MALANG KOTA – Kota Malang bakal punya lebih banyak kampus yang memiliki Fakultas Kedokteran. Dua perguruan tinggi, yakni Universitas Negeri Malang (UM) dan Universitas Merdeka (Unmer) sedang dalam proses mendirikan program studi yang siap mencetak para calon dokter.
Ini menambah jumlah FK di Kota Malang. Sebelumnya sudah ada di Universitas Brawijaya, Universitas Islam Malang, Universitas Muhammadiyah Malang, dan UIN Maliki.
Proses pendirian FK UM kini tinggal selangkah lagi. Papan namanya sudah terpasang di dekat gerbang masuk UM di Jalan Surabaya.
Desk evaluasi pendirian FK UM bahkan sudah selesai dan telah dinyatakan lulus oleh Konsil Kedokteran Indonesia (KKI). Targetnya, FK UM bakal mulai menerima pendaftaran mahasiswa baru tahun ajaran baru ini.
Wakil Rektor I UM Prof Ibrahim Bafadal menarget seluruh proses pengajuan pendirian FKUM bakal rampung semester genap tahun ajaran ini.
Sehingga, pada tahun ajaran baru 2023/2024 mendatang, FK UM sudah bisa menerima mahasiswa baru S-1 Kedokteran. Kuota angkatan pertama diperkirakan untuk 50 mahasiswa.
Baca Juga : Fakultas Kedokteran Unisma Baiat 17 Dokter Muslim.
Ibrahim mengaku sudah menyiapkan tiga gedung lengkap dengan fasilitasnya untuk operasional FK UM. ”Tiga gedung yang menghadap ke Jalan Surabaya akan kita gunakan untuk fakultas kedokteran. Yaitu gedung B1, B2, dan,” ujarnya
FK UM nantinya menaungi enam departemen. Namun tidak semuanya merupakan departemen baru.
Ada departemen yang sudah lebih dulu berdiri, namun saat ini masuk dalam fakultas-fakultas yang mempunyai rumpun keilmuan paling dekat.
Misalnya, departemen kesehatan masyarakat yang saat ini berada di bawah naungan Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK).
Sementara, departemen farmasi dan departemen gizi sudah ada di bawah naungan Fakultas Ilmu Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA).
”Tiga departemen baru akan kami buka. Yakni departemen kedokteran itu sendiri, departemen kebidanan, dan departemen keperawatan,” terangnya. (Bersambung ke halaman selanjutnya)
UM juga sedang merencanakan pembangunan rumah sakit yang terpadu dengan FK UM. Namun realisasinya tidak akan dilakukan dalam waktu dekat.
Lokasinya belum ditentukan. Tapi kemungkinan besar akan berada di kampus 2 yang berada di Sawojajar.
Untuk sementara, UM menggandeng Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kanjuruhan Kabupaten Malang sebagai rumah sakit pendidikan utama. Rumah sakit tersebut juga akan di-backup tiga rumah sakit satelit.
Yakni RSUD Ngudi Waluyo Wlingi, Rumah Sakit Bhayangkara Pusdik Sabhara Porong, dan RSJ (Rumah Sakit Jiwa) Dr Radjiman Wediodiningrat Lawang.
”Ini sesuai dengan aturan negara dalam penyelenggaraan pendidikan kedokteran. Jadi harus ada satu rumah sakit pendidikan utama dan tiga rumah sakit pendidikan satelit,” imbuhnya.
Ibrahim juga menjelaskan bahwa jurusan kedokteran UM memiliki ciri khas. Yakni kedokteran olahraga.
Baca Juga : Unmer Malang Siapkan Fakultas Kedokteran.
Dari ciri khas tersebut, visi FK UM adalah menciptakan dokter yang profesional. Terutama dokter keolahragaan.
Senada dengan UM, Unmer juga berencana mendirikan FK. Namun mereka masih belum bersedia menjelaskan detail rencananya secara gamblang.
”Saat ini baru saja memulai untuk pembahasannya Kami memang belum mau untuk publikasi. Sebab persiapannya akan panjang,” ujar Kepala Biro Hubungan Masyarakat Unmer Dr Ana Mariani.
Rektor Unmer Prof Dr Anwar Sanusi SE Msi menambahkan, rencana pendirian FK dibuat setelah Unmer Malang mengakuisisi Unmer Ponorogo. Persiapannya sedang dikebut.
”Masih dalam tahap persiapan administrasi yang tentunya membutuhkan waktu,” tandasnya.
Sementara itu, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang mempunyai FK lebih dulu mengungkap alasan mengapa FK membuat kampus tampak lebih seksi. (Bersambung ke halaman selanjutnya)
Jurusan kedokteran juga selalu punya peminat paling banyak dibanding jurusan lainnya. Hal itu terjadi nyaris di semua kampus yang memiliki jurusan kedokteran.
Dekan FK UMM Dr dr Meddy Setiawan SpPD FINASIM mengatakan, setiap tahun UMM membuka 150 kuota bagi calon mahasiswa kedokteran. ”Kalau peminatnya mencapai 2.000 calon mahasiswa tiap tahun,” terangnya.
Meddy menilai jurusan kedokteran terus mengalami kenaikan pamor. Sebab masih banyak yang menganggap profesi dokter sebagai pekerjaan mulia dan menjanjikan.
Selain itu, serapan lulusannya di dunia kerja juga cepat. ”Tingkat keterserapan lulusan kami hampir 100 persen. Setiap tahunnya ada beberapa rumah sakit yang inden lulusan dokter dari FK UMM,” ucapnya.
