MSCI Bukan Nabi, Said Abdullah Soroti Dampak Keputusan terhadap Pasar Saham Indonesia

Andika Satria Perdana • Dipublikasikan Senin, 19 Oktober 2026 | 17:18 WIB
Said Abdullah
Said Abdullah

Pengumuman MSCI terhadap Bursa Efek Indonesia (BEI) memicu gejolak besar di pasar saham. Dalam perdagangan Jumat (16/10), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 11,57 persen dalam sehari. Sejumlah saham berkapitalisasi besar atau big cap dan blue chip ikut mengalami tekanan.

Ketua Badan Anggaran DPR RI Said Abdullah menilai keputusan MSCI perlu menjadi bahan evaluasi serius bagi otoritas pasar modal Indonesia. Namun, ia mengingatkan agar lembaga pemeringkat indeks tersebut tidak dipandang sebagai pihak yang selalu benar.

Said memahami bahwa MSCI membutuhkan informasi kepemilikan saham yang akurat, transparan, serta dapat digunakan investor untuk mengambil keputusan. Ia juga menilai tuntutan perbaikan tata kelola pasar modal merupakan hal yang wajar.

Menurut Said, Bursa Efek Indonesia, Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menjalankan sejumlah langkah perbaikan. OJK, misalnya, menaikkan ketentuan free float secara bertahap berdasarkan kapitalisasi pasar menjadi 15, 20, dan 25 persen serta menjatuhkan berbagai sanksi kepada pelaku pasar.

Dikutip dari tulisan Said Abdullah yang dimuat Radar Malang edisi Senin (19/10), ia mempertanyakan mengapa langkah perbaikan tersebut tidak mendapatkan apresiasi yang sama dari MSCI. Ia membandingkannya dengan FTSE Russell yang mempertahankan Indonesia dalam kelompok Secondary Emerging Market bersama sejumlah negara lain.

Said juga menyoroti risiko dampak keputusan MSCI terhadap kepercayaan investor dan pergerakan harga saham. Menurut dia, koreksi dari lembaga pemeringkat seharusnya menjadi bahan evaluasi, tetapi perlu disertai komunikasi yang jelas dengan otoritas pasar modal.

Ia menegaskan bahwa kritik terhadap MSCI tidak berarti menutup mata terhadap persoalan tata kelola pasar saham Indonesia. Transparansi kepemilikan saham, akses informasi investor, dan pengawasan pasar tetap perlu diperbaiki.

Said berharap hubungan antara MSCI dan otoritas pasar modal Indonesia berjalan secara terbuka dan saling menguntungkan, dengan tujuan memperbaiki kualitas pasar modal tanpa memicu gejolak yang tidak perlu.

Editor : Aditya N. Rian
Said Abdullah MSCI pasar saham indonesia Saham indonesia ekonomi