanya dua kali Arema FC berhasil finis di posisi enam besar. Pertama pada Liga 1 2018 menempati urutan enam. Kedua, saat Liga 1 2021/2022 berada di peringkat empat klasemen.

 

Sedangkan pada Liga 1 2017 dan 2019 finis di posisi sembilan pada akhir musim. Lalu, menempati posisi 12 pada musim 2022/2023. Berada di ranking 15 saat kompetisi 2023/2024. Musim lalu, finis di posisi 10 klasemen dengan mengoleksi 47 poin dari 34 pertandingan.

 

Berkaca dari statistik itu, tak terasa Aremania sudah 16 tahun melihat Singo Edan tak mengangkat trofi juara liga lagi. Anak yang lahir pada saat Arema terakhir kali juara Indonesia Super League (ISL), kemungkinan sekarang sudah kuliah. Selama waktu itu, Mio Soul bertransformasi menjadi NMax dan Blackberry berganti dengan ponsel android.

 

Meski bukan klub Jawa Timur dengan puasa gelar liga kasta tertinggi paling lama, tapi situasi itu menjadi ironi. Khususnya, saat tim ini sulit bersaing di papan atas klasemen. Seperti diketahui, setiap musim pemain atau pelatih asing menyebut Arema FC salah satu tim besar di Liga. Lalu, beberapa kali mampu bersinar di turnamen.

 

Malang juga sering disebut sebagai wilayah yang mempunyai banyak pemain sepak bola bertalenta. Fasilitas penunjang untuk tim mengembangkan performa sejatinya juga tak terbatas. Mulai dari sport science sampai tempat untuk menempa diri.

 

Lantas, apa yang terjadi dengan Singo Edan? Pertanyaan itu tentunya banyak jawabannya. Apalagi yang menjawab manajemen klub. Bisa saja, akibat masih dalam proses bangkit dan membangun ulang setelah tragedi Kanjuruhan. Atau sepanjang musim ini kerap menjalani laga tanpa full skuad.

 

Seperti diketahui bersama, banyak pemain Arema FC mengalami cedera. Ditambah, penampilan beberapa nama tak sesuai ekspektasi. Akibatnya, performa tim naik dan turun yang berdampak kepada hasil di lapangan.

 

Apapun yang dikatakan klub dan elemen tim setelah musim ini berakhir saya pikir sah-sah saja. Toh, mereka juga berada di internal tim. Ibarat kata, adalah crew  kapal yang mengarungi panjangnya samudra.

 

Dalam situasi sekarang yang perlu ditanyakan Aremania ke Arema FC tak hanya mengapa, tapi adakah keinginan menjadi juara liga. Semisal jawabannya tidak, lantas seperti apa rencana ke depan. Apabila jawabannya ada target juara, mari ditanyakan bagaimana blue print mencapai itu.

 

Saya meyakini tak ada yang instan di sepak bola. Bagaimana Liverpool, Manchester City, sampai Arsenal (baca: kalau juara) meraih prestasi di Liga bukanlah kerja semalam. Ada rencana jangka panjang disiapkan dengan matang untuk mencapai titik yang dituju.

 

Apabila Arema FC tak mempunyai langkah-langkah itu tentunya akan sulit mengakhiri puasa juara liga. Singo Edan pernah membuktikannya dengan skuad yang katanya bertabur bintang pada musim 2022/2023. Terlepas dari adanya tragedi Kanjuruhan, saat itu performa tim pada awal musim belum benar-benar menjanjikan.

 

Sedangkan musim ini, tim-tim yang punya skuad bintang lima tak semudah membalikkan telapak tangan untuk jadi juara. Persaingan merebut gelar juara berjalan dengan alot. Selain itu, cara-cara Singo Edan membangun tim yang berorientasi hanya untuk menuntaskan satu musim juga terus menemukan cerita minor setiap musim.

 

Yang terjadi, klub terus bakar uang untuk pelatih dan pemain baru setiap musim, tapi mengulangi kisah serupa. Bahkan musim ini perlu diketahui, target Arema FC sejatinya finis posisi lima besar. Berdasar keyakinan saya, blue print mengembalikan kejayaan juga tak pernah disampaikan ke publik dan untungnya pemain ke-12 tak ada mempertanyakan itu.

 

Fokus klub hanya bagaimana menuntaskan kompetisi musim ini. Saat prestasi menurun, solusinya hanya mengubah skuad pada tengah musim. Efeknya terkadang positif dan sering juga tak banyak ubah keadaan.

 

Manchester City memulai kejayaan yang lebih konsisten di Liga Inggris dengan merekrut Ferran Soriano (CEO) dan Txiki Begiristain (Direktur Olahraga). Dua otak di balik era keemasan Barcelona itu, membangun struktur klub lebih maksimal dengan filosofi jelas mulai dari academy sampai tim utama. Lalu pihak klub menginvestasikan dana triliunan untuk academy dan fasilitas olahraga.

 

Meski tak apple to apple membandingkan dengan Manchester City, tapi jika melihat contoh itu bisa dibilang punya fondasi kuat sangat menguntungkan klub. Perlu diingat bagaimana performa Timnas Jepang sekarang juga bukan kerja semalam. Jika ada menyebut Singo Edan saat juara ISL 2009/2010 tak gunakan blue print juara, tapi berprestasi.

 

Saya pikir sekarang beda cerita dan situasi. Mengulang cara-cara itu kemungkinan akan membuat tim raih prestasi seperti beberapa musim terakhir. Tapi, saya yakin Arema FC sudah memikirkannya jika berkaca banyaknya pemain belum kepala tiga di skuad sekarang. (*).

 

Editor : A. Nugroho
#Arema FC #Performa #Liga #Singo Edan