Satu per satu efek domino dari melemahnya kondisi perekonomian mulai terasa. Yang terbaru, harga Pertamax resmi naik menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni lalu. Sebelumnya dibanderol Rp 12.300 per liter.
Cepat atau lambat, dampak kenaikan harga hampir Rp 4 ribu itu bakal dirasakan banyak pihak. Termasuk saya. Sebelum ada kenaikan BBM non-subsidi itu, Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) menjadi 5,5 persen mulai awal Juni ini.
Pemilik usaha juga kena efek. Pasal 59 Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 20 Tahun 2026 resmi dihapus. Pajak final 0.5 persen tak lagi bisa diterapkan. Sekarang pajak badan usaha adalah 22 persen dari laba bersih.
Bila masih ada yang beranggapan bahwa ekonomi sedang baik-baik saja, ada dua kemungkinan yang melatarbelakanginya. Yang pertama, bisa jadi orang itu punya uang sisa yang cukup banyak. Yang bisa di-save atau diinvestasikan.
Kemungkinan kedua, bisa jadi efeknya belum dirasakan secara langsung. Khusus untuk kemungkinan ini, umumnya seseorang belum sadar telah terdampak. Mereka tetap konsumtif, meski barang atau jasa yang dikonsumsinya tidak bernilai tinggi.
Banyak yang menyinggung perilaku itu sebagai fenomena lipstick effect. Istilah yang dipopulerkan ekonom Juliet Schor pada awal 2000-an. Istilah itu awalnya populer ketika produsen kosmetik asal Amerika Serikat melaporkan kenaikan penjualan lipstik setelah terjadi serangan teroris, 11 September 2001 lalu.
Singkatnya, lipstick effect digambarkan sebagai fenomena saat seseorang tetap membeli barang-barang kecil atau produk mewah yang terjangkau di tengah sulitnya kondisi ekonomi. Itu umumnya dilakukan sebagai bentuk penghargaan kepada diri sendiri (self-reward). Bisa juga dilakukan untuk mencari hiburan di tengah ketidakpastian kondisi ekonomi.
Tiga tahun sebelum fenomena itu booming, Indonesia sebenarnya sempat mengalaminya. Saat krisis ekonomi terjadi tahun 1998, penjualan produk kosmetik juga dilaporkan tetap stabil. Bahkan meningkat. Salah satu bukti yang bisa dilihat yakni eksistensi Wardah, produk kosmetik yang didirikan sejak 1995.
Mereka jadi satu di antara beberapa industri yang mampu bertahan saat krisis ekonomi 1998. Lipstick effect 2.0 di Indonesia terjadi pada masa Pandemi Covid-19, 2020-2022 lalu. Saat itu, produk skincare dan perawatan rambut dilaporkan laris manis.
Merek-merek skincare lokal banyak bermunculan sampai sekarang. Begitu juga dengan pendirian klinik-klinik kecantikan. Di Kota Malang sendiri, pendirian klinik, baik klinik kecantikan dan kesehatan masih masif.
Pada 2025 lalu, Dinas Tenaga Kerja, Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Malang mencatat ada 68 pelaku usaha baru di bidang itu. Sementara tahun ini, dari Januari sampai Mei, total ada 36 pelaku usaha klinik kesehatan dan kecantikan yang menanamkan modalnya.
Industri jasa, khususnya yang berkaitan dengan perawatan tubuh, masih banyak diincar sampai sekarang. Pilihan self-reward saat ini juga lebih banyak. Istilah ngopi bareng dan ngopi cantik makin marak. Begitu juga dengan gelaran konser yang makin banyak pilihannya.
Banyaknya fenomena self-reward yang nilainya mudah dijangkau banyak orang itulah yang menguatkan indikasi terjadinya lipstick effect 3.0 saat ini. Itu bisa terjadi untuk beberapa waktu ke depan. Tergantung langkah pemerintah pusat dalam menanggulangi gejolak ekonomi.
Sudah banyak ekonom yang menyarankan pemotongan anggaran untuk program-program yang tidak berdampak. Salah satu yang paling banyak disorot yakni program MBG. Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Jakarta sempat mengeluarkan hasil studinya tahun 2025 lalu.
Mereka menyatakan bahwa potensi kerugian dari makanan yang terbuang mencapai Rp 1,75 triliun setiap hari. Hasil studi lainnya juga menyampaikan bahwa 46 persen responden khawatir distribusi MBG tidak efisien. Sebanyak 79 persen responden juga menyoroti adanya konflik kepentingan dalam penunjukan vendor MBG.
Data lain menyebut 65 persen responden menyatakan tetap mengeluarkan uang tambahan untuk makanan pengganti MBG. Mereka memberikan 10 rekomendasi untuk pemerintah. Salah satunya yakni realokasi anggaran ke program yang lebih tepat sasaran untuk sektor pendidikan.
Bila studi dan masukan dari orang-orang yang peduli terhadap negeri ini tidak dipedulikan, hasil penelitian American Psychological Association (APA) pada 2024 bisa juga terjadi di Indonesia. Saat itu, APA melakukan penelitian pasca-pemilihan Presiden Amerika Serikat.
Salah satu hasilnya menyatakan bahwa 73 persen responden khawatir kondisi ekonomi bisa menjadi pemicu stress. Persentase itu hanya beda 1 persen dari hasil responden yang khawatir pemilu bisa memicu kekerasan.
Semoga krisis politik dan ekonomi yang terjadi pada 1998 juga tidak terulang lagi. Sebab bila itu terjadi, chaos bakal berlangsung di banyak tempat. Di Jakarta sudah dimulai. Dan pada akhirnya, kutipan dari Tan Malaka yang banyak beredar di media sosial cukup benar. Dia pernah berujar seperti ini: kepentingan rakyat tidak akan pernah bisa diwakilkan oleh orang-orang yang tidak hidup seperti rakyat. (*)
Editor : A. Nugroho