Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Buntut Penangkapan Densus 88, UB Telusuri Jaringan ISIS di Internal Kampusnya

Mardi Sampurno • Kamis, 26 Mei 2022 | 21:32 WIB
SAMPAIKAN SIKAP: Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan UB Prof Dr Drs Abdul Hakim MSi (dua dari kiri) memberi keterangan pers kepada awak media di gedung Rektorat UB kemarin siang (25/5). (Suharto/ Radar Malang)
SAMPAIKAN SIKAP: Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan UB Prof Dr Drs Abdul Hakim MSi (dua dari kiri) memberi keterangan pers kepada awak media di gedung Rektorat UB kemarin siang (25/5). (Suharto/ Radar Malang)
MALANG KOTA - Kegiatan-kegiatan mahasiswa di Universitas Brawijaya (UB) bakal mendapat pengawasan lebih ketat lagi dari pihak rektorat. Izin menjadi harga mati yang harus dikantongi untuk setiap kegiatan.

”Jadi kegiatan mahasiswa tidak ada lagi yang tidak diketahui universitas dan fakultas. Tidak ada izin, kami bubarkan,” kata Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan UB Prof Dr Drs Abdul Hakim MSi. Respons tegas tersebut merupakan buntut dari penangkapan salah satu mahasiswa UB oleh tim Densus 88 Anti Teror Mabes Polri, Senin lalu (23/5). Mahasiswa tersebut bernama Ilham Alfarizi. Dia merupakan mahasiswa aktif angkatan 2019, dari program studi (Prodi) Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP).

Seperti diketahui, Ilham disebut-sebut merupakan simpatisan ISIS. Salah satu perannya yakni ikut menggalang dana untuk ISIS di Indonesia. Kepada awak media, Abdul Hakim menyatakan bila pihak kampus sangat prihatin dengan kabar penangkapan mahasiswanya tersebut. Saat ini, pihak universitas akan berusaha untuk mencegah hal serupa tidak terulang lagi. ”Rektor dan pimpinan UB yang baru saat ini langsung mengadakan rapat untuk membahas hal ini,” imbuhnya.

Dari konferensi pers yang langsung digelar pihak UB itu, diketahui bila Ilham merupakan mahasiswa yang tergolong cerdas dalam proses perkuliahan. Itu dibuktikan dengan Indeks Prestasi (IP) yang selalu di atas angka 3. Saat ini, Ilham telah memasuki semester enam. Namun karena tersangkut kasus terorisme, kuliahnya untuk sementara bakal terhenti. ”Proses kami serahkan sepenuhnya kepada aparat berwenang. Terkait sanksi, jika sudah ada penetapan hukum yang pasti, maka rektor pasti akan memberikan sanksi sesuai aturan berlaku,” ucapnya.

Sebagai bentuk pencegahan lanjutan, UB saat ini juga ikut membantu aparat keamanan untuk menelusuri kemungkinan adanya jaringan Ilham di kampus. Baik itu di unit kegiatan mahasiswa (UKM) maupun organisasi kemahasiswaan. ”Kami tentu membutuhkan dukungan dari pers dan masyarakat untuk memberikan informasi jika mengetahui civitas akademika kami terlibat langsung dalam kegiatan organisasi yang dilarang pemerintah,” paparnya. Bentuk pencegahan radikalisme yang lain juga sudah dilakukan secara rutin oleh UB.

Dijelaskan Abdul Hakim, setiap tahun pihaknya selalu menggelar program bela negara untuk mahasiswa baru. Dari sembilan kegiatan dalam bela negara itu, ada kegiatan pendidikan gerakan anti radikalisme. Di tahun ini program yang sama juga diterapkan. Baik itu di tingkat kampus maupun fakultas. ”Kami juga rutin mengundang perwakilan BNPT (badan nasional penanggulangan terorisme) untuk berceramah kepada mahasiswa baru. Jadi sebenarnya kampus dan fakultas sudah melaksanakan pendidikan anti radikalisme itu,” tutur Guru Besar Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) tersebut.

Diakui Abdul Hakim, dengan mahasiswa UB yang berjumlah sekitar 60 ribu, pihak kampus tentu tidak bisa mengawasi satu per satu. Untuk itu, ke depan pihaknya akan berkoordinasi dengan aparat keamanan untuk melakukan pengawasan jika ada kegiatan mahasiswa yang dianggap menyimpang. ”Dengan kasus ini, akan kami perkuat lagi terkait pengendalian dan pengawasan aktivitas mahasiswa,” tambahnya.

Penangkapan salah satu mahasiswa UB oleh tim Densus 88 tersebut juga mendapat perhatian dari Wali Kota Malang Sutiaji. Dia mengakui bila tindak pidana terorisme sulit untuk dihentikan. Pasalnya, para terduga pelaku sudah menerapkan sistem kerja sel dan memiliki banyak jaringan. Meski begitu, dia menyebut ada cara untuk menekan pemahaman tentang terorisme, khususnya di bidang pendidikan. Yakni dengan menerapkan revolusi paradigma pendidikan, yang tidak hanya dilakukan secara verbal.  ”Sekarang dengan adanya program merdeka belajar, anak dihadapkan pada tantangan nyata supaya dia tidak gampang terpapar paham terorisme,” kata dia.

Lebih lanjut, Sutiaji juga mengingatkan bila wilayah Malang Raya sudah sering menjadi jujukan para terduga terorisme. Contohnya ada deklarasi dukungan terhadap organisasi ISIS. Hingga baku tembak aparat dengan gembong teroris Dr Azhari di Kota Batu, beberapa tahun lalu. ”Berarti sudah bisa ditengarai kenapa dilakukan di sini (Malang). Makanya harus ada kewaspadaan masyarakat,” tuturnya.

Ketika disinggung mengenai komunikasi antara Pemkot Malang dengan perguruan tinggi di Kota Malang, dia mengaku sudah melakukannya. Salah satunya dengan mengadakan seminar kerja sama antara BNPT dengan Unisma, beberapa waktu lalu. ”Sudah-sudah (dilakukan komunikasi) dan akan kita kuatkan lagi,” tambah Sutiaji. Dia mengakui bila kegiatan tersebut turut memberi dampak pada lingkungan kampus.

Perhatian serupa juga ditunjukkan Kapolresta Malang Kota Kombes Pol Budi Hermanto. Kepada koran ini, dia mengatakan bila pihaknya siap bersinergi dengan kampus-kampus untuk melakukan pengawasan terhadap sejumlah kegiatan mahasiswa. Selain itu, upaya untuk menyosialisasikan bahaya radikalisme juga akan kembali digalakkan. Selain akan menggandeng pihak kampus, Polresta Malang Kota juga akan menggandeng Bakesbangpol Kota Malang untuk menggiatkan langkah pencegahan. ”MUI dan ormas keagamaan juga akan kami gandeng untuk memberikan pemahaman agama yang benar,” ujar Buher, sapaan akrabnya.

Buher menyebut bila tertangkapnya mahasiswa yang terlibat dalam organisasi terlarang itu kembali mengingatkan bahaya radikalisme yang tetap hidup di tengah-tengah masyarakat. Untuk itu, dirinya menyebut bila kolaborasi dan sinergitas antar pihak-pihak terkait sangat penting dilakukan untuk menanggulangi permasalahan tersebut. (adk/dre/by) Editor : Mardi Sampurno
#densus 88 #mahasiswa #Kampus #universitas brawijaya #UB #Jaringan ISIS