Penggagas proyek Omah Terapi Autis, M. Cahyadi yang juga Founder MAC mengungkapkan adanya proyek ini adalah sebagai bentuk kepedulian sosial terhadap anak berkebutuhan khusus yang berasal dari keluarga dengan latar ekonomi menengah kebawah. Proyek ini merupakan produk nyata dari MAC yang telah berdiri sejak 2015 untuk memberikan kontribusi nyata terhadap anak Autism Spectrum Disorder (ASD).
“Saya yakin Omah Terapi Autis ini memiliki kualitas yang tinggi dan akan sangat bermanfaat bagi masyarakat yang berasal dari keluarga kurang mampu.” harapnya.
Sementara itu, Kepala Departemen PLB UM Prof Dr Mohammad Efendi MPd MKes menambahkan populasi anak autis makin lama makan banyak. Sementara kebutuhan terapi di Malang Raya, salah satunya MAC gayung bersambut dengan kondisi itu.
"Terus terang, pemerintah belum punya lembaga yang mampu untuk menangani anak autis. Gayung bersambut MAC ini menginisiasi project untuk meringankan beban pemerintah agar autis mendapat kesempatan untuk mendapatkan terapi yang baik," terangnya.
Menurut Prof Efendi, laboratorium autis UM sudah tidak mampu menampung lagi. Oleh karenanya, UM mendukung Omah Terapi Autis ini dengan cara menyiapkan terapis yang berasal dari mahasiswa. "Jadi selain memenuhi kebutuhan masyarakat, juga menjadi tempat praktik mahasiswa. Ini adalah action dari MoU antara MAC dan UM yang sudah dilakukan sejak April," imbuhnya.
Di sisi lain, Kaprodi S2 PLB UM, Dr Asep Sunandar SPd MAP menjelaskan lahirnya project ini adalah hasil dari ngobrol bersama dengan Founder MAC yang saat ini juga masih mengenyam studi S2 PLB UM. Menurut Dia, background pendidikan Founder MAC ini adalah sarjana ekonomi, namun mengambil S2 PLB. Itu karena founder MAC ini bersinggungan langsung dengan anak autis.
"Jadi project ini lahir orientasinya sebagai lembaga terapi autis yang bukan hanya bisnis tapi juga membawa misi sosial. Karena seperti diketahui, yang membuat terapi autis mahal itu adalah gaji terapisnya. Nah disini kita siapkan terapisnya, untuk mahasiswa S1 bisa jadi terapis sementara mahasiswa S2 bisa jadi observer," tegas Asep.
Teknis di Omah Terapi Autis ini menurut Cahyadi, setelah melalui beberapa prosedur pendaftaran, anak didik yang terpilih berhak mendapatkan 2 tenaga terapis. Dengan based pertama ini kuota 6 anak dilakukan terapi selama 7 bulan dengan rincian 20 jam per minggu atau setiap hari 4 jam. Dimana satu bulan pertama dilakukan untuk observasi.
"Jumlah pembayaran layanan terapi akan disesuaikan dengan kemampuan orang tua setelah tim melakukan prosedur yang ada. Jika orang tua mampunya hanya Rp 250 ribu sebulan, maka bayarnya tetap Rp 250 ribu sebulan," jelas Cahyadi.
Cahyadi juga menambahkan bahwa pihaknya sangat terbuka untuk masyarakat yang peduli anak ASD.
"Kami sangat berharap Omah Terapi Autis ini bisa menjadi contoh untuk orang-orang mampu di luar sana, bisa membuat project sosial serupa. Dengan begitu harapannya lebih banyak anak autis yang mendapatkan layanan terapi. Juga harapannya bisa memberikan bantuan pelayanan kepada para orang tua yang berasal dari keluarga kurang mampu," tutup Cahyadi. (bin) Editor : Didik Harianto