Tiga Pasangan Calon Walikota Batu Bersaing Kelola Sampah, Wisata, dan Pertanian
Fathoni Prakarsa Nanda• Jumat, 27 September 2024 | 23:00 WIB
Grafis jurus paslon atasi tiga problem Kota Batu.
Tiga Paslon Pilkada Kota Batu Siapkan Program Andalan
BATU – Sebelum berebut suara pemilih Kota Batu, tiga pasangan calon (paslon) yang akan berkontestasi sudah menyusun program unggulan.
Masing-masing ingin memecahkan tiga persoalan utama untuk mendukung pembangunan kota wisata itu.
Yakni, penanganan sampah, pengembangan pertanian, dan pariwisata.
Kota Batu memang memiliki banyak PR untuk menuntaskan problem sampah.
Berdasar data DLH Kota Batu, Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Tlekung hanya bisa menampung 30 ton sampah per hari.
Itu pun khusus dari 21 ruas jalan di bawah naungan pemerintah.
Sementara, 40 ton sampah diserap oleh TPS3R.
Sisanya dikelola oleh pihak ketiga. Diperkirakan 2 ton sampah di buang ke sungai per bulan.
Pengelolaan TPS3R di desa atau kelurahan juga belum menyeluruh.
Masih ada enam desa yang belum memiliki TPS3R.
Calon wali kota (cawali) nomor urut 1 Nurochman berjanji akan menangani masalah sampah dengan mendirikan BUMD.
Dengan cara itu, sampah di Kota Batu dapat dikelola menjadi kegiatan bisnis.
“Jika hanya mengandalkan dinas, mereka tidak bisa bergerak di sektor bisnis. Padahal potensi sampah sangat luar biasa,” katanya.
BUMD dianggap lebih leluasa mengubah sampah menjadi sesuatu yang bernilai ekonomis.
Misalnya menjadi paving, pupuk, dan kompos.
Apalagi di Kota Batu banyak lahan pertanian yang bisa disinergikan.
“Perusahaan itu akan menjawab semuanya. Selain mengelola sampah juga akan membuka lapangan pekerjaan,” jelasnya.
Di sektor pertanian, Nurochman mengaku mempertimbangkan luas lahan yang terus menipis.
Data Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Batu menunjukkan luas lahan pertanian apel tinggal 900 hektare.
Total produksinya 218.622 kuintal per tahun.
Lahan padi juga turut menyusut dari 200 hektare pada 2023 menjadi 184 hektare pada 2024.
Bersama Heli Suyanto, dia sepakat juga membuat BUMD di bidang pertanian.
Fungsinya cukup banyak.
Bisa membeli produk pertanian agar harga tidak dipermainkan.
Bisa juga sebagai jembatan kerja sama para petani dengan pihak luar.
Termasuk Ibu Kota Nusantara (IKN) yang membutuhkan suplai hasil pertanian.
“Ketika harga jatuh akibat panen raya, pemerintah akan membeli hasil pertanian dari petani di atas harga rata-rata dengan subsidi. Kemudian menyalurkan ke daerah lain. Itu akan menyeimbangkan harga pasar,” ucapnya.
Pihaknya juga berencana me-recovery lahan pertanian apel.
Namun hal itu butuh waktu yang panjang dan harus ada uji lab serta kajian.
Upaya recovery jelas membutuhkan anggaran yang banyak dan harus mendapat bantuan dana dari pusat.
“Karena kami akan menyewa lahan petani yang di-recovery agar petani tak merugi,” ujarnya.
Ke depan Cak Nur berjanji menggandeng petani milenial.
Hal ini untuk mengubah cara bertani dari pola konvensional menjadi modern.
Salah satu contohnya adalah petani milenial di Desa Sumber Brantas yang telah mengembangkan Laboratorium Kultur Jaringan untuk menghasilkan bibit kentang granola lembang.
Sementara untuk sektor pariwisata, pihaknya berjanji meningkatkan pengelolaan di desa wisata dengan potensi masing-masing.
Termasuk mewujudkan program satu produk unggulan tiap satu desa.
“Ciri khas desa melalui produk akan meningkatkan sektor pariwisata. Utamanya jika ada workshop tersendiri,” ungkapnya.
Inovasi Gumelar
Bagi Firhando Gumelar, masalah sampah di Kota Batu perlu diselesaikan dengan pemberdayaan masyarakat.
Program daur ulang bisa mengurangi sampah yang masuk ke TPA sekaligus bernilai ekonomis.
Untuk sampah landfill yang saat ini sudah ada di TPA, Mas Gum (sapaan akrabnya) sudah siapkan langkah-langkah baru dan berkelanjutan.
Gunung sampah akan dijadikan energi listrik.
Bisa juga menjadi bahan siap guna seperti menjadi batu bata hingga pasir untuk pembangunan.
“Intinya adalah bagaimana sampah ini bisa berubah menjadi sesuatu yang bernilai. Utamanya untuk ekonomi, pembangunan, dan masyarakat,” jelasnya.
