Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Bangga Bisa Dampingi Buah Hati Hingga Sarjana

Mardi Sampurno • Jumat, 23 Desember 2022 | 05:12 WIB
RAJIN ISI TALKSHOW: Ika Lusiana Apriyanti selfie bersama suami dan putra keduanya Fauzan Hafizh Shidiq setelah prosesi wisuda di UGM, akhir November
RAJIN ISI TALKSHOW: Ika Lusiana Apriyanti selfie bersama suami dan putra keduanya Fauzan Hafizh Shidiq setelah prosesi wisuda di UGM, akhir November
Senyum bangga terpancar dari dokumentasi foto milik Ika Lusiana Apriyanti. Di foto itu, dia ber-selfie dengan Fauzan Hafizh Shidiq, anak keduanya yang kini menyandang gelar sarjana psikologi dari Universitas Gadjah Mada (UGM). Foto itu diambil akhir November 2022, sesaat setelah anaknya wisuda.

Perjuangannya selama 20 tahun seolah terbayar lunas di momen itu. Dulu, saat Fauzan masih berusia tiga tahun, dia sadar bila anaknya iry berbeda dengan anak kebanyakan. ”Anak saya nomor dua penyandang autisme,” kata dia. Saat mengetahui itu, dia dan keluarga kecilnya masih tinggal di Kalimantan. Ika mengakui bila saat itu sangat kaget dan bingung. ”Apalagi saat itu belum banyak anak dengan kondisi seperti ini. Akses literasi pun juga terbatas,” imbuh dia.

Ika lantas membaca banyak buku. Dia ingin mengetahui apa yang sebenarnya diidap oleh putranya itu. Dengan pengetahuan umum yang dia punya tentang autisme, Ika memutuskan untuk mencarikan tempat terapi untuk Fauzan. ”Sebelumnya saya juga konsultasikan dengan dokter dan psikiater di Kalimantan,” kata dia. Pilihannya pun jatuh di Kota Malang. Tidak ada alasan spesifik atas pemilihan Kota Malang untuk tempat terapi putranya itu. Ika hanya ingin Fauzan mendapat lingkungan dan pelayanan yang terbaik.

Dia pun terpaksa harus berpisah dengan anak pertamanya, yang saat itu berusia enam tahun. Dia berbagi tugas dengan suaminya untuk mengasuh ketiga anaknya. ”Karena suami juga bekerja di sana, sehingga anak pertama saya tinggal di Kalimantan. Sementara saya membawa Fauzan dan anak ketiga saya Raihan Taufiqul Hakim ke Malang,” terangnya.

Belum selesai dengan terapi Fauzan, ternyata sang adik Raihan juga mengalami kondisi yang sama. Kondisinya lebih akut. Sebab Raihan tidak bisa bicara sama sekali, dan tidak ada kontak mata. Ika menyebut semua gejala autisme itu ada pada diri Raihan. Akhirnya, Raihan pun turut menjalani terapi.

Upaya terapi pun tak hanya dilakukan di klinik saja. Ika juga memanggil terapis ke rumah untuk melakukan sejumlah treatment. ”Pokoknya semua usaha saya tempuh,” kata dia. Genap setahun menjalani terapi, Ika memutuskan untuk kembali ke Kalimantan. Dia memilih untuk melakukan terapi jalan. Namun, seiring waktu, kemampuan bicara putraputra spesialnya itu menurun.

Terutama putra yang nomor tiga. Akhirnya Ika memutuskan untuk memboyong ketiga anaknya itu ke Kota Malang. Hingga saat ini Ika tinggal di Kelurahan Sawojajar, Kecamatan Kedungkandang. Perempuan yang kini berusia 52 tahun itu mengaku butuh waktu hampir 10 tahun untuk ikhlas dengan kondisi yang dia terima. Perasaan marah dan tidak terima sempat hinggap di benaknya. Belum lagi dia harus memberi pemahaman kepada keluarga yang saat itu saling tuding atas penyebab kondisi kedua anaknya. Namun sekali lagi kesabaran dan usaha Ika berbuah manis.

Kemampuan komunikasi dan sosial putra keduanya semakin baik. Bahkan dia juga mampu berprestasi di sekolah reguler. Setelah Fauzan lulus S1, anak keduanya itu juga akan melanjutkan studi S2 Psikologi Sosial di UGM. ”Rencananya dimulai Mei 2023 mendatang,” ucap Ika bangga. Sementara putra ketiganya masih belajar di sekolah luar biasa (SLB). Sebab, dia bertahan dengan kespesialan yang dia miliki. Lantas 2007 silam, Ika kembali mempunyai seorang anak yang bernama Nabil Atha Aiman. Ika mengaku anak pertama dan keempatnya itu tumbuh seperti anak kebanyakan. Ika mengaku saat ini punya kepedulian kepada orang tua yang mempunyai anak spesial. Untuk itu, Ika kini aktif mengisi talkshow motivasi dan tips pengasuhan anak penyandang autisme.

Anak Kembali Bersemangat setelah Gabung Komunitas

Cerita tentang kesabaran dan ketabahan berikutnya datang dari Putri Ayu Januari. Dia mengaku sempat kesulitan menghadapi buah hatinya, Rafani Naufalin Putri Syamtiar, setelah menjalani operasi kedua. Kala itu, emosi Rafani belum stabil. ”Kalau marah, bisa sampai jambak-jambak,” kata ibu tiga anak itu. Bulan April lalu, ketika sekolah TK A, putrinya yang kini berusia enam tahun itu selalu mengeluh pusing. Namun ketika di rumah, dia bisa bermain dengan normal.

