Produksi susu sapi perah begitu melimpah di Desa Gadingkulon, Kecamatan Dau. Mayoritas warga menjual susu mentah langsung ke pabrikan. Hasil pendapatannya pun tak maksimal. Lewat program UIN Mengabdi, para dosen membimbing agar susu sapi bernilai jual lebih tinggi.
Sebanyak 30 warga Desa Gadingkulon tampak telaten mengikuti arahan tim dosen UIN membuat kefir awal Agustus lalu. Yakni semacam minuman berbahan susu yang sudah diproses secara fermentasi. Tapi juga bisa diolah menjadi masker penghalus wajah. Para dosen yang terdiri dari Diana Candra Dewi MSi, Siti Maimunah Apt MFarm, dan Rifatul Mahmudah MSi ini secara pelan mengajari proses pembuatan kefir yang berlangsung di Balai Dusun Princi itu.
Mulai cara susu dipasteurisasi lalu didinginkan. Kemudian ditambahkan butiran bibit/grain kefir dan diaduk perlahan. Selanjutnya disimpan dalam wadah tertutup selama 12 jam. Para peserta juga berkesempatan mencicipi susu kefir serta pudding kefir.
Hasil respons peserta menunjukkan bahwa cita rasa susu kefir ada asamnya, segar dan cocok di lidah. Susu kefir tidak hanya mengandung nutrisi, namun juga kaya probiotik lebih dari 60 strain. Kefir dapat dikonsumsi langsung atau ditambahkan dengan sirup dan gula.
”Peserta antusias dalam diskusi tentang proses pembuatan, penyajian sampai penyimpanan dan kemungkinan untuk memasarkan susu kefir,” ungkap Diana Candra, salah satu mentor di program UIN Mengabdi ini.
Pada sesi akhir pelatihan adalah pembentukan grup yang berminat untuk memproduksi kefir secara mandiri. Sehingga warga yang mayoritas peternak sapi perah ini bisa mendapat tambahan penghasilan. Editor : Shuvia Rahma