6.000 Maba Tampilkan Flashmob ala Running Text
MALANG KOTA - Pekan studi mahasiswa baru (Pesmaba) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) selalu ditunggu banyak khalayak.
Bukan hanya oleh mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Malang, tapi juga masyarakat dan mahasiswa lain.
Hal itu berkat banyaknya kejutan dan kreativitas berbeda setiap tahun di Pesmaba Universitas Muhammadiyah Malang.
Tahun ini, inovasi baru kembali ditampilkan pada pembukaan Pesmaba UMM.
Jika tahun lalu menyuguhkan jas mob dan flashmob secara statis, maka pada 2023 ini, 6.000 mahasiswa UMM memberikan sentuhan yang lebih unik.
Yakni flashmob yang dinamis.
Koreografi atau gerakan-gerakan yang dilakukan memungkinkan formasi dapat bergerak layaknya tulisan running text.
Pesan-pesan yang diberikan juga beragam dan bermakna dalam.
Utamanya tentang Sustainable Development Goals (SDGs).
Bahkan menampilkan semua 17 logo SDGs yang menjadi target dunia.
Ini juga mengukuhkan UMM sebagai kampus yang mendukung penuh upaya mencapai target-target tersebut.
Rektor UMM Prof Dr Fauzan MPd mengatakan, konsep itu mempertegas bahwa UMM terus berupaya merealisasikan SDGs untuk kemajuan bangsa.
Apalagi selama ini, Kampus Putih (salah satu julukan UMM) juga turut serta aktif dalam berbagai poin penting SDGs.
Seperti bidang pangan, energi, dan aspek lainnya.
Fauzan juga mengatakan bahwa Pesmaba UMM merupakan salah satu tahap penting di pendidikan tinggi, khususnya sebagai fondasi awal bagi mahasiswa.
Melalui Pesmaba, mereka mulai mendapat gambaran bagaimana meraih potensi dan mendalami passion masing-masing.
Sehingga pada akhirnya juga akan memberikan kontribusi dan solusi bagi masyarakat luas.
Sementara itu, keberhasilan beragam formasi yang ditampilkan dalam flashmob tak lepas dari peran Koordinator JasMerahMob Jamroji SSos MComms.
Dia mengatakan, ada 32 formasi yang sukses diperagakan oleh lebih dari 6.000 mahasiswa baru UMM.
Mulai dari membentuk tulisan Generasi Tangguh, logo ASEAN, logo SDGs, Center for Future Work, UMM Pasti, No Poverty, dan berbagai bentuk lainnya.
Jumlah formasi yang banyak tentu memberikan tantangan dan kesulitan tersendiri untuk Jamroji dan tim.
Mereka harus membuat kode-kode khusus di lapangan agar bisa membentuk gerakan dinamis.
Saat ditayangkan, gambar bisa bergerak dan tidak patah-patah.
”Alhamdulillah, mahasiswa baru, tim, dan volunteer bisa bersama-sama kompak dalam menjalankan tiap gambar yang ada,” pungkas dosen Ilmu Komunikasi tersebut. (*/fat)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana