Kesimpulan tersebut dibeber guru BK (bimbingan konseling) SMAN 8 Malang Fitri Kusrini. Dirinya sempat melakukan survei kepada siswanya. Survei itu berkaitan dengan minat siswa terhadap pilihan model pembelajaran daring dan luring. Perempuan yang akrab disapa Rini itu mengatakan, mayoritas siswa atau sekitar 98 persen suka dengan pembelajaran luring. Namun kenyataannya, saat digelar pembelajaran luring semangat belajar siswa tetap rendah. “Jadi, kalau bisa saya simpulkan, anak-anak itu sebenarnya suka daring. Sebab, saat di sekolah pun motivasi belajarnya masih rendah,” ujarnya.
Menurut Rini, situasi tersebut terjadi karena pandemi yang masih berlangsung dianggap sebagai kondisi yang memaklumi penurunan capaian belajar siswa. ”Sebab, kondisi saat ini segala kegiatan termasuk pembelajaran dalam pembatasan-pembatasan yang ketat,” terangnya.
Selain itu, kebijakan pembelajaran daring yang dilakukan hampir dua tahun juga membuat siswa bosan. Sehingga, siswa ingin luring karena ingin bertemu teman-temannya. “Mereka ingin berinteraksi dengan teman-temannya karena sudah lama terkurung di rumah akibat pandemi,” imbuhnya. Inilah yang menjadi PR Guru BK. Sebab, keadaan seperti ini tidak bisa dibiarkan. ”Siswa harus kembali mempunyai semangat belajar yang tinggi. Setidaknya sama seperti sebelum pandemi,” terangnya.
Sementara itu, dosen psikologi UMM Muhammad Salis Yuniardi menyatakan, siswa lebih senang belajar luring sebagai hal yang wajar. Sebab, anak-anak, apalagi seusia SMA butuh ruang aktualisasi diri. Untuk itu, guru BK perlu melakukan assement terkait keadaan siswa. Sebab, perubahan sistem pembelajaran yang ada tentu berdampak pada psikis siswa. “Untuk itu sebenarnya perlu untuk terus melakukan PTM. Sebab, recovery untuk keadaan pandemi yang hampir dua tahun ini butuh waktu. Untuk itu, PTM bagaimana pun tidak bisa digantikan dengan daring,” ujarnya. (dre/nay)
Editor : Mardi Sampurno