Saat itu Putri menganggap anaknya hanya malas belajar. Semakin hari, keseimbangannya mulai berkurang. Gadis kecilnya itu sering jatuh. Pada bulan Mei lalu, dia memeriksakan anaknya ke klinik. Dari sana lah anaknya didiagnosis anemia aplastik, atau ketidakmampuan sumsum tulang belakang memproduksi sel darah yang baru. Setelah lima hari dirawat, putrinya malah tidak mampu berjalan. Semakin hari tidak ada perkembangan. Hingga akhirnya dilakukan CT Scan. Baru ketahuan jika ada sel di kepalanya yang berukuran empat sentimeter.

Gadis berusia enam tahun itu mulai didiagnosis medulloblastoma (tumor yang menyerang kemampuan motorik). Sehingga mengharuskannya menjalani proses operasi. Operasi pertama berjalan lancar. Namun, dua minggu setelahnya, tepatnya saat operasi kedua, Rafani mengalami pendarahan. ”Tenaga medis sudah tidak bisa menjanjikan keselamatan anak saya. Kami berdua (dengan suami) hanya bisa pasrah dan saling menguatkan,” kata dia saat mengingat kejadian itu. Ketika operasi selesai, putrinya tak kunjung sadar. Hingga akhirnya, Putri melepas oksigen Rafani dan menggendong putri bungsunya itu. ”Ayo bangun, nduk,” ujarnya dengan penuh harapan.

Setelah berkali-kali dipanggil, Rafani mulai bangun dan menangis. Usai operasi kedua itu, emosi Rafani mulai tidak stabil. Kesabaran ibu tiga anak itu kembali diuji. Putri bungsunya itu juga lebih sering menangis. Putri menduga, gadis kecilnya itu tertekan karena tidak bisa melakukan apa-apa saat merasakan sakit di bagian kepalanya. Ibu rumah tangga itu menjelaskan, setelah operasi kedua, tahap pengobatan Rafani adalah radioterapi.

Putri bungsunya itu harus diberi anestesi (bius). Namun, karena pengaruh anestesi yang membuat putrinya hilang kesadaran, dia tidak tega. Akhirnya, dia memilih rawat jalan dengan catatan ketika proses radioterapi dijalankan, Rafani tidak diizinkan bergerak. Beruntung, bungsunya itu menurut. Hingga saat ini, Rafani masih harus menjalani radioterapi setiap harinya. ”Tidak boleh ketinggalan terapinya. Jadi, kalau pagi-pagi hujan ya tetap nekat berangkat ke rumah sakit,” kata Putri.

Karena gadis kecilnya tidak mampu berjalan, Putri harus menggendong Rafani. Terkadang juga menggunakan stroller. Proses itu telah dijalani berbulan-bulan. Biaya radioterapi ditanggung BPJS, tetapi kebutuhan obatnya menggunakan biaya pribadi. Setelah radioterapi, pengobatan bakal dilanjutkan dengan kemoterapi sampai sel kanker dinyatakan hilang. Ketidakmampuan motorik membuat bungsu dari tiga bersaudara itu kehilangan rasa percaya diri. ”Dia sebelumnya aktif, ceria, dan pintar.

Setelah tidak bisa jalan, dia jadi nggak pede,” ucap Putri. Ketika melihat teman-temannya bermain, gadis kecil itu hanya mampu melihat sambil duduk. Menurut penuturan Putri, anaknya juga sempat takut kehilangan nyawa. Melihat lunturnya semangat hidup sang bungsu, Putri melakukan berbagai cara untuk membangkitkan motivasinya. Hingga dia menemukan komunitas untuk anak-anak penderita kanker di Kota Malang. ”Ada ibu-ibu yang memberi tahu saya kalau ada komunitas Sahabat Anak Kanker. Setelah saya cari tahu dan bergabung, saya bertemu sama Dokter Santo.

Beliau yang mempermudah saya mengantarkan Rafani terapi,” imbuh perempuan berusia 31 tahun itu. Sejak bergabung dengan komunitas itu, Rafani menjadi lebih semangat. Lagu mars anak kanker turut membuat semangat gadis kecil itu meningkat. ”Kalau ada acara di Sahabat Anak Kanker, dia senang, karena penyemangatnya dari sana,” ungkapnya. Sekitar satu minggu ini, karena kerasnya kemauan dari dalam dirinya, Rafani sudah mampu berjalan kembali. Emosinya semakin stabil. Dorongan kuat dari Putri dan suaminya untuk kesembuhan Rafani juga mendukung perkembangan kondisi gadis kecil itu. ”Awalnya, saya kaget juga. Tapi, begitu melihat dia (Rafani) semangat lagi, saya juga ikut semangat,” kata Putri. (dre/kr4/by) Editor : Mardi Sampurno
#Senyum bangga terpancar #dia ber-selfie dengan Fauzan Hafizh Shidiq #dokumtasi foto milik ika lusiana apriyanti #kini menyandang gelar sarjana psikologi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) #anak keduanya