"Tidak ada yang tahu apa-apa.Tidak satu orang pun di seluruh bidang perfilman yang tahu pasti apa yang akan berhasil," ujar William Goldman dalam bukunya Adventures in the Screen Trade (1983).
Kutipan tersebut menggambarkan bagaimana peraih dua Piala Oscar penulis skenario terbaik pun masih ragu bagaimana film bisa sukses. Banyak yang sepakat dan mengakui memang tak mudah membuat film yang bagus sekaligus bisa laris di pasaran. Ada banyak faktor yang berpengaruh. Bukan hanya soal teknis yang rumit, tapi juga satu hal yang diamini banyak senias ternama: keberuntungan.
Keberuntungan ini memang tak melulu soal kebetulan. Ada banyak elemen di dalamnya. Namun semakin dalam sisi keberuntungan itu dipelajari, efeknya belum tentu sama dengan sang pendahulu yang sudah sukses.
Tak pernah ada formula pasti bagaimana film bisa memenuhi semua kriteria yang dibutuhkan untuk membuatnya berhasil. Film-film superhero contohnya. Awal 2000-an, Hollywood mengembangkan film superhero adaptasi komik ke layar lebar. Awalnya, film seperti Hulk dan Daredevil (2003) hanya dianggap film kelas B dan sulit merangsek ke jajaran film papan atas.
Bahkan beberapa film X-Men dan trilogi Spiderman yang diperankan Tobey Maguire, belum membuat genre superhero jadi primadona. Meski cukup sukses, namun skala film-film ini masih kalah saing dengan sejumlah film dari genre lain seperti Pirates of The Caribbean atau Lord of The Ring.
Kemudian datanglah Iron Man yang pelan-pelan menancapkan hegemoni Marvel Studio dalam genre ini. Tampil fresh dengan efek CGI yang ciamik, Iron Man yang menggunakan formula 'standar' ini lantas terus direproduksi.
Sempat bertahun-tahun dibangun, Marvel terus menuai kesuksesan hingga menelurkan film seperti Avengers: Infinity Wars (2018) dan Avengers: Endgame (2019) yang menembus jajaran 10 besar film terlaris sampai sekarang.
Namun seperti sudah mencapai klimaksnya, usai dua film tersebut, Marvel kesulitan menemukan rumus paten untuk mengulang kesuksesan mereka. Beberapa film superhero memang masih diproduksi, namun sambutan yang diharapkan jauh dari kata memuaskan.
Beberapa pengamat menyebut penyebabnya adalah kebosanan. Penonton tak lagi terkesima melihat bagaimana seorang bisa menumpas musuh-musuh dengan kekuatan super. Mereka bisa menebak ending bahkan jalan cerita sang tokoh utama.
Improviasi pun dilakukan. Bila Marvel memilih aktor-aktor lama seperti Hugh Jackman (Wolverine) hingga Robert Downey Jr (Iron Man) yang 'dibangkitkan' dengan karakter baru, DC, pesaingnya, justru memilih cara yang lebih ekstrem dengan me-recast seluruh pemerannya.
Keputusan yang belum terbukti, siapa yang benar dan salah. Namun keputusan Marvel dan DC itu jelas jadi petunjuk bagaimana produser kelas kakap dengan berbagai film box office pun masih meraba-raba.
Indonesia Memang Beda
Lalu bagaimana di Indonesia? Rasa-rasanya, bukannya tak suka superhero, penonton di sini tampaknya terlanjur punya standar tinggi soal genre ini. Bagaimana efek-efek luar biasa yang ditampilkan film Hollywood saat mengemas film superhero mereka, jelas tak bisa diimbangi dengan produksi lokal. Bujet dan kesiapan ekosistem pendukung di dalam negeri sangat berpengaruh.
Di sisi lain, keberanian produser lokal untuk memproduksi film genre ini juga terbilang minim. Bumilangit Studio sempat punya ambisi besar dengan merilis sejumlah judul superhero, namun proyeknya terkesan tersendat usai merilis beberapa film.
Padahal saat muncul pada 2019, Gundala, salah satu film superhero lokal garapan Bumilangit justru mendapat sambutan positif. Buktinya, ada lebih dari 1,6 juta penonton yang menyaksikan film ini. Jumlah yang terbilang cukup besar walau belum bisa mampu menembus jajaran atas film Indonesia terlaris.
Tak bisa dipungkiri, selera lokal memang beda. Bukan mengarah ke genre superhero, penonton kita lebih suka drama, komedi, dan khususnya, horor. Iming-iming larisnya film horor bahkan membuat produser berlomba-lomba memproduksi film jenis ini dalam berbagai pendekatan. Ada yang didasarkan kisah nyata, Thread viral di media sosial (medsos), maupun adaptasi cerita rakyat. Kuntilanak, pocong, tuyul, hingga yang lebih kontemporer seperti mister gepeng dan suster ngesot jadi 'bintang' yang ditunggu-tunggu kemunculannya.
Bahkan Jumbo (2025) film animasi anak-anak, yang jadi film Indonesia terlaris kedua sepanjang sejarah dengan 10,2 juta penonton juga sedikit-banyak mengadopsi cerita yang ada hantu-hantunya.
Kultur masyarakat kita yang sebagian begitu percaya mitos dan klenik, menjadikan kreator film-film lokal menangkapnya sebagai sebuah fenomena. Daya tarik inilah yang terus menerus direplikasi hingga akar-akarnya. Para penulis skenario harus makin kreatif karena nyaris semua angle sudah digunakan dalam penceritaan dedemit ini.
Lantas kapan formula ini akan usang seperti genre superhero di Hollywood? Entahlah. Sejauh ini, produser film lokal masih dinaungi keberuntungan saat memproduksi film horor. Film mereka laris manis. Meski formulanya cenderung mirip, masyarakat masih sangat terhibur saat ditakut-takuti, diteror, dibuat merinding, berkeringat dingin, hingga teriak histeris.
Selain karena kisah horor lokal yang begitu kaya, rasa deg-degan, penasaran, kaget, walau sesekali memicingkan mata karena jumpscare kacangan, seperti candu yang sesaat mampu menghilangkan rasa stres.
Syaratnya, teror ketakutan itu masih sebatas film dan hanya di dalam gelapnya gedung bioskop. Bukan di dunia nyata atau sampai membahayakan nyawa. Seperti genderuwo berkolor atau begal yang menyamar jadi pocong. Kalau itu nyata, apa mungkin kita memang benar-benar butuh superhero? (Penulis bisa disapa lewat surel adinugroho.ohorgunida@gmail.com)
Editor : A. Nugroho