Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Implementasi Kurikulum Merdeka di Malang, Lihat Bagaimana Leluasanya Siswa Pilih Jurusan di SMA

Yudistira Satya Wira Wicaksana • Kamis, 11 Januari 2024 | 18:39 WIB

 

Suasana belajar di SMAN 9 Malang. Implementasi Kurikulum Merdeka dalam memilih mata pelajaran mulai diterapkan.
Suasana belajar di SMAN 9 Malang. Implementasi Kurikulum Merdeka dalam memilih mata pelajaran mulai diterapkan.

MALANG KOTA - Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM) di Malang, terutama untuk jenjang SMA kian terasa berbeda.

Contoh, sesuai amanat Kurikulum Merdeka, siswa kelas X di Malang sudah harus implementasi dengan memilih mata pelajaran (mapel) apa saja yang diminati.

Itu karena program penjurusan IPA, IPS, dan bahasa di Malang, tidak diimplementasikan sejak pergantian Kurikulum 2013 (K-13) menjadi Kurikulum Merdeka pada 2022 lalu.

Dengan kebebasan memilih mapel, diharapkan tak ada alasan lagi siswa tertekan akibat tak minat dengan mapel tertentu.

Siswi kelas XI SMAN 9 Malang Naila Khurin Maulida mengaku senang dengan Kurikulum Merdeka.

Sebab, dia tak harus belajar mapel yang tidak dia minati.

Dia bebas memilih empat mapel yang benar-benar dia minati.

Itu berbeda dengan sistem penjurusan seperti pada K-13.

Siswa akan mendapat satu paket mapel yang harus dipelajari saat memilih program penjurusan IPA, IPS, atau bahasa.

Misalnya, dalam jurusan IPA.

Mereka harus belajar mapel matematika, biologi, kimia, dan fisika.

”Sementara saya hanya suka mapel biologi dan mapel kimia saja. Sedangkan mapel fisika saya tidak suka,” ucapnya. 

Kurikulum Merdeka memungkinkan Naila mengambil mapel dari semua bidang keilmuan.

Baik IPA, IPS, maupun bahasa.

”Seperti saya sekarang mengambil dua mapel IPA dan dua mapel IPS. Jadi separo-separo,” imbuhnya. 

Siswi lain dari sekolah yang sama, Cybi Arunaragi Sunyaranya mengatakan, ada beberapa tahap yang dilakukan sekolah untuk mengeluarkan rekomendasi pilihan mapel.

”Kami mengisi google form sebanyak dua kali,” kata dia.

Formulir itu berisi tentang mapel yang diminati dan jurusan yang akan diambil saat kuliah nanti.

Pilihan mapel itu juga harus disesuaikan dengan nilai mapel yang dibutuhkan untuk seleksi nasional penerimaan mahasiswa baru (SNPMB) nanti.

Kendati begitu, Cybi mengaku rekomendasi itu sifatnya fleksibel.

Alias boleh diambil boleh tidak.

”Seperti saya ada satu rekomendasi mapel yang tidak saya ambil,” ucapnya.

Siswi kelas XI itu mengaku ingin melanjutkan kuliah di jurusan Hubungan Internasional (HI). 

Di tempat terpisah, Kepala SMAN 4 Malang Hari Wahyono mengatakan Kurikulum Merdeka memberikan tanggung jawab lebih ekstra pada sekolah.

Sebab, sekolah harus membuat pemetaan sejak kelas X.

Sebelum akhirnya siswa memilih mapel yang mereka inginkan. 

Kendati bebas memilih, siswa harus menyesuaikan dengan jurusan yang diambil di perguruan tinggi nanti.

Hari mengaku untuk hal itu pihaknya melibatkan orang tua siswa.

”Sebab, orang tua harus paham dengan ini juga,” ucapnya. (dre/by)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#Implementasi Kurikulum Merdeka #sma #malang