Yang tak kalah penting, pengelolaan sampah harus menggunakan teknologi mutakhir, efisien, dan ramah lingkungan.
Model itu bisa menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan Kota Batu.
“Kami juga membuat program pahlawan ekologi. Mereka yang berperan aktif menjaga kebersihan kota akan diapresiasi serta diberi insentif. Sehingga akan mendorong semangat masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang sejuk dan bersih,” ucapnya.
Di sektor pertanian, Mas Gum merencanakan inovasi Layanan Among Tani Satu Atap.
Pemerintah Kota Batu akan menjadi leader dalam pembentukan pusat riset dan informasi.
Bahkan ikut andil dalam monitoring stabilitas harga jual dan pemasaran hasil tani.
“Kami ingin petani di Kota Batu ini pendapatannya meningkat. Caranya dengan mengoptimalkan hasil pertanian berbasis teknologi sehingga kualitas dan kuantitasnya meningkat,” ujarnya.
Bersama H Rudi, dia telah menyiapkan konsep pembangunan Agribisnis Center.
Fungsinya membantu petani, peternak, hingga pengusaha di bidang agribisnis dalam meningkatkan kualitas hasil pertanian.
Fasilitas itu juga bisa membantu petani memasarkan produk mereka ke wilayah yang lebih luas.
Untuk pengembangan wisata, Gumelar-Rudi ingin selaras dengan, ekonomi, manusia, dan alam.
Dia berharap Kota Batu menjadi kota wisata yang naik kelas.
”Kami sudah membuat blueprint serta timeline menuju ke sana. Jadi bisa diterapkan,” ungkapnya.
Beberapa di antaranya adalah pengembangan kawasan sport tourism.
Kota Batu sangat memungkinkan untuk itu karena dukungan alam yang luar biasa.
Kemudian juga ada distrik kreatif dan pusat inovasi Kota Batu.
Kawasan kreatif akan dibangun untuk seniman dan perajin lokal.
”Kami juga ingin menggencarkan festival budaya dengan menampilkan produk lokal. Seperti batik banteng, apel celup, serta seni tari tradisional. Termasuk menjadikan desa-desa sebagai destinasi wisata yang unik, terintegrasi, dan berbudaya,” tandasnya.
Jaringan Nasional Kris Dayanti
Paslon Kris Dayanti - Kresna Dewanata Phrosakh menilai APBD Kota Batu tidak cukup untuk menuntaskan masalah sampah, pertanian, dan wisata.
Butuh akses ke pemerintah pusat untuk mendapat bantuan dana APBN.
Kris Dayanti yakin bisa melakukan itu.
Di Kota Batu terdapat dua tempat publik yang kurang pemanfaatannya kurang optimal.
Pertama adalah Alun-Alun Batu.
Ikon utama kota itu memiliki potensi untuk menarik wisatawan.
Tapi daya tampungnya kurang besar.
”Ke depan akan kami revitalisasi. Bisa dengan segera menggarap bianglala dan perluasan area,” ujar Kris Dayanti saat ditemui wartawan koran ini.
Fasilitas kedua yang akan adalah Stadion Ganesha.
Sejak dulu, bangunan empat lantai itu tidak pernah dimanfaatkan dengan baik.
Ke depan bisa digunakan untuk UMKM di lantai pertama, kemudian lantai kedua untuk spot seni, lantai ketiga sport center, dan lantai keempat spot pengembangan minat dan bakat masyarakat.
Revitalisasi jelas membutuhkan dana tidak sedikit.
Tidak bisa mengandalkan APBD Kota Batu.
Solusinya dengan memanfaatkan jaringan Kris Dayanti di pemerintahan pusat untuk mendapat bantuan APBN.
Paslon yang menggunakan akronim Krida itu juga ingin mengembangkan desa wisata.
Salah satunya melalui festival desa dengan melibatkan artis nasional dan influencer.
Tujuannya agar lebih efektif dalam berpromosi.
Pendidikan vokasi khusus pariwisata juga perlu dihadirkan sebagai dukungan bagi masyarakat untuk mengelola pariwisata lebih profesional.
Untuk sektor pertanian, Kris Dayanti menilai penyempitan lahan apel sebagai masalah krusial.
Kualitas maupun kuantitas produksinya pun menurun.
Dia ingin menyuburkan kembali lahan pertanian dengan menetralkan tanah dari pengaruh pestisida.
Kemudian para petani juga diberi akses teknologi pertanian yang lebih mudah.
Gambaran sementara Kris Dayanti, dua hal di atas membutuhkan biaya yang sangat mahal.
Lagi-lagi tidak bisa hanya mengandalkan APBD Kota Batu.
Terkait penanganan sampah, KD berjanji melakukan pengelolaan berkelanjutan dengan mengutamakan TPS3R di masing-masing desa.
Untuk sampah yang tidak bisa ditangani TPS3R akan dikelola dengan teknologi modern.
”Sudah ada sekian tempat yang akan disiapkan untuk pengelolaan itu,” tandasnya. (sif/aff/fat)