MALANG - Dalam ada banyak istilah pengganti untuk kata bodoh dalam Bahasa Jawa.
Seperti goblok, pekok, kentir, dan sontoloyo.
Di Malang, salah satu istilah yang cukup familiar adalah pelo.
Istilah itu juga bisa digunakan untuk menggambarkan pembawaan seseorang yang kurang lancar dalam berbicara.
Dari dulu, pemerhati Bahasa Malangan Arief Wibisono mengatakan bila istilah pelo biasa digunakan untuk mengumpat seseorang.
”Contoh penggunaannya seperti arek iku ancen pelo, ora iso dijak ngomong apik-apikan,” kata dia.
Berdasar pengamatannya, istilah tersebut banyak digunakan di Kota Malang mulai tahun 1950-an.
Saat itu yang banyak menggunakannya yakni warga-warga di perkampungan dan pasar.
Awalnya, Bison-sapaan akrabnya menyebut bila istilah itu digunakan sebagai kata ganti bodoh.
Namun seiring perkembangan waktu, istilah tersebut juga digunakan untuk menunjukkan ketidaklancaran seseorang dalam berbicara.
Misalnya, seseorang sedang mengalami sakit stroke.
Salah satu gejalanya adalah serangan pada kemampuan berbicara.
Kesulitan berbicara pada orang stroke ini sering diasosiasikan dengan kata pelo.
Contoh, delok en wong iku, mari kenek stroke ngomong e pelo.
”Dua konteks tersebut sampai sekarang masih sama-sama dipakai. Hