Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

UIN Mengabdi Latih Petani Milenial Pakai Teknologi Berbasis Pertanian

Shuvia Rahma • Rabu, 30 September 2020 | 17:00 WIB
Didik Wahyudi (kanan), dosen UIN Malang memaparkan konsep teknologi dalam bertani di di Desa Gading Kulon, Kecamatan Dau. (UIN Malang for Radar Malang)
Didik Wahyudi (kanan), dosen UIN Malang memaparkan konsep teknologi dalam bertani di di Desa Gading Kulon, Kecamatan Dau. (UIN Malang for Radar Malang)


Krisis petani dari kalangan anak muda, menjadi perhatian khusus UIN Malang. Dalam program UIN Mengabdi bertajuk Qaryah Thayyibah (Kampung Tangguh), para dosen memberi pelatihan pada kaum milenial di Desa Gading Kulon, Kecamatan Dau untuk mau bertani secara modern. Seperti apa?



Photo
Photo
Program Qoryah Thoyyibah UIN Malang



Didik Wahyudi terlihat begitu semangat memaparkan konsep bertani modern. Dosen di Jurusan Biologi UIN Maulana Malik Ibrahim memberi arahan ke puluhan anak muda untuk memulai bertani. Tapi tidak secara manual lagi. Harus pakai teknologi. Mulai pengolahan sampai distribusi semua harus berbasis tekonologi modern.

”Sebagai petani milenial, piawai dalam menggunakan teknologi informasi sudah barang wajib dalam kesehariannya,” terang Wahyudi.

Dasar pembekalan pada petani milenial ini karena data menyebut jumlah petani terus menurun. Mayoritas usia petani 45 tahun ke atas. Usia di bawah itu kebanyakan kerja di pabrik atau kantor. Pilihan itu karena anak zaman now terkesan enggan berkotor-kotor dan berpanas-panasan. Namun Wahyudi punya konsep bahwa petani tidak harus kotor. Cukup mengendalikan dari gadget. Ini yang disebut dengan pertanian 4.0.

Ada dua poin penting yang disampaikan Wahyudi dalam kegiatan tersebut. Yakni peningkatan motivasi dan wawasan pertanian 4.0 dan bagaimana menjadi entrepreneur dalam bidang pertanian.

Dalam materinya, Didik Wahyudi mengungkapkan bahwa ada beberapa usaha sampingan yang dapat dikembangkan dalam bidang pertanian seperti produksi sayuran dan buah organik, agrowisata, jual beli pupuk organik dan alat pertanian serta jual beli bibit tanaman hortikultura.

Petani milenial harus punya gadget yang sudah terinstall beberapa aplikasi start up dalam bidang pertanian. Seperti aplikasi Limakilo, Agromart dan TaniHub untuk memantau harga hasil pertanian. Serta ada aplikasi Dokter Tania dan Petani untuk mengetahui hama penyakit dalam bidang pertanian dan cara mengatasinya serta waktu yang tepat dalam memulai bercocok tanam.

Disparitas harga antara di petani dan konsumen menjadi masalah umum yang sering terjadi di Pertanian Indonesia. Harga di tingkat petani jauh berbeda dengan harga yang harus dibayar oleh konsumen. Sebagai contoh pada musim panen, harga jeruk di desa Gading Kulon per kg berkisar antara Rp 5000 dan Rp 8000 di tingkat petani. Namun konsumen harus membayar Rp.12.000 s/d 15.000 per kilogramnya ke penjual. Hal ini diduga karena penerapan sistem ijon dan banyaknya mata rantai distribusi yang dilalui dari produsen ke konsumen. Untuk mengatasi permasalahan tersebut perlu adanya usaha untuk menghubungkan secara langsung antara petani dan konsumen sehingga disparitas harga bisa ditekan.

Penggunaan platform seperti Sayurbox mungkin menjadi inspirasi bagi petani muda di Gading Kulon. E-Commerce khusus Jabodetabek ini memungkinkan petani berhubungan langsung dengan pembeli rumah tangga dan bisnis dengan sistem kemitraan. Namun jika dirasa pembuatannya terlalu sulit, pelibatan anak petani sebagai agen penjual produk orang tuanya mungkin bisa menjadi solusi. Platform E-commerce besar seperti Tokopedia, Shoope atapun Lazada dapat digunakan tempat sebagai tempat berdagang hasil pertanian orang tua mereka. Editor : Shuvia Rahma
#JPRM #uin mengabdi #UIN Malang