Meddy menjelaskan, kekhasan jurusan kedokteran UMM adalah kedokteran industri. Artinya, mahasiswa kedokteran diorientasikan memahami gejala penyakit secara lebih kompleks. Terutama yang berkaitan dengan pekerjaan.
Ada beberapa penyakit yang dihasilkan akibat pekerjaan tertentu. Meddy mencontohkan seorang penjahit yang mengeluhkan sakit pinggang.
Baca Juga : RSUD Kanjuruhan Siap Cetak Calon-Calon Dokter Andal di Masa Depan.
Jurusan kedokteran umum biasanya akan mengobati berdasar keluhan saja. Misalnya dengan memberikan obat pereda rasa nyeri.
Namun, kedokteran industri akan melacak kemungkinan penyakit yang akan disebabkan oleh profesi atau pekerjaan-pekerjaan tertentu. Sehingga, diagnosis yang diberikan akan lebih kompleks atas pertimbangannya.
”Selain itu kami mempunyai visi untuk mencetak dokter yang profesional dan Islami. Kemampuan penanganan hal-hal khusus juga kami ajarkan. Misalnya dalam menangani pasien yang sedang sakaratul maut. Juga penanganan jenazah yang sesuai syariat,” pungkasnya.
Salah satu perguruan tinggi dengan peminat terbanyak pada program studi kedokteran adalah Universitas Brawijaya. Rata-rata setiap tahun di kisaran 5.000 calon mahasiswa.
Tahun ini, pendaftar yang ingin masuk melalui jalur prestasi saja mencapai 1.917 orang. Padahal kuota yang tersedia sedikit.
Dekan Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Brawijaya Dr dr Wisnu Barlianto SpA(K) MSi Med mengatakan, sebenarnya ada permintaan dari Kementerian Kesehatan untuk menambah kuota 20 persen. Tujuannya agar jumlah dokter di Indonesia semakin banyak. (Bersambung ke halaman selanjutnya)
”Namun, untuk meningkatkan daya tampung tidak mudah. Ada sejumlah indikator yang harus dipenuhi oleh perguruan tinggi,” kata Wisnu saat ditemui, kemarin (29/3).
Indikator itu berupa fasilitas penunjang kegiatan pembelajaran, laboratorium keterampilan medik, jumlah kelulusan, jejaring, hingga wahana pendidikan.
Karena itu, UB tidak bisa langsung menambah kuota seperti yang diminta Kemenkes. ”Kami naikkan 10 persen dulu. Tahun ini menjadi 275 dari yang semula 250 kursi,” terangnya.
Wisnu memberi contoh, pada wahana pendidikan, saat ini FK UB menggandeng RSUD Dr Saiful Anwar (RSSA) sebagai rumah sakit pendidikan utama.
Selanjutnya ada beberapa rumah sakit jejaring yang meliputi Rumah Sakit UB, RSUD Dr Iskak Kabupaten Tulungagung, RSUD Ngudi Waluyo Wlingi, dan RSUD Bangil Kabupaten Pasuruan.
Namun, penentuan rumah sakit jejaring atau afiliasi tidak bisa sembarangan. Untuk menempatkan co-ass atau mahasiswa program profesi jurusan kedokteran, setiap perguruan tinggi sangat selektif.
Baca Juga : Eksekusi Rumah Dinas Mantan Dokter RSSA Diwarnai Adu Mulut.
Ini didasarkan atas sejumlah indikator, seperti variasi kasus dan adanya pembimbing.
”Karena beberapa kasus atau penyakit sudah sulit ditemukan di RSSA, mengingat di sana merupakan rujukan tertinggi. kami juga mengirimkan mahasiswa ke rumah sakit jejaring,” terang Wisnu.
Selain UB, beberapa fakultas kedokteran di kampus lainnya juga turut menambah kuota. Salah satunya di Universitas Islam Malang (Unisma).
Selama dua tahun terakhir, kuota yang dibuka sebanyak 120 orang dari yang semula 100 orang. ”Alhamdulillah minat mahasiswa untuk mendaftar di FK Unisma ada peningkatan,” ujar Dekan FK Unisma dr Rahma Triliana MKes PhD.
Meski demikian, ada perguruan tinggi yang tidak menambah kuota untuk program kedokteran. Yakni UIN Maulana Malik Ibrahim Malang karena baru berdiri pada 2016.
Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Prof Dr dr Yuyun Yueniwati PW MKes SpRad(K) mengungkapkan, saat ini di tempatnya masih ada dua angkatan saja. (Bersambung ke halaman selanjutnya)
Satu angkatan memiliki 50 mahasiswa. Meski baru berdiri, FK UIN Maulana Malik Ibrahim Malang juga memiliki rumah sakit pendidikan. Yakni di RSUD Karsa Husada Batu.
”Berbeda dengan perguruan tinggi lain, kami menjalin afiliasi dengan RSSA untuk forensik,” sebutnya.
Itu dibenarkan oleh Komite Koordinator Pendidikan RSSA Dr Badrul Munir SpS(K).
Dia menjelaskan, selain menjadi rumah sakit pendidikan utama bagi FK UB, pihaknya menjalin kerja sama dengan FK UIN Maulana Malik Ibrahim Malang untuk pendidikan forensik.
Terkait kuota mahasiswa kedokteran yang menjalani pendidikan di RSSA, Badrul menyebutkan 1:5 untuk mahasiswa profesi. Artinya, satu dosen membimbing lima mahasiswa.
”Saat ini ada 456 mahasiswa profesi dokter yang menjalani pendidikan,” bebernya. (mel/fat) Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana