September 2024 lalu, di dalam pelukan Najwa Shihab, saya mendapat bisikan tentang realitas menjadi jurnalis. Kata dia, gaji jurnalis itu pas-pasan, jam kerjanya tak menentu. Belum lagi potensi diserang buzzer dan dianggap provokator sangat besar.
Bagi banyak orang, kata-kata dari jurnalis senior itu cukup realistis untuk dijadikan alasan mundur. Di sisi lain, sebagai Gen Z, saya juga kerap mendapat stereotip negatif. Generasi kami sering dinarasikan bermental stroberi dan gampang burn out.
Kami juga dinilai sangat menjunjung tinggi work life balance serta rentan terpapar penyakit kesehatan mental. Tipikal pekerja yang dihindari HRD saat mencari karyawan. Stigma rapuh yang dilekatkan pada Gen Z itu lahir dari kacamata yang timpang.
Media arus utama kerap memotret Gen Z hanya dari kelas atas yang punya pilihan mengurus kesehatan mental. Padahal masih ada Gen Z dari kalangan bawah yang tak punya kesempatan untuk bermental stroberi karena impitan ekonomi.
Ironisnya, stereotip rapuh itu kerap digeneralisasi seolah mewakili seluruh anak muda. Hingga membuat dunia jurnalistik dan karakter Gen Z tampak saling berseberangan. Namun bagi sebagian dari kami, termasuk saya, stereotip itu justru menjadi antitesis. Ada banyak celah yang bisa dimanfaatkan untuk membuktikan pekerjaan jurnalis sangat cocok dengan Gen Z.
Di balik rentetan stereotip itu, masih ada sisi positif dari Gen Z yang terlihat jelas. Banyak teman-teman kami sangat vokal dan peduli terhadap isu sosial. Di titik ini, menjadi jurnalis adalah langkah cerdas karena profesi itu memberi kunci master untuk mengakses seluruh kelas sosial tanpa batas.
Pada pagi hari, seorang wartawan bisa turun ke jalan mendengar langsung keresahan masyarakat kelas bawah. Siangnya dengan kartu pers yang sama, wartawan bisa masuk ke gedung pemerintahan dan menuntut solusi dari pemangku kebijakan. Privilese untuk menjembatani dua dunia itu menjadi salah satu bukti kemewahan menjadi jurnalis.
Belum lagi dampak sosial yang ditimbulkan tentu membuat jurnalis Gen Z mendapat kepuasan intelektual tersendiri. Seperti kepuasan saya saat mengawal isu sekolah rusak di rubrik pendidikan hingga berita menolak lupa Tragedi Kanjuruhan. Meski belum ada ukuran pasti sejauh apa berita itu dikatakan berdampak, ada perasaan lega ketika bisa menyuarakan keresahan sebagian besar warga.
Tak berhenti di situ, profesi wartawan juga memberi kami privilese berupa ruang belajar tanpa batas. Setiap hari, jurnalis Gen Z dipertemukan dengan narasumber lintas bidang yang bisa memperkaya cara pandang. Rasanya, liputan adalah bentuk sekolah kehidupan yang ideal: tetap belajar, tapi rutin dibayar.
Sebagai contoh, keuntungan itu terasa ketika saya mengawal rubrik pendidikan dan ekonomi bisnis. Berdiskusi intensif dengan otoritas keuangan hingga membedah pembelajaran bersama pakar pendidikan membuat wawasan saya jauh berkembang. Liputan itu bukan lagi sekadar menunaikan tugas redaksi, melainkan bentuk usaha transformasi diri untuk lebih melek finansial dan kritis terhadap dinamika sosial.
Menjadi wartawan juga berarti melatih mental agar tidak mudah terintimidasi oleh argumen kosong. Sebab, jurnalis terbiasa wawancara pakar, akademisi, hingga pejabat dan warga. Itu mengaktifkan sensor jurnalis untuk rutin menguji logika berpikir orang yang ditemuinya.
Kepekaan mental itu berpadu sempurna dengan ciri khas utama wartawan Gen Z yang lincah dalam dunia digital. Jurnalis generasi sebelumnya mungkin masih perlu beradaptasi dengan arus disrupsi media. Berbeda dengan Gen Z yang justru hidup dan bernapas di dalam ekosistem digital.
Napas digital itu senada dengan cara kerja media hari ini yang sudah berubah drastis. Semua orang bisa kapan saja mengunggah kabar melalui media sosial masing-masing. Untuk itu tuntutan kecepatan dan keakuratan informasi membuat dapur redaksi membutuhkan darah baru yang lebih lincah lagi.
Saat ini, industri media sedang mati-matian beradaptasi dengan era disrupsi agar tetap relevan di hadapan publik. Lantas Gen Z hadir sebagai solusi. Insting digital yang melekat karena bertumbuh dengan teknologi membuatnya secara alamiah tahu cara meramu informasi rumit menjadi konten yang bernyawa.
Tentu saja ruang redaksi bukan berarti tempat yang ramah bagi semua orang. Menjadi jurnalis di tengah industri yang compang-camping menuntut ketahanan mental yang tidak main-main. Sangat wajar jika sebagian anak muda lebih memilih jalan lain.
Tapi bagi Gen Z yang bertahan, jurnalisme menjadi laboratorium mental yang menempa mereka menjadi profesional tangguh. Pengalaman menguji logika, menembus batas kelas sosial, dan meracik kebenaran di tengah bisingnya informasi adalah bekal paling ampuh. Bahkan bagi mereka yang memilih keluar dari ruang redaksi.
Cara berpikir kritis, ketajaman analisis, dan insting mencari kebenaran itu tak mudah memudar. Seluruh pelajaran dari dunia jurnalisme membekali Gen Z untuk siap di dunia kerja apa pun. Di mana pun. Termasuk mengajarkan cara bertahan di sektor profesional tanpa risau dengan tekanan.
Pada akhirnya, banjir privilese di dunia jurnalistik membuktikan narasi miring tentang Gen Z tidak sepenuhnya akurat. Ruang redaksi membuktikan Gen Z mampu menjadi jurnalis yang tangguh, kritis, dan berdaya saing tinggi. Menjadi wartawan Gen Z bukan sekadar bertahan di tengah industri yang menantang, melainkan cara kami mematahkan keraguan di dunia kerja dengan ketangguhan karya dan berita. (*)
Editor : A. NugrohoSumber : Radar Malang