MALANG KOTA – Pemilu 2024 belum ”bersahabat” dengan para kader partai debutan.
Mereka masih kesulitan untuk bisa duduk di kursi legislatif Malang Raya.
Dari hasil sementara rekapitulasi suara yang masuk ke KPU, perolehan mereka masih terbilang minim.
Seperti di Kota Malang, ada tiga parpol baru yang ikut bertarung pada Pemilu 2024.
Yakni Partai Ummat, Gelora, dan Buruh.
Mengutip data sementara Sirekap KPU hingga pukul 16.30 kemarin (18/2), mayoritas perolehan suara caleg dari partai tersebut belum mencapai angka ratusan.
Hanya satu yang menembus 120 suara.
Yakni Suciami, caleg Partai Buruh untuk Daerah Pemilihan (Dapil) 3, Kecamatan Kedungkandang.
Namun angka itu masih jauh jika ingin mengamankan kursi DPRD Kota Malang.
Minimal caleg membutuhkan sekitar 14 ribu hingga 15 ribu suara untuk lolos dari Dapil Kedungkandang.
Pengurus DPC Partai Buruh Kota Malang Andreas Iwan menuturkan, dari enam caleg yang maju, pihaknya menargetkan ada satu caleg yang bisa tembus jadi anggota DPRD Kota Malang.
Namun saat ini dia belum berani memastikan apakah bisa mendapat satu kursi atau tidak.
”Kemungkinan ada satu, tapi kami belum bisa mengatakan itu pasti. Dapat kursi atau tidak akan terlihat pada tanggal 22 Februari,” tuturnya.
Sebagai partai baru, Andreas menuturkan bahwa modal atau dana menjadi kendala utama.
Akibatnya, kampanye yang dilakukan belum maksimal.
Seperti jumlah Alat Peraga Kampanye (APK) yang minim dan tidak bisa menggelar kegiatan kampanye dengan skala besar.
”Kami hanya mengandalkan sapa warga dari rumah ke rumah,” sambung Andreas.
Sementara itu, Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Ummat Kota Malang Mochammad Fauzan Zuhri mengaku pesimistis bisa mendapat kursi legislatif pada pemilu tahun ini.
Sebagai partai baru, Fauzan menganggap pemilu 2024 sebagai pijakan awal.
Lima tahun mendatang pihaknya akan lebih maksimal lagi untuk mendapatkan kursi di DPRD Kota Malang.
”Kami ingin menunjukkan eksistensi dulu dan Alhamdulillah mulai diperhitungkan,” terang Fauzan.
Sama seperti partai baru lain, kesulitan yang dihadapi adalah modal untuk kampanye.
Partai Ummat tidak melakukan kegiatan kampanye satu pun karena dana yang minim.
Di bagian lain, Dewan Pimpinan Nasional (DPD) Partai Gelora Kota Malang Jafar Tri Kuswahyono belum mau membuka suara terkait hasil DPRD Kota Malang.
Jafar mengaku menghormati perjuangan kader yang menunggu hasil di tingkat kecamatan.
”Kami belum berani memberikan kesimpulan. Teman-teman masih berjuang di kecamatan,” tandas Jafar.
Sulit Kejar Partai Lama
Kondisi yang sama juga terjadi di Kota Batu.
Partai politik baru belum menunjukkan tanda-tanda mampu merebut kursi legislatif pada pemilu kali ini.
Hasil penghitungan suara hingga tadi malam belum menunjukkan kepastian adanya caleg mereka yang bisa menjadi anggota legislatif.
Ada empat partai batu yang ikut berkontestasi di Kota Batu.
Yakni Partai garuda, Partai Buruh, Partai Gelora, dan Partai Ummat.
Pantauan Jawa Pos Radar Malang hingga pukul 19.30, rata-rata suara yang masuk dari empat dapil di Kota Batu sekitar 64,5 persen.
Artinya belum menunjukkan perolehan riil secara keseluruhan.
Jubir Partai Garuda Kota Batu Makbul Suseno mengatakan, pihaknya sudah melakukan segala upaya dalam mendapatkan suara pada kontestasi kali ini.
Partai Garuda menurunkan 6 daftar calon untuk empat dapil di Kota Batu.
”Hasil suaranya belum tau, karena masih dilakukan rekapitulasi di Kecamatan,” katanya.
Seno menargetkan 4 kursi untuk DPRD Kota Batu yang diupayakan dari masing-masing dapil.
Setelah melewati masa kampanye, dia menilai target itu tidak mudah dicapai.
Partai baru cukup kesulitan untuk melakukan penetrasi melawan partai yang sudah lama. Apalagi partai-partai besar.
”Partai baru atau partai kecil jelas kesusahan melawan partai besar. Dinamika politik yang terjadi memang seperti itu. Kebutuhan dana yang sangat besar menjadikan partai yang kecil harus pasrah,” tambahnya.
Data sementara KPU memang menunjukkan perolehan suara Partai Garuda di Kota Batu sangat minim.
Hanya 33 suara.
Sulit membayangkan pada sisa hitungan yang masih berjalan akan ada tambahan hingga ribuan suara.
Beda dengan partai besar yang perolehan suaranya sudah di atas belasan ribu.
Karena itu, Seno menganggap pemilu kali ini sebagai pelajaran penting.
Pihaknya akan membuat persiapan yang lebih matang untuk Partai Garuda saat mengikuti kontestasi pada ajang pemilu yang akan datang.
Misalnya, memperkenalkan visi misi partai secara lebih masif ke masyarakat.
Lalu mengenalkan setiap kader dengan lebih intens.
”Yang pasti mengajak masyarakat untuk berjalan bersama kami untuk membangun bangsa nanti,” ungkap Seno.
Perolehan partai baru lainnya juga masih belum menjanjikan.
Misalnya partai Gelora yang menurunkan 19 calon legislatif untuk 4 dapil.
Untuk sementara mereka meraup 1.036 suara.
Sedangkan partai Buruh yang menurunkan dua caleg juga baru mengumpulkan 542.
Lalu, partai Ummat yang menurunkan 4 caleg di 3 dapil di Kota Batu, perolehan suara sementaranya tercatat 602.
Masih harus menunggu seluruh rangkaian rekapitulasi tuntas untuk mengetahui nasib caleg-caleg partai tersebut.
Satu yang cukup menarik perhatian, ada satu caleg partai baru yang perolehannya suaranya sudah mencapai 885 suara.
Dia adalah Fauzi Very Sandi, caleg Partai Gelora yang bertarung di Dapil 3 Kota Batu.
Namun perolehan itu masih jauh dari harga satu kursi yang berada di kisaran 2.000 hingga 2.500 suara.
Terpisah Ketua KPU Kota Batu Heru Joko Purwanto mengatakan, suara yang masuk masih dalam proses rekapitulasi.
”Untuk suara masuk, termasuk DPR RI masih kami rekap sampai tanggal 23 nanti. Tetapi kemungkinan Senin sudah ada satu dapil yang selesai,” terangnya.
Juga Kesulitan Siapkan Saksi
Kendala modal juga menjadi alasan parpol di Kabupaten Malang sulit bersaing.
Menurut data sementara di Sirekap KPU pada pukul 17.30 kemarin (18/2), perolehan suara caleg dari tiga partai itu mayoritas masih di angka ratusan.
Hanya satu caleg yang memperoleh suara 1.019.
Yakni caleg nomor urut satu dari Partai Gelora Daerah Pemilihan (Dapil) 2 Sholehudin.
Dapil tersebut meliputi Kecamatan Dampit, Ampelgading, Turen, dan Tirtoyudo.
Ketua DPD Partai Gelora Sunawi mengakui, memang cukup berat bagi partainya untuk mendapatkan kursi di DPRD Kabupaten Malang.
Sebab, pihaknya sudah kalah modal dengan partai-partai lain.
Dari hasil rekapitulasi sementara, perolehan suara partai pun masih jauh dari suara minimum yang harus diperoleh.
“Per dapil, perolehan suara memang berbeda. Sebagai contoh, kalau di Dapil 6 mem[1]butuhkan sekitar 12.500 suara parpol,” kata dia.
Dapil 6 tersebut meliputi Kecamatan Pakis, Singosari, dan Lawang.
Sedangkan saat ini, suara partainya yang diperoleh di Dapil 6 mencapai 425 orang.
Secara keseluruhan, perolehan suara sementara dari Partai Gelora mencapai 4.678 suara.
Sebelumnya, Partai Gelora menargetkan tujuh kursi.
Masing-masing dapil terdapat perwakilan satu kursi. Namun target tersebut tampaknya belum bisa terealisasi.
Salah satu kendalanya adalah minim dana kampanye yang mengandalkan dana dari internal partai.
Sehingga, partainya pun tidak bisa melaksanakan kampanye besar-besar.
“Kami hanya memaksimalkan kampanye secara door to door,” kata dia.
Pemenuhan kader-kader untuk menjadi saksi di Tempat Pemungutan Suara (TPS) pun sulit.
Sehingga, pihaknya tidak bisa menyediakan saksi di tiap TPS, melainkan cukup di masing-masing kecamatan.
Jika ditotal, Partai Gelora menyiapkan 66 saksi.
Masing-masing kecamatan terdapat dua saksi. (adk/yun/pri/fat)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana