DIES Natalis ke-41 Politeknik Negeri Malang (Polinema) tahun ini berasa istimewa. Tidak hanya menjadi event besar perdana setelah pandemi Covid-19, tetapi juga wadah unjuk hasil karya seluruh civitas akademika Polinema.
Jika Minggu (21/5) digelar jalan sehat dengan ribuan peserta, Senin (22/5) kemarin menjadi pembuka Ekspo Hasil Penelitian dan Produk Inovasi Polinema 2023.
Direktur Polinema Supriatna Adhisuwignjo ST MT mengungkapkan, ekspo tersebut diharapkan dapat menjadi wadah para dosen dan mahasiswa untuk menampilkan karya atau project yang telah mereka hasilkan. Mulai dari hasil riset, hasil skripsi maupun program pengabdian yang sudah mereka jalankan.
“Dengan ekspo ini harapannya karya-karya dosen dan mahasiswa dapat bertemu dengan masyarakat yang membutuhkan untuk bersinergi dan berkembang bersama,” tuturnya.
Sehingga, berbagai kalangan masyarakat yang menjadi sasaran mulai dari UMKM hingga kelompok industri yang membutuhkan karya-karya tersebut bisa terwadahi.
Di tengah-tengah ekspo kemarin juga diadakan talkshow dengan tema ”Hilirisasi Hasil Riset dan Pemberdayaan Masyarakat dan UMKM”. Talkshow yang berlangsung mulai pukul 09.30 tersebut diisi oleh beberapa pemateri. Di antaranya Direktur Polinema, Kepala Bappeda Kabupaten Malang, Perwakilan Desa Mitra Polinema, dan juga Perwakilan UMKM Malang.
Talkshow itu sekaligus sebagai ajang diskusi antara kampus, pemerintah yang diwakili Bappeda dan juga pelaku UMKM. Bahwa saat ini perlu perluasan jejaring kerja sama yang tepat sasaran. Penguatan SDM juga perlu dilakukan melalui pelatihan dan sertifikasi baik teknis maupun kewirausahaan.
Dihari yang sama, digelar pula talkshow kedua dengan tema “Mengangkat Potensi Batik Saman Khas Kota Malang untuk Mengangkat Kesejahteraan Masyarakat.”
Kali ini, pematerinya adalah Wali Kota Malang Drs H Sutiaji, Ketua Presidium Dewan Kampung Nuswantoro, dann juga pegiat sejarah Dwi Cahyono. Batik Saman merupakan batik khas Kota Malang selain motif topeng. Harapannya batik tersebut dapat terus dilestarikan dan menjadi mengangkat perekonomian masyarakat Kota Malang.
Supriatna mengungkapkan, talkshow di tengah ekspo tersebut sebagai bukti aktivitas yang nyata mengenai sinergi mereka dengan berbagai pihak. “Jadi ini menjadi aktivitas yang nyata, tidak hanya secara simbolis di MoU saja, tetapi ada bentuk kerja sama yang riil,” tuturnya.
Selain itu kemarin juga diadakan launching pusat kajian ekonomi kreatif dan pemberdayaan masyarakat sekaligus penandatanganan 50 MoU dengan UMKM, SMK, SMP, dan industri. Beberapa di antaranya adalah UMKM Amor Parfume, Koffie Oma, Rosya Singosari, SMPN 2 Wajak Satu Atap, SMKN 8 Malang, dan juga SMKN 9 Malang.
Supriatna mengungkapkan acara tersebut diadakan bersamaan karena memang tema yang diangkat tahun ini berkaitan dengan UMKM. Saat ini Polinema memiliki tujuh jurusan, 14.000 mahasiswa, 5 guru besar dan juga tiga kampus di luar Malang untuk penguatan kemitraan daerah.
Polinema juga memiliki 368 kerja sama dalam negeri dan 45 kerja sama aktif luar negeri. “Kami berharap Polinema dalam waktu ke depan akan memberi kontribusi yang lebih kepada pemberdayaan masyarakat dan UMKM yang ada di Malang Raya,” tutupnya. (jprm3/dur/nen) Editor : Neny Fitrin