Kepala Dinkes Kota Malang dr Husnul Muarif juga menyatakan bila opsi penambahan jam pelajaran bakal mengubah sistem di sekolah. Sebab pengaturan PTM maksimal 4 jam itu bertujuan agar tidak timbul kejenuhan bagi siswa. Bila jam pelajaran ditambah, dia menyebut bila jam istirahat bakal lebih longgar. ”Nanti takutnya bisa dimanfaatkan siswa untuk ke luar kelas dan jajan. Di sana takutnya potensi virus (Covid-19) masuk ke tubuh siswa dan menularkan ke siswa atau guru, sehingga muncul klaster sekolah,” beber Husnul. Beranjak dari kondisi itu, pria yang pernah menjabat sebagai Direktur RSUD Kota Malang tersebut menilai bila pelaksanaan PTM saat ini tidak perlu diubah.
Terpisah, Sekretaris Komisi D DPRD Kota Malang Rokhmad juga sependapat dengan Husnul. Dia menilai bila durasi 4 jam pelajaran saat ini sudah cukup bagus. Sebab hampir dua bulan berjalannya PTM, tidak ada laporan negatif. Seperti munculnya klaster sekolah. ”Kami minta orang tua siswa bersabar dulu, ini sudah menjadi keuntungan menggelar PTM di tengah risiko gelombang ketiga Covid-19 yang mengancam,” kata dia.
Bila opsi menambah jam pelajaran diseriusi, pria yang pernah berkecimpung di dunia pendidikan selama 19 tahun itu menginginkan adanya kajian terlebih dahulu. ”Bisa dibayangkan saja penambahan (jam pelajaran) sampai pukul 1 siang, maka itu bakal mengubah struktur dan sistem yang ada saat ini,” kata dia. Meski begitu, jika memang memungkinkan dilakukan penambahan jam pelajaran, maka opsi tersebut menurutnya bisa dilakukan. Terlebih saat ini Kota Malang baru saja turun level ke PPKM level 2. (adn/ulf/by/rmc)
Editor : Shuvia Rahma