Rebutan Dukungan, Kuda Hitam Calon Wali Kota Gencar Cari Partai untuk Pilwali Kota Malang
Fathoni Prakarsa Nanda• Rabu, 3 Juli 2024 | 18:27 WIB
Sofyan Edi Jarwoko
Dari Jalur Independen maupun Koalisi Partai Politik
MALANG KOTA – Pemilihan Wali (Pilwali) Kota Malang juga memunculkan figur populer yang disebut-sebut sebagai kuda hitam.
Nama-nama kuda hitam itu sudah sering dibicarakan, tapi masih punya pekerjaan berat untuk mencari partai politik pengusung di Pilwali Kota Malang.
Di antaranya, Sutiaji (Wali Kota Malang 2018-2023), Sofyan Edi Jarwoko (Wakil Wali Kota Malang periode 2018- 2023), dan Heri Cahyono (kandidat jalur independen yang sedang berjuang meloloskan syarat pendaftaran).
Sebagai incumbent, nama Sutiaji jelas sangat populer di Kota Malang.
Jajak pendapat Lembaga Survei Indonesia (LSI) Mei lalu bahkan menempatkan popularitas pria kelahiran Lamongan itu pada peringkat ketiga Namun, hingga saat ini Sutiaji masih menimbang kendaraan politik yang kemungkinan bisa mengusung dirinya.
Pada Mei lalu, Sutiaji dikabarkan menjalin komunikasi dengan mantan lawannya pada Pilkada 2018, yaitu Yaqud Ananda Gudban, Yaqud merupakan mantan Ketua DPC Hanura Kota Malang.
Selain itu, Sutiaji juga masuk dalam radar PDIP Kota Malang.
Ketua DPC PDI-P Kota Malang I Made Riandiana Kartika menjelaskan, Sutiaji merupakan satu di antara 28 kandidat kepala daerah yang dijaring partainya.
Berdasar instruksi DPP PDIP, 28 nama itu akan disurvei untuk mengetahui calon mana yang memiliki elektabilitas paling tinggi.
”Hasil survei akan menjadi pertimbangan DPP menentukan rekomendasi,” terangnya.
Namun, Sutiaji tampaknya harus berusaha ekstra untuk mendapatkan rekomendasi partai dengan simbol kepala banteng itu.
Sebab, PDIP dikabarkan mematok kursi calon wali kota untuk kader internal.
Sedangkan calon wakil wali kota bisa dari partai atau figur lain.
Sementara itu, sosok kedua yang juga dinilai menjadi kuda hitam adalah Sofyan Edi Jarwoko.
Sutiaji
Selain menyandang status sebagai mantan Wakil Wali Kota Malang periode 2018 – 2023, saat ini dia menjabat sebagai Ketua DPD Golkar Kota Malang.
Sofyan juga pernah menjadi anggota DPRD Kota Malang.
Nama Edi sempat menjadi satu-satunya kandidat yang akan dicalonkan oleh Partai Golkar.
Belakangan muncul dua kandidat lain yang juga berpeluang mendapat tiket rekomendasi dari Golkar.
Yakni Pj Wali Kota Malang Wahyu Hidayat dan Adanya Syahreza.
Juru bicara DPD Golkar Kota Malang Eddy Widjanarko mengakui ada dua figur di luar kader partai yang masuk penjajakan.
Tapi, berdasar keputusan terakhir DPP Partai Golkar, rekomendasi calon Wali Kota Malang masih dipegang Sofyan Edi.
”Penjajakan nama baru itu normal saja karena memang situasi politik dinamis.
Tetapi kami masih berpegang teguh bahwa Pak Sofyan Edi menjadi calon wali kota dari Golkar,” terangnya.
Tantangannya adalah mencari partner koalisi partai pengusung karena Golkar hanya memiliki enam kursi di DPRD Kota Malang.
Masih butuh tambahan tiga kursi dari parpol lain.
”Kalau dari Golkar tetap memprioritaskan kader untuk menjadi pemimpin Kota Malang,” tandasnya.
