MALANG - Bahasa Malangan masih akrab di telinga Arek Malang di tahun 2024 Ini.
Gen Z yang kelahiran di atas tahun 2000, sampai boomer tak asing dengan bahasa Malangan yang identik dengan walikan-nya.
Namun, tahukah anda, pejuang malangan era kemerdekaan ternyata memakai bahasa walikan untuk kontra intelijen?
Begini ceritanya.
Walikan adalah istilah dalam bahasa Jawa yang berasal dari kata "walik", yang berarti terbalik.
Secara umum, bahasa walikan digunakan oleh berbagai kalangan masyarakat, terutama generasi muda di Malang.
Biasanya, bahasa walikan bisa mempererat ikatan pertemanan dan membangun identitas yang unik.
Namun, penting untuk dicatat bahwa penggunaan bahasa slang seperti kiwalan ngalaman saat ini sebenarnya pertama kali muncul sebagai strategi komunikasi militer.
Bahasa walikan lahir dari pasukan pejuang Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan Gerilya Rakyat Kota (GKR) saat agresi militer Belanda I dan II di wilayah Malang.
Tujuan di balik agresi militer Belanda I dan II adalah untuk mengendalikan berbagai aset ekonomi yang melimpah sumber daya alamnya.
Serta untuk melemahkan status Indonesia sebagai negara yang bersatu.
Ketika agresi militer Belanda II tahun 1948-1949 berlangsung, pasukan TKR dan GRK bertempur secara gerilya untuk mempertahankan kota Malang.
Meskipun Belanda berhasil menguasai Malang pada saat itu, sebagian warga tetap memilih untuk tinggal di kota tanpa mengungsi.
Sebagai respons, pihak Belanda mendirikan pos penjagaan di sekitar perbatasan kota Malang.
Tidak hanya itu, mereka juga mengirim sejumlah kelompok intelijen yang mahir berbahasa Jawa dengan menggunakan dialek Malangan untuk menyusup ke dalam GRK.
Terutama untuk mencari informasi mengenai sisa pasukan Mayor Hamid Rusdi yang gugur pada tanggal 8 Maret 1949 dalam pertempuran di Dukuh Sekarputih (sekarang Desa Wonokoyo).
Sisa pasukan Mayor Hamid Rusdi ada yang ditangkap sekalipun telah bersembunyi.
Karena, gerak-gerik mereka yang mulai terbaca oleh intelijen Belanda.
Dalam upaya mengantisipasi kemungkinan kebocoran informasi internal gerilyawan, tokoh penting GRK, yaitu ebes (bapak) Suyudi Raharno, mulai memperkenalkan penggunaan slang osob kiwalan ngalaman sebagai upaya kontra intelijen.
Penggunaan bahasa walikan menjadi strategi anti-intelijen sekaligus metode kode sandi untuk memisahkan antara anggota GRK dan musuh.
Keistimewaan dari bahasa slang osob kiwalan ngalaman terletak pada frekuensi penggunaan kode yang tinggi.
Serta, kurangnya keterikatan terhadap aturan tata bahasa yang konvensional.
Selain itu, osob kiwalan ngalaman hanya mengenal satu cara dalam pengucapan dan penulisan, yaitu dengan membalikkan kata dari belakang ke depan.
Dengan komitmen yang kuat dan interaksi yang intensif sehari-hari, pasukan GRK berhasil dengan cepat menguasai bahasa slang osob kiwalan ngalaman (Hermawan, 2014).
Strategi ini terbukti efektif dalam menghadapi upaya penyusupan intelijen Belanda ke dalam barisan GRK.
Osob kiwalan ngalaman telah menjadi bahasa yang populer di kalangan masyarakat Malang seiring berjalannya waktu.
Secara esensial, bahasa slang ini sangat dinamis, karena terus menerus mengadopsi kata-kata baru dari interaksi sehari-hari.
Oleh karena itu, proses adaptasi dan familiarisasi dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Malang menjadi kunci.
Supaya, bahasa slang osob kiwalan ngalaman tetap relevan dan populer, tak hanya di kalangan boomer sampai milenial, tetapi juga Gen Z.(*/fin)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana