Tahun ajaran baru untuk anak-anak sekolah sudah berlangsung hampir sebulan. Perkuliahan untuk mahasiswa baru juga segera dimulai. Lalu lintas di Kota Malang pun dipastikan akan semakin padat pada hari-hari ke depan.
Selain siswa, mahasiswa luar kota banyak yang masuk ke kota ini untuk melanjutkan pendidikannya. Tak kurang, setiap tahun 60 ribu mahasiswa baru memenuhi kampus negeri maupun swasta. Sedangkan jumlah siswa barunya sekitar 26 ribu hingga 27 ribu.
Jika ditotal, jumlah mahasiswa yang berkuliah di kota ini sekitar 330 ribu dan jumlah siswa di seluruh jenjang sekitar 185 ribu. Sehingga, jika digabung ada sekitar 515 ribu siswa dan mahasiswa. Sebagian dari mereka berasal dari luar kota.
Itu jumlah yang tidak sedikit. Sebab, total jumlah penduduk Kota Malang saja pada 2025, berdasar data Ditjen Dukcapil Kemendagri, sebanyak 894.450 jiwa. Para siswa dan mahasiswa pendatang itulah, termasuk pekerja pendatang, yang membuat kota ini setiap hari bisa dihuni 1,5 juta jiwa.
Dengan luasan wilayah 110 kilometer persegi, butuh strategi khusus untuk mengelola mereka. Sebab, ibarat pisau bermata dua, keberadaan mereka bisa menjadi berkah tapi sekaligus musibah jika tidak bisa terkelola dengan baik.
Tapi, Pemerintah Kota Malang lebih melihat mereka sebagai potensi untuk mengembangkan kota ini menjadi lebih baik. Para siswa dan mahasiswa itu adalah aset masa depan bersama. Berikut seluruh lembaga pendidikan yang ada. Baik kampus, sekolah, pesantren, atau lembaga pendidikan yang lain.
Kita bersama telah mengetahui bahwa tantangan di era artificial intelligence (AI) alias kecerdasan buatan tidaklah ringan. Banyak hal-hal baru yang mengubah sama sekali peta kehidupan di dunia nyata. Cara belajar, cara bekerja, cara berbelanja, cara berkomunikasi, cara mengambil keputusan, dan berbagai hal lainnya.
Banyak yang telah diambil alih oleh AI sebagai produk dari revolusi teknologi informasi. Bila tidak siap, eksistensi kita bisa hilang tergilas oleh perubahan dunia yang begitu cepat. Dalam situasi demikian, kreativitas adalah salah satu kata kunci yang bisa menyelamatkan. Setidaknya begitulah pendapat para pakar.
Sam Altman, CEO OpenAI, menyebut bahwa kemampuan manusia untuk mengajukan pertanyaan yang tepat, memvalidasi konteks, serta menjaga "ruh" kreativitas dan pertimbangan etis akan menjadi keterampilan yang jauh lebih dihargai.
Itu senada dengan apa yang disampaikan Wamendikti Saintek Stella Christie. Bahwa kreativitas dan pola pikir manusia adalah kunci utama agar tidak tergerus oleh perkembangan teknologi.
Menyadari hal itulah, kami memasukkan kata kunci tersebut ke dalam Dasa Bakti Unggulan untuk Kota Malang. Misalnya, dalam Dasa Bakti Ngalam Pinter dengan menjadikan Malang Creative Center (MCC) sebagai ruang kolaborasi harian tempat bertemunya riset akademis sekolah, ide kreatif siswa, dan ekosistem kewirausahaan digital.
MCC merupakan pusat pengembangan kreativitas yang mempertemukan pelajar, mahasiswa, komunitas, startup, pelaku industri kreatif, dan pemerintah. Di sana rutin diselenggarakan pelatihan, inkubasi startup, workshop, dan pameran yang melibatkan institusi pendidikan berikut siswa maupun mahasiswa.
Dasa Bakti Ngalam Pinter itu sekaligus nyambung dengan Dasa Bakti Ngalam Asyik dan Ngalam Idrek. Melalui program Seribu Event yang menjadi bagian dari Ngalam Asyik, pelajar dan mahasiswa mendapat ruang yang luas untuk mengeksplorasi sekaligus menampilkan kreativitas mereka.
Muaranya adalah terciptanya ekosistem ekonomi kreatif di Kota Malang yang melibatkan seluruh komponen masyarakat di kota ini, termasuk pelajar dan mahasiswa. Mereka bisa mendapatkan penghasilan dari kreativitasnya yang terus diasah dan diberi ruang oleh pemerintah.
Jika kemudian ini mendapat penghargaan “Transformative Leader in Building Creative Ecosystems for Education” dari Jawa Pos Radar Malang dalam Anugerah Pendidikan 2026, tentu itu bukan hasil dari kerja saya pribadi. Melainkan buah dari kerja keras semua pihak yang telah mendukung perwujudan Dasa Bakti Unggulan yang menjadi misi saya bersama Sam Ali Muthohirin.
Karena itu, saya menyampaikan terima kasih kepada seluruh jajaran Pemkot Malang, para tokoh, hingga seluruh komponen masyarakat. Penghargaan ini adalah pelecut bagi kami untuk berbuat lebih baik lagi. Terutama untuk mengembangkan kreativitas warga Kota Malang yang dari dulu memang sudah dikenal kreatif. Terlebih, UNESCO juga telah mengganjar Malang sebagai kota kreatif dunia di bidang media arts. Rutam nuwus, Ker!
Dr Ir Wahyu Hidayat MM
Arek Mbareng, Wali Kota Malang 2025-2030
Editor : A. Nugroho