Melainkan juga untuk memberi honor guru tidak tetap (GTT). ”Dana Bosda juga digunakan untuk menambahi honor GTT karena masih banyak yang belum pindah status ke PPPK (pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja),” kata dia kemarin. Meski sebagian GTT sudah beralih fungsi ke PPPK, tetap saja ada persentase dana Bosda yang digunakan. Persentase penggunaan dana Bosda juga disesuaikan dengan jumlah GTT di masing-masing sekolah. ”Ada yang dapat 20 persen, ada yang 30 persen tergantung seberapa banyak yang dapat PPPK,” jelasnya. Sedangkan jumlah dana BOSDA yang diterima setiap sekolah didasarkan pada jumlah siswa.
Siswa SD sebesar 75 ribu dan SMP 105 ribu. ”Sudah sangat tercukupi, karena tidak semua kota memberikan dana Bosda untuk sekolah,” imbuhnya. Meskipun tidak ada penambahan dana Bosda, sejumlah sekolah menilai penambahan dana tersebut dirasa perlu. Salah satunya diungkapkan Kepala Madrasah Tsanawiyah (MTs) Nurul Huda Abdul Rokhim. Menurutnya, penambahan dana Bosda dirasa sangat membantu untuk peningkatan kualitas siswa melalui pengembangan fasilitas sekolah. Terutama dalam pengembangan laboratorium IPA dan TIK.
”Sangat terbantu dengan adanya Bosda, cita-cita kami bisa meng-update fasilitas siswa, seperti laboratorium digital IPA,” terang dia. Hal yang sama juga diungkapkan Kepala SDN Dinoyo 1 Nurul Hidayatus SPd. Dia mengatakan, selama ini dana Bosda sangat membantu. Jika ada penambahan, akan lebih baik dan semakin mendukung fasilitas siswa. ”Cukup membantu untuk menanggung biaya kebutuhan bahan ajar siswa, jadi sekolah tidak perlu menarik biaya apa pun ke siswa atau orang tua,” jelasnya. (kr2/adn) Editor : Mardi Sampurno