“Pembukaan dibuka dalam tiga gelombang. Gelombang pertama memberikan kesempatan bagi calon mahasiswa melalui jalur prestasi, termasuk mahasiswa yang masih menunggu kelulusan agar segera mendapatkan kampus,” jelas Rektor Unikama, Dr Pieter Sahertian MSi.
Wakil Rektor I Unikama, Dr Sudi Dul Aji MSi menambahkan, PMB semester ganjil 2021/2022 dibuka dalam tiga geombang. Pada gelombang pertama ini, Unikama memberikan lebih banyak kemudahan bagi calon pendaftar, seperti potongan DPP lebih besar.
“Potongan DPP paling besar diberikan untuk pendaftar gelombang pertama. Bahkan untuk pendaftar jalur prestasi, bisa mendapatkan fasiltas free DPP 100 persen,” kata Aji, sapaan akrabnya.
Ia menuturkan, di PMB kali ini, Unikama membuka kuota untuk 1600 mahasiswa baru. Pada gelombang pertama, Unikama menargetkan kuota tersebut bisa terisi minimal sebanyak 25 persen. Hingga saat ini, pendaftar telah mecapai 15 persen dari kuota tersebut.
“Ada lebih dari 200 pendaftar yang masuk. Target untuk gelombang pertama ini, kuota terisi 25 persen,” jelas dia.
Aji menambahkan, calon mahasiswa yang telah mendaftar tersebut masih didominasi lulusan SMA/SMK dari wiayah Jawa Timur, yang disusul dengan pendaftar dari daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Kalimantan.
“Jatim masih mendominasi, sekitar 60 hingga 70 persen,” imbuh dia.
Ia melanjutkan, keuntungan lain yang diberikan kepada pendaftar di gelombang pertama adalah kelonggaran untuk pemenuhan berkas pendaftaran yang bisa disusulkan di kemudian hari.
“Jadi kalau ada kekurangan berkas, kelengkapannya bisa menyusul tanpa harus terburu-buru,” imbuh dia.
Aji menambahkan, terkait sistem perkuliahan, hingga saat ini Unikama masih memantau kebijakan dari pemerintah. Namun baik pembelajaran offline maupun online, Unikama telah memiliki sarana dan prasarana yang memadai.
“Offline siap, online juga sudah berjalan baik, bahkan ketika itu blended pun, bisa kita lakukan," tegas dia.
Untuk penambahan fasilitas sesuai protokol kesehatan Covid-19 di area kampus, Aji mengatakan, Unikama telah menyediakan hand sanitizer dis etiap ruang kelas dan penempatan tempat cuci tangan di gedung perkuliahan maupun di tempat pelayanan mahasiswa.
“untuk kelas, ada pengurangan, dari yang kapasitas awal antara 40 hingga 50 mahasiswa, jika nanti ada perkuliahan luring, maka isi kelas maksimal di angka 20 hingga 25 mahasiswa saja. Kemudian untuk tempat cuci tangan, diperbanyak. Di gedung perkuliahan, di setiap blok ada,” pungkas dia.
Pewarta: Inifia Editor : Shuvia Rahma