Permintaan rektor Unisma ini disampaikan saat berkunjung ke Pondok Pesantren Tahfidzul Qur'an LP3IA Rembang, Jawa Tengah, yang diasuh Gus Baha’, hari ini (31/8). Selain rektor, para pengurus yayasan, dekan, dosen, dan karyawan ikut ngaji bareng di pesantren kiai yang lagi viral ini.
Menurut Prof Maskuri, banyak masyarakat di Malang yang sudah menunggu kedatangan ulama NU sekaligus Rois Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tersebut.
“Hadratussyaikh KH Hasyim Asyari pernah dawuh, sopo wonge sing ngurip-uripi NU (siapa saja orang yang menghidup-hidupi NU), termasuk Unisma, insya Allah uripe (hidupnya) akan berkah. Tapi akan lebih (berkah) lagi jika Gus Baha’ mau ke Unisma,” canda Prof Maskuri yang langsung disambut tawa hadirin.
Kegiatan bertema ‘Dialektika Islam dan Kebangsaan: Tafsir Islam Damai untuk Keharmonisan” ini berlangsung gayeng dan penuh makna keilmuan. Rektor Unisma menyampaikan, disamping silaturahmi, Unisma juga mengaji kepada guru yang sanad keilmuannya tepat dan muttasil. Sehingga, Unisma tidak semata-mata menghadirkan kiai, tapi juga mendatanginya.
“Sebenarnya, sudah lama kami ingin mengaji kepada beliau (Gus Baha’), Alhamdulillah baru saat ini Allah memberikan kesempatan,” kata pria kelahiran Kabupaten Tuban ini.
Sementara itu, Gus Baha’ dalam ngaji bareng itu menyampaikan bahwa Indonesia kedatangan Islam tidak pernah dipertentangkan antara Islam dan negara. Sehingga, diskusi tersebut sudah salah, karena para wali tidak pernah mempertentangkan Islam dan keindonesiaan (kebhinekaan).
“Para wali itu misinya dakwah. Di mana-mana dakwah itu pasti ketemu yang berbeda. Mulai beda agama, pilihan madzhab, dan tradisi. Jadi, tidak perlu dipertentangkan, tapi malah jadi lahan dakwah,” jelas Gus Baha’.
Pewarta: Imam Nasrodin Editor : Editor : Hendarmono Al S.