Sudah jamak jika dampak virus pandemi membawa dampak ke segala lini. Termasuk petani sayuran juga merugi. Karena hasil panen tidak bisa didistribusikan. Harga anjlok. Ini pula yang dirasakan petani di Desa Precet, Dau, Kabupaten Malang. Padahal mayoritas penghasilan warga dari jualan hasil sayur.
Melihat fenomena itu, kelompok 20 yang dipandegani Achmad Nashichuddin, Ria Dhea dan Heni Widayani, menganggap kebutuhan warga adalah bagaiamana mengolah sayuran yang tidak terjual itu. Maka harus ada pelatihan bagaimana petani mengolah dan pengemasan sayuran pasca panen menjadi hal yang bernilai jual tinggi.
Pengolahan dan pengemasan sayuran segar diharapkan dapat membuat sayuran hasil panen dapat awet untuk waktu yang lebih lama. Sehingga sayuran lokal dari petani Precet ini tetap bisa dipasarkan secara lebih luas.
Tidak cukup hanya pelatihan teknis pengolahan sayuran, tapi warga, oleh kelompo 20 ini juga diberi pemahaman dengan mengubah stigma negatif tentang kandungan gizi minim pada sayuran beku. Selama ini, stigma petani, sayuan yang dibekukan tidak bergizi. Padahal pandangan ini salah.
Memang, sayuran beku di Indonesia belum populer seperti di negara-negara maju. Di negeri ini s hanya dijumpai di supermarket. Apabila melihat merek sayuran beku di supermarket pun masih belum bervariasi dan masih didominasi merek-merek tertentu. Hasil riset yang dilakukan oleh Linshan Li, dkk tahun 2017 makanan yang dibekukan mengandung gizi yang sama seperti makanan segar apabila dilakukan dengan proses dan penyimpanan yang benar.
Untuk memberikan pelatihan ini, pada Sabtu, 29 Agustus 2020, kelompok 20 menghadirkan 20 warga dari kader PKK Desa Precet di Balai RW. Acara tetap digelar dengan menerapkan protokol kesehatan ketat. Peserta workshop wajib menggunakan hand sanitizer, bermasker dan jaga jarak. Tim dari UIN juga membagikan masker kepada peserta. Acara itu dibuka Dr Syaiful Mustofa MPd, Kepala Pengabdian LP2M (Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat) UIN Malang.
Penyerahan alat workshop secara simbolis dari tim pengabdi kepada Ketua PKK Dusun Precet dilakukan sebagai langkah nyata peran serta perguruan tinggi dalam membantu menggerakkan ekonomi petani lokal. Workshop pengolahan sayuran segar menjadi sayuran beku kemudian dilakukan dengan peralatan sederhana sehingga diharapkan warga Precet dapat menduplikasi dengan mudah. Selain itu, produk sayuran beku dari sayur lokal Precet diharapkan dapat berkembang menjadi produk unggulan skala industri rumah tangga yang digerakkan oleh warga untuk warga Precet sendiri.
Pengolahan sayuran diawali dengan mencuci bersih sayuran segar kemudian dipotong, lalu direbus dalam air mendidih. Lama proses perebusan tergantung pada jenis sayurannya. Misalnya untuk wortel cukup direbus 2-3 menit sedangkan brokoli 4-6 menit. Sayuran yang telah direbus kemudian dikeringkan hingga benar-benar kering agar terhindar dari bakteri yang membuat makanan cepat busuk.
Untuk sayuran seperti tomat, cabai, bayam, kangkung, kol tidak perlu dilakukan proses perebusan, cukup dicuci bersih, dipotong, dikeringkan, lalu dikemas. Pada proses pengemasan digunakan alat vacuum sealer agar kemasan sayur kedap udara. Hal ini bertujuan untuk mengurangi kemungkinan terjadinya proses oksidasi pada sayuran setelah dikemas.
Namun, apabila tidak ada alat vacuum sealer, plastik klip dapat digunakan untuk mengemas sayuran yang telah diolah.Sentuhan terakhir dilakukan dengan memberikan label pada kemasan sayuran yang akan dipasarkan. Produk sayuran yang telah dibekukan dapat bertahan 3 sampai 8 bulan di dalam mesin pendingin bergantung dengan jenis sayuran yang dibekukan.(*) Editor : Shuvia Rahma