Nisrina menimba ilmu selama delapan bulan di negara tersebut, sejak April 2021 hingga awal tahun 2022 ini. Dia mengaku awalnya tidak menyangka bisa lolos program beasiswa tersebut dan terbang ke Turki.
Problem bahasa pun langsung menjadi kendala saat tiba di negara tersebut. Maklum saja mayoritas warga Turki tidak bisa bahasa Inggris. Sementara pembelajaran yang dia ikuti menggunakan bahasa Turki. ”Beruntung, saya dan kawan-kawan lainnya dibantu belajar bahasa Turki oleh masyarakat setempat," ujarnya.
Selain bahasa, menurutnya adaptasi cuaca dan makanan menjadi kendala tersendiri. Kondisi iklim sub-tropis dengan lima cuaca sempat memengaruhi kesehatan tubuhnya. Terutama ketika musim gugur dan musim dingin yang tidak pernah ia rasakan di Indonesia. Sedangkan makanan, sampai sekarang ia masih belum terbiasa dengan menu masakan khas Turki.
Anak ke empat dari empat bersaudara ini menyatakan, Masjid Hagia Sophia menjadi tempat favoritnya selama di Turki. Menurutnya, masjid tersebut memancarkan suasana historis yang kuat dan hal tersebut yang menurutnya istimewa. Dia juga sesekali mengunjungi taman kota untuk sekadar bersantai atau membaca buku. Dia mengaku menikmati gemercik air dan burung-burung di taman yang tak jarang menghampirinya.
Meski hanya delapan bulan di Turki, Nisrina berharap ilmu dan pengalaman yang dapatkan selama di Turki bisa menjadi berkah untuk diri sendiri maupun orang lain. ”Saya ingin sekali mengajarkan ilmu dan pengalaman yang saya dapat di Turki kemarin. Memberikan pemahaman bahwa tak ada mimpi yang terlalu besar jika kita senantiasa berusaha,” ungkapnya. (adk/nay) Editor : Mardi Sampurno