Lebih mirisnya lagi, siswa di kelas 8 dan 9 itu masing-masing hanya berisi satu pelajar saja. Ketika dikonfirmasi, Kepala SMP Tarbiyatul Huda Sugeng membenarkan kondisi tersebut. Saat ini, meski tahun ajaran baru sudah berjalan hampir dua pekan, pihaknya tetap menunggu peserta didik hingga batas waktu pendaftaran terakhir. Yakni pada 31 Agustus nanti. Itu sesuai dengan masa waktu pengisian data pokok pendidikan (Dapodik).
Kepada wartawan koran ini, Sugeng menyebut beberapa penyebab sekolahnya sepi peminat. ”Kendalanya karena di wilayah kami dikepung beberapa sekolah. Ada SMPN 2 Kota Malang, SMP Terbuka, SMPN 9 Malang dan ada tambahan sekolah negeri yang di Gadang (SMPN 29),” terang dia. Selain harus bersaing dengan sekolah negeri, dia juga mengatakan bila satuan pendidikan berstatus swasta kini juga menjamur di wilayah tersebut.
Dasar itulah yang membuat SMP Tarbiyatul Huda kesulitan mencari murid baru. ”Di sini persaingan sangat ketat. Apalagi SMP negeri bisa menerima siswa lebih dari lima kelas, satu kelasnya berisi 28 siswa,” keluhnya. Dia menambahkan, menurunnya jumlah siswa di satuan pendidikannya sudah terjadi sejak pandemi Covid-19. Sebelum pandemi, dia mengatakan bila SMP Tarbiyatul Huda masih bisa mendapatkan 9 siswa. ”Kami tentu berharap ada siswa yang mendaftar nantinya,” harap dia.
Minimnya siswa baru membuat mereka kesusahan untuk menutupi biaya operasional. Pasalnya, mereka tidak mendapat jatah bantuan operasional sekolah nasional (Bosnas) maupun bantuan operasional sekolah daerah (Bosda). Tidak ada jatah bantuan itu disebabkan karena SMP Tarbiyatul Huda belum memiliki badan hukum di Kemenkumham RI. ”Kami belum bisa mengurus badan hukum ke Kemenkumham, karena tak ada biaya. Sehingga bantuan dari pemerintah tidak bisa dicairkan,” imbuh Sugeng.
Tidak cairnya bantuan dari pemerintah, diakui Sugeng, membuat tenaga pendidik di lembaga tersebut layaknya pekerja sosial. Kadang mendapat bayaran, kadang juga tidak digaji. ”Jumlah guru kami ada 12. Diada-adakan saja dananya,” kata dia dengan nada pasrah.
Kondisi serupa juga dialami SMP Waskita Dharma Kota Malang. Sekolah yang berlokasi di Jalan Sawojajar gang V B itu hanya memiliki dua siswa baru di tahun ini. Di tahun lalu, mereka juga hanya menerima tiga murid. Kiswati, bagian tata usaha (TU) SMP Waskita Dharma mengaku bila sekolahnya sudah berupaya semaksimal mungkin untuk melakukan promosi. Baik melalui media sosial atau memasang banner di jalan.
Namun, tetap saja minat siswa mendaftar di satuan pendidikan itu rendah. Hal ini seperti yang dialami SMP Tarbiyatul Huda, karena persaingan yang sangat ketat di wilayah tersebut. ”Setelah banyak SMP negeri berdiri, kami semakin susah cari murid, terbaru itu (ada sekolah) di Polehan (SMP 28). Selain itu, ada SMP swasta lainnya juga,” tambah Kiswati.
Dia merinci jumlah sementara siswa di sana ada 9 orang. Kelas 7 ada dua siswa, kelas 8 dua orang, dan kelas 9 ada lima orang. Beruntungnya, SMP Waskita Dharma masih mendapat bantuan Bosnas maupun Bosda. Sehingga bisa sedikit menutupi biaya operasional dari lembaga pendidikan itu. Selain itu, ada tambahan biaya SPP dari tiap siswa per bulannya senilai Rp 70 ribu. ”Tapi dengan sedikitnya siswa, gaji guru ya tidak bisa full. Bisa dibilang juga seperti kerja sosial,” tutup Kiswati. (adk/by) Editor : Mardi Sampurno