Ini menjadi program baru di Unisma. Jumat Bersarung namanya.
Program ini di-launching Rektor Unisma Prof. Dr Maskuri Bakri, Msi dan para wakil rektor hari ini.
Di mana total ada sekitar 800 dosen dan karyawan Unisma yang mengenakan seragam baru tersebut. Rinciannya, sekitar 500 dosen dan 300 karyawan. “Dan harus mengenakan sepatu slop. Jumat bersarung ini akan berjalan di hari jumat selanjutnya,” kata Prof Maskuri.
Menurutnya, program tersebut akan menjadi salah satu identitas Unisma yang tidak dimiliki kampus lain. Karena Unisma didirikan oleh para kiai dan cendekiawan muslim yang sangat dekat dengan dunia pesantren. “Maka tradisi ini harus dipertahankan sebagai tradisi Indonesia, tradisi pesantren, dan tradisi umat islam nusantara,” terang pria asal Kabupaten Tuban ini.
Tak hanya itu, lanjutnya, nanti jika pembelajaran sudah normal atau mahasiswa sudah mengikuti pembelajaran di kampus, mereka juga diwajibkan seperti halnya dosen dan karyawan. Di mana hal ini juga terinspirasi dari kampus-kampus besar islam di timur tengah, sperti Umul Quro dan Al Azhar. “Nanti para mahasiswa juga wajib mengikuti kalau sudah masuk seperti biasa,” ungkapnya.
Hanya saja, masih kata dia, kampus tidak mewajibkan sarung untuk mahasiswa luar negeri yang non-muslim. Karena tahun ini Unisma menerima mahasiswa dari 15 negara di dunia. “Kalau mahasiswa asing yang non muslim kami tidak wajibkan. Kalau jumlahnya (yang non-muslim) sekitar 10 sampai 20 orang,” terang pria yang tinggal di Malang sejak tahun 1987 ini.
Pewarta: Imam Nasrodin Editor : Mufarendra