Tantangan Berbeda Upaya Heri Cahyono untuk menjadi calon Wali Kota Malang masih terkendala.
Sebagai calon dari jalur perseorangan, syarat bukti dukungan yang diserahkan ke KPU dianggap kurang atau tidak memenuhi syarat.
Kini, kandidat kuda hitam itu sedang berjuang lewat sidang ajudikasi Bawaslu Kota Malang.
Meskipun maju lewat jalur independen, nama hari yang menggunakan julukan Sam HC cukup populer di kalangan masyarakat.
Survei LSI Mei lalu menempatkan popularitas dirinya pada peringkat dua.
Sam HC juga pernah menjadi calon Bupati Malang pada 2020 lalu.
Saat dikonfirmasi, Heri Cahyono mengaku masih fokus untuk menyelesaikan sidang di Bawaslu.
Dia optimistis bisa memenangkan perkara melawan KPU dengan bukti-bukti yang cukup kuat.
”Fokus sidang dulu. Maju lewat parpol juga masih memungkinkan,” terangnya.
Ketua DPD Partai Nasdem Kota Malang Abdul Hanan menyampaikan, Sam HC pernah berkomunikasi dengan pihaknya.
Tetapi, hingga saat ini masih belum melakukan pendaftaran secara resmi.
“Kami membuka peluang hingga Agustus,” tuturnya.
Menurut Hanan, Partai Nasdem membuka peluang bagi semua pihak untuk mendaftar menjadi calon kepala daerah.
Sebelumnya sudah ada beberapa pendaftar lain.
Seperti Ardantya Syahreza, Mochamad Anton atau Abah Anton, Supandi, Muhammad Karis, dan Tabrani.
Tes Ombak Pemerhati politik dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Prof Dr Wahyudi Winarjo menyebut Ketua DPP PSI Ali Mutohirin juga bisa menjadi kuda hitam jika mendapatkan koalisi partai pengusung.
Sosoknya sudah terlihat di beberapa banner dan angkutan kota.
Selain petinggi PSI, Ali juga merupakan pengusaha dan masih muda.
Dengan melihat pola persaingan pilkada yang punya kemungkinan mengadopsi pemilu nasional, Ali dinilai memiliki peluang bergabung dengan koalisi pendukung pemerintahan.
Atau menggandeng parpol yang pada Pemilu Presiden 2024 memenangkan pasangan Prabowo-Gibran.
”Bisa saja Ali Mutohorin berpasangan dengan Wahyu Hidayat,” ujarnya.
Saat dikonfirmasi, Ali Mutohirin mengakui sedang berusaha ikut dalam kontestasi Pilwali Malang.
Selain sebagai kader PSI, keinginan membangun Kota Malang juga didorong Ketua Umum PSI Kaesang Pangarep.
”Mas Ketum memiliki keinginan dan target agar PSI yang dapat kursi menjadi prioritas di Pilkada,” terangnya.
Ali mengaku sejauh ini sudah berkomunikasi dengan semua partai.
Terutama partai yang ada dalam Koalisi Indonesia Maju (pengusung Prabowo-Gibran).
“Termasuk dengan Pj Wali Kota Malang Wahyu Hidayat. Saya melihat sebagai birokrat kariernya bagus dan berpengalaman,” tuturnya.
Ditanya potensi duet bersama Wahyu Hidayat, Ali menyatakan dirinya siap berpasangan dengan siapa pun.
Dalam waktu dekat, Ali juga berencana sowan ke Moch. Anton.
Komunikasi dengan semua pihak penting dilakukan untuk bersama-sama membangun Kota Malang.
Di tempat lain, pemerhati politik dari Universitas Brawijaya Adhi C Fahadayna berpendapat masih banyak kandidat yang seharusnya bisa meramaikan Pilwali Malang.
Di antaranya, Moreno Soeprapto, Ahmad Fuad Rahman, dan Dwi Hari Cahyono.
”Mereka aktif memperkenalkan diri ke masyarakat,” ucapnya.
Tinggal kunci terakhir, apakah para kandidat itu bisa mendapat parpol pengusung atau tidak. (adk/mel/fat)