Rektor Unikama Dr. Pieter Sahertian, M.Si, mengatakan perubahan ini disebabkan oleh aturan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Yakni setiap yayasan yang dinaungi oleh PGRI wajib mencantumkan nama PGRI. Hal ini juga sudah diatur di AD/ART pusat.
"Sebenarnya DNA Unikama ya PGRI. Sebelum jadi Unikama nama kami adalah IKIP PGRI Malang. Karena aturan tersebut, lembaga pendidikan mulai dari TK hingga Perguruan Tinggi wajib mencantumkan nama PGRI," terang Pieter.
Ia juga mengatakan, telah dilakukan kesepakatan bahwa akronim tetap dengan sebelumnya, yaitu Unikama.
"Sebab Unikama brand nya sudah familiar. Jadi nanti singkatan yang Un dari Universitas, I nya dari PGRI, Ka dari Kanjuruhan, dan Ma nya Malang," rinci dia.
Sebelum memakai Unikama pun, sebenarnya Universitas yang diampu nya itu pun sebelumnya juga sudah besar dengan nama IKIP PGRI Malang. Sehingga baginya, dengan kembali mencantumkan nama PGRI pun tetap menjadikan nama Unikama besar. Bahkan mungkin lebih besar lagi.
Bagi Pieter, nama yang baru ini memang penting. Tapi yang lebih penting lagi adalah orang-orang di baliknya.
"Memang nama itu penting. Tetapi nama apalah artinya jika merubah performa ya nama tak ada artinya. Sehingga Unikama akan tampil dengan wajah baru tetapi dengan visi yang sama. Yaitu jadikan Unikama unggul di 2025," ungkapnya.
Acara tersebut diawali dengan menyanyikan Indonesia Raya. Menandai pergantian nama tersebut, dilakukan pembunyian sirene dan pelepasab balon. Selain itu, dilakukan pembacaan doa dan pemotongan tumpeng di akhir acara.
Pewarna : Errica Vannie
Editor : Shuvia Rahma