”Sepak bola dimainkan dengan kepala. Kaki hanya alat bantu.” Ungkapan itu disampaikan legenda sepak bola asal Belanda, Hendrik Johannes Cruyff, atau dikenal dengan Johan Cruyff. Maksud dari pernyataan itu yakni permainan sepak bola mengutamakan kecerdasan, visi, dan pengambilan keputusan.
Kemampuan otak dalam membaca permainan diyakini bisa melebihi kemampuan fisik. Pernyataan yang dilontarkan medio 1980-an itu masih relevan hingga sekarang. Terbaru, Spanyol berhasil menundukkan kedigdayaan kemampuan fisik pemain Prancis melalui pendekatan taktikal dan kolektivitas tim.
Meskipun lahir sebagai warga Belanda, Cruyff tentu tidak asing dengan sepak bola Spanyol. Sosok itu pernah menjadi pemain sekaligus pelatih Barcelona. Saat menjadi pelatih klub Katalonia, legenda yang berpulang tahun 2016 itu mengaplikasikan taktik Total Football yang dikembangkan Rinus Michels.
Taktik itu kemudian berevolusi dan disempurnakan menjadi Tiki-Taka oleh Pep Guardiola. Keberhasilan Tiki-Taka bisa dilihat pada kesuksesan Spanyol menjadi juara Piala Dunia pertama kali pada 2010 silam. Maju ke depan pada tahun 2026, meskipun tidak lagi menggunakan Tiki-Taka, sepak bola Spanyol tetap memiliki filosofi tersendiri.
Itu juga diakui legenda Prancis, Thierry Henry. Setelah laga semifinal kemarin, di acara Fox Sport, Titi, sapaan akrab Henry, menyebut pemain Spanyol sudah memahami filosofi sepak bola mereka sejak usia 9 tahun. Henry menilai kekuatan utama Spanyol bukan hanya kualitas individu. Melainkan pemahaman kolektif terhadap filosofi bermain yang telah ditanamkan sejak usia muda
”Mereka mengerti apa yang harus dilakukan sejak berusia 9 tahun. Tidak peduli siapa yang bermain atau siapa yang tidak bermain, mereka mengerti cara bermain,” ungkap Henry. Filosofi atau identitas permainan Spanyol membuat setiap pemain baru dapat langsung beradaptasi.
Mengutip dari laman spanishprofootball, setidaknya ada tiga hal yang ditanamkan pada bocah Spanyol saat berada di akademi. Pertama, penguasaan bola. Sejak usia dini, pemain di Spanyol diajarkan untuk memprioritaskan penguasaan bola, akurasi umpan, dan kesadaran spasial. Latihan berfokus pada permainan penguasaan bola di ruang sempit, rondo, dan umpan satu sentuhan.
Hal kedua yakni kecerdasan permainan harus diutamakan dibanding kemampuan fisik. Dibandingkan negara besar lainnya, Spanyol menjadi negara yang paling minim mengandalkan fisik. Tidak banyak berlari atau berduel, mereka mengutamakan penguasaan bola. Itu juga merupakan penyesuaian dengan kondisi fisik orang Spanyol, yang rata-rata lebih kecil dari negara Eropa lainnya.
Faktor terakhir adalah budaya kreatif. Bisa dibuktikan dengan gelandang kreatif asal Negeri Matador yang tak ada habisnya. Mulai dari Xavi dan Iniesta, kini menjadi Pedri dan Fabian Ruiz. Filosofi yang dimiliki sejak usia muda kemudian disempurnakan oleh pelatih Timnas Spanyol Luis de la Fuente.
Taktiknya menekankan pada fleksibilitas, kedisiplinan posisi, dan pertahanan rapat. Dia berhasil memadukan penguasaan bola progresif ala Spanyol dengan kemampuan melakukan serangan balik mematikan. Sembari memastikan semua pemain aktif melakukan rotasi dan menekan lawan sejak di sepertiga pertahanan.
Setelah laga semifinal kontra Prancis Rabu lalu (15/7), Luis de La Fuente mengatakan, komposisi pemain Prancis merupakan salah satu terbaik di dunia. Terbukti dengan Dembele yang meraih Ballon 'Or pada penghargaan terakhir. Juga Mbappe sebagai top skor La Liga. Namun menurut de La Fuente, kunci Spanyol memenangkan laga adalah bermain sebagai tim.
Kolektivitas yang dimiliki Spanyol juga tecermin dengan statistik apik di Piala Dunia. Mereka hanya kebobolan satu gol sejak fase grup. Selain itu, Tim Matador tidak terkalahkan dalam 37 pertandingan terakhir. Menyamai rekor Italia sebagai timnas yang cukup lama tak terkalahkan
Menariknya, di laga final Piala Dunia 2026, Spanyol akan berhadapan dengan tim yang memiliki daya magis. Tanpa perlu banyak taktik dari pelatih, Argentina selalu mendapatkan jawaban. Mulai dari lawan Tanjung Verde, Mesir, Swiss, hingga Inggris.
Satu nama yang bisa membuka gembok Spanyol adalah Lionel Andres Messi Cuccitini. Pemain sepak bola terbaik sepanjang masa itu bukan orang biasa. Pada usianya 39 tahun, Messi bisa menggendong timnya melawan Inggris. Dua assist-nya mampu membawa Argentina melaju ke final. Hal itu tidak mustahil dilakukan lagi saat melawan Spanyol.
Selain daya magis yang dimiliki Messi, ada 10 pemain di lapangan yang siap mati untuk membantu legenda hidup Argentina itu. Spanyol tidak bisa melakukan apa yang digunakan Inggris saat melawan Argentina. Menghadapi Messi, tim lawan harus memberikan 1.000 persen hingga peluit akhir dibunyikan.
Sebab, hanya dengan waktu 10 menit atau bahkan lima menit saja, momentum bisa berubah. Tidak banyak yang menyangka Messi yang kini berusia 39 tahun tetap bisa bermain cemerlang selama 90 menit lebih. Tak hanya bermain, dia juga membuat perbedaan dan memenangkan timnya.
Final Piala Dunia 2026 akhirnya akan menjadi pembuktian antara Benua Eropa dan Amerika Selatan. Seharusnya kedua negara sudah bertemu pada ajang Finalissima 2026. Namun karena geopolitik yang memanas, pertemuan kedua tim dibatalkan. Hingga takdir menemukan mereka di laga puncak Piala Dunia 2026. Siapa yang layak juara? Saya sudah tak sabar menantikan jawabannya. (*)
Editor : A. NugrohoSumber : Radar Malang