Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Pengalaman Mahasiswi UMM Sabil Salsabila Naqqiyah Rafie KKN di Malaysia, Ajar Anak TKI Ilegal

Mahmudan • Rabu, 21 Februari 2024 | 18:00 WIB

 

PENDIDIK: Salwa Salsabila Naqqiyah Rafie (lima dari kiri) bersama para guru saat pentas seni di Selangor, Malaysia.
PENDIDIK: Salwa Salsabila Naqqiyah Rafie (lima dari kiri) bersama para guru saat pentas seni di Selangor, Malaysia.

PENDIDIK: Salwa Salsabila Naqqiyah Rafie (lima dari kiri) bersama para guru saat pentas seni di Selangor, Malaysia.

PENGALAMAN Kuliah Kerja Nyata (KKN) selama sebulan di Malaysia membuka mata Sabil Salsabila Naqqiyah Rafie lebih lebar lagi.

Mahasiswi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu sedih setelah mengetahui pendidikan anak bangsa di negeri jiran.

Sama-sama terlahir dari ”rahim” ibu pertiwi, tapi fasilitas dan kualitasnya jauh berbeda.

Setidaknya, itulah yang dirasakan Salwa saat mengajar puluhan anak para TKI (kini disebut pekerja migran) ilegal di Selangor, Malaysia pada 13 NovemberDesember 2023 lalu.

”Saya ditempatkan di Sanggar Belajar At Tanzil, Ampang, Selangor,” ujar mahasiswi semester enam itu.

Sanggar belajar tersebut di bawah naungan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kuala Lumpur.

Jumlah sanggar untuk anakanak para TKI ilegal itu tidak hanya satu, melainkan ada beberapa titik.

Di antaranya di Penang, Selangor, dan Johor.

Sanggar belajar itu khusus digunakan sebagai tempat belajar untuk anak-anak TKI ilegal di sana.

Mereka tak bisa masuk ke sekolah formal lantaran orang tuanya tak memiliki kartu identitas kependudukan yang resmi.

Tentu saja hal itu berdampak terhadap anak-anaknya, termasuk soal pendidikan.

Itulah yang membuat bocah-bocah itu harus belajar di sanggar.

Kendati begitu, tak semua orang tua memiliki kesadaran untuk memasukkan anakanaknya di sanggar belajar.

Sabil heran saat pertama kali mengajar anak-anak tersebut.

Sebab, sanggar belajar tersebut memiliki perbedaan yang sangat jauh dengan pendidikan formal di Indonesia.

Normalnya, usia anak yang masuk kelas 1 SD berkisar 6-7 tahun.

Namun di sana, anak yang berusia 10 tahun masih berada di kelas 1.

Itu karena penempatan kelas benar-benar menyesuaikan kemampuan masing-masing siswa.

“Kalau di sekolah formal, ada yang tidak naik kelas. Di sini juga diberlakukan hal yang sama,” ungkap gadis berusia 21 tahun itu.

Selain usia siswa yang lebih tua dibandingkan di Indonesia, kualitasnya juga rendah.

Terutama soal baca, tulis, dan berhitung (calistung).

Misalnya, bocah setara kelas II dan III SD, namun belum lancar membaca dan menulis.

Itulah yang membuat Sabil menekankan pembelajaran pada calistung.

Fasilitas pendidikan yang seadanya juga membuat Sabil prihatin.

Bocah-bocah itu belajar di sebuah aula besar.

Untuk membedakan tiap kelasnya hanya diberikan sekat berupa papan.

Sehingga kerap kali suara guru yang tengah mengajar di kelas I, seolah bersahut-sahutan dengan guru di kelas lain.

Itu karena suara proses belajar mengajar di satu kelas bisa terdengar oleh kelas lainnya.

Untuk itu, Sabil merasa situasi belajar tersebut kurang kondusif.

Apalagi anakanak mudah berpindah kelas, lalu berkomunikasi dengan siswa dari kelas lainnya.

Lagi-lagi itu karena sekat antar kelas yang hanya berupa papan tipis.

Kendati begitu, pengalaman mengajar anak-anak di sana menjadi momen yang tak terlupakan baginya.

Terutama saat gadis kelahiran 2003 itu bertemu dengan salah seorang siswa bernama Aiman.

Dia terharu dengan kisah Aiman.

Setelah belajar, bocah kecil itu membantu ibunya bekerja.

Ibunya memiliki usaha daycare.

Anak-anak yang dititipkan dalam daycare tersebut diawasi oleh Aiman.

”Belajar mengajar di sanggar hanya berlangsung empat jam,” kata Sabil.

Menyaksikan kebaktian Aiman kepada ibunya, Sabil makin bersemangat mengajari anak-anak itu.

Termasuk membuat sejumlah program belajar yang menyenangkan. Salah satunya tentang pengenalan budaya Indonesia.

Misalnya mengajak anak-anak bermain permainan tradisional. Di antaranya permainan gobak sodor dan petak umpet.

”Kami ajak mereka bermain satu kali seminggu,” ungkapnya.

Selama menjalani KKN, Sabil juga berkomunikasi dengan para guru di sanggar tersebut.

Di tempat Sabil bertugas, hanya ada 4-5 guru dalam satu sanggar.

Guru-guru tersebut didatangkan dari Indonesia.

Namun ada juga yang berasal dari asli Malaysia.

Dengan jumlah guru yang terbatas, mereka haru mengajar sekitar 90 anak.

Namun jumlah siswa tiap kelas berbeda-beda.

”Yang paling banyak di kelas satu. Ada 30 anak,” ujarnya.

Meski hanya sebulan mengajar, Sabil bahagia bisa mengikuti program KKN tersebut.

Dari pengalamannya itu, dia sadar bahwa pendidikan bukan hanya soal mengajar dan belajar.

Tapi juga membantu menyelesaikan permasalahan di luar pendidikan. (*/dan)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#Sabil Salsabila Naqqiyah Rafie #UMM #tki ilegal