Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Daftar Nama Kandidat yang Digosipkan Maju Pilwali Kota Batu, Ada N2 dari Kabupaten Malang!

Fathoni Prakarsa Nanda • Rabu, 24 April 2024 | 20:20 WIB
Photo
Photo

BATU – Bursa calon kepala daerah Kota Batu mulai menghangat.

Sejumlah nama mulai dimunculkan untuk menguji elektabilitas maupun respons masyarakat.

Partai politik juga sudah melakukan penjajakan koalisi, baik untuk memenuhi persyaratan ambang batas pencalonan maupun memperkuat persaingan.

Untuk sementara, kontestasi memperebutkan jabatan wali kota dan wakil wali kota Batu diperkirakan membentuk tiga poros.

Yakni poros Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Poros Partai Demokrasi Indonesia (PDIP), dan satu poros lagi yang untuk muncul harus melakukan koalisi.

PKB yang memiliki enam kursi hasil Pemilu Legislatif 2024 bisa mengusung calon sendiri tanpa koalisi.

Satu kandidat yang santer diberitakan untuk dicalonkan adalah Ketua DPC PKB Kota Batu Nurochman.

”Jika saya mendapatkan perintah dan tugas dari partai, sebagai kader saya siap,” ujarnya.

Meski bisa mengusung kandidat sendiri, PKB membuka wacana untuk melakukan koalisi.

Kabarnya, Nurochman akan digandengkan dengan kader PKS, yaitu Ludi Tanarto. Nurochman bahkan sudah mengiyakan kabar tersebut.

PKS memiliki lima kursi di DPRD Kota Batu.

Jika digabung dengan PKB, maka koalisi tersebut memiliki 11 kursi.

Mengacu pada pemilu legislative lalu, gabungan perolehan suara mereka mencapai 45.586, atau sekitar 30 persen dari DPT Kota Batu.

Angka tersebut masih bisa bertambah jika ada partai lain yang bergabung plus memanfaatkan swing voter.

”Saya juga sudah mendengar wacana dan hitung-hitungan semacam itu. Tapi ini masih tahap awal. Semua partai bisa saling berkomunikasi,” tambahnya.

Sementara itu, Ludi Tanarto juga membenarkan adanya embrio koalisi antara PKB dengan PKS. Namun, dia masih menunggu instruksi dari DPC PKS untuk pencalonan tersebut.

Apalagi masih ada proses internal partai yang harus dilalui.

Seperti pemilihan raya (pemira) dan persetujuan dari DPD dan DPP PKS.

Jika rencana koalisi itu terealisasi, Ludi tidak mempermasalahkan apakah dirinya dicalonkan sebagai wali kota atau wakilnya.

Yang penting semua proses harus dilalui terlebih dulu.

”Nanti kalau ketemu dan punya tujuan serta arah yang sama, kita bisa berkoalisi,” katanya.

Sementara itu, poros kedua bakal lahir dari PDIP.

Bahkan, partai berlambang banteng itu pernah melontarkan lebih dari satu nama potensial.

Yakni Dewanti Rumpoko (mantan wali kota Batu), Punjul Santoso (mantan wakil wali Kota Batu sekaligus ketua DPC PDIP Batu), Didik Gatot Subroto (wakil Bupati Malang sekaligus Ketua DPC PDIP Kabupaten Malang) dan Krisdayanti (diva sekaligus anggota DPR RI).

Dari empat nama itu, saat ini yang disebut memiliki peluang kuat adalah Punjul dan Didik.

Sebab, Dewanti akan diarahkan untuk bersaing di pemilihan wali kota Malang.

Sementara Krisdayanti masih diharapkan memberikan kontribusi pada partai politik di level nasional.

Punjul dinilai layak ”naik kelas” karena sudah dua periode menjadi wakil wali kota mendampingi keluarga Rumpoko.

Sedangkan Didik diwacanakan bersaing di Kota Batu lantaran di Kabupaten Malang sudah ada Sanusi (bupati petahana yang akan dicalonkan PDIP).

Didik sendiri sudah secara tersirat menyatakan siap untuk Pilkada Kota Batu.

”Insya Allah, sebagai kader saya siap jika mendapatkan penugasan di Kota Batu,” ujarnya beberapa hari lalu.

Bekal Didik di pemerintahan memang tidak bisa diremehkan.

Ia memulai dari tingkat bawah, seperti menjadi kepala desa, kemudian berpengalaman di DPRD, hingga menjadi wakil bupati.

Bahkan dia mengaku sudah ada pembahasan tentang pasangan calonnya.

”Sudah dibicarakan, tunggu saja perkembangannya,” imbuhnya.

Bergantung Koalisi Poros terakhir bisa diinisiasi oleh Partai Gerindra atau Partai Golkar yang sama-sama memiliki empat kursi.

Partai yang baru saja memimpin koalisi untuk mengantarkan Prabowo Subianto menjadi Presiden RI itu sudah menyiapkan kandidat untuk Pilkada Batu.

Yakni Ketua DPC Partai Gerindra Kota Batu Heli Suyanto.

Namun karena Gerindra memiliki 4 kursi di DPRD Kota Batu, Heli membutuhkan tambahan dua kursi dari partai lain.

Dia mengatakan bahwa proses penjajakan membangun koalisi sedang dilakukan.

Misalnya dengan PAN yang memiliki dua kursi, dan Demokrat (satu kursi).

Bahkan bisa juga berkoalisi dengan Partai Golkar.

Jika melihat pengalaman Pilkada 2012 dan 2017, Kota Batu selalu diwarnai persaingan empat pasangan calon.

Yakni tiga pasangan calon dari partai politik dan satu pasangan dari jalur independen.

Pada 2017, PDIP mampu memenangkan kontestasi tanpa koalisi.

Namun hal itu tidak akan mudah terulang pada pilkada tahun ini.

Sebab, kekuatan PKS, PKB, dan Partai Gerindra berkembang pesat pada pemilu legislatif lalu.

Sedangkan untuk calon dari jalur independen, hingga kini belum ada nama yang mencuri perhatian.

Sempat muncul figur ketua PHRI (Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia) Sujud Hariadi.

Namun dia sudah membantah isu tersebut. ”Saya mau fokus di Selecta (taman wisata) saja,” kata Sujud.

Tantangan untuk maju melalui jalur independen memang tidak mudah.

Untuk mendaftar saja, kandidat harus mengumpulkan bukti dukungan masyarakat sebanyak 10 persen dari DPT Kota Batu.
Gambarannya adalah sekitar 16 ribu salinan KTP warga Kota Batu yang memiliki hak pilih. (pri/fat)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#Kota Batu #calon wali kota #wali kota batu