***
”Pak, apakah bisa lidah buaya jadi bahan hand sanitizer?” tanya salah satu warga Purwantoro pada tim dosen UIN. Tak hanya aktif bertanya, sebanyak 50 warga yang terbagi dalam empat kelompok itu juga antusias mengikuti praktik pembuatan hand sanitizer.
Itulah sekilas gambaran betapa senangnya warga dengan hadirnya tim UIN Malang dalam program bertema Qaryah Thayyibah tersebut. Mereka merasa sangat penting pelatihan membuat hand sanitizer yang dibimbing Ulfi Andriansari MPd, Hayyun Lathifaty Sari MPd, dan Khadijah Fahmi Hayati Holle MKom tersebut.
Dengan telaten, Ulfi Andriansari dan tim menjelaskan tentang cara pembuatan hand sanitizer. Masing-masing kelompok disediakan alat dan bahan. Mulai etanol 96 persen, hidrogen peroksida 3 persen, gliserol 98 persen, air suling (distilasi) atau air matang yang sudah dingin.
Satu per satu bahan dimasukkan ke jeriken sesuai takaran masing-masing bahan. Kemudian bahan tersebut dicampurkan dengan cara mengocok jiriken selama kurang lebih 15 menit. Anggota kelompok bergantian mengocok jiriken berisi campuran bahan tersebut. Setelah semua tercampur rata, bahan terakhir yang dimasukkan adalah parfum sebagai aroma.
Hand sanitizer yang telah dibuat dalam jeriken dituang pada botol ukuran 500 ml. Setiap peserta dapat membawa hand sanitizer tersebut. ”Bisa saja menambahkan lidah buaya, namun akan menambah biaya. Lebih baik menggunakan bahan-bahan sesuai standar WHO (organisasi kesehatan dunia),” terang Khadijah.
Dalam kegiatan itu, hadir Lurah Purwantoro Drs Moch. Hadi MAp, Kapolsek Blimbing AKP Hery Wahyu Widodo, dan sejumlah tokoh lain. Editor : Editor : Hendarmono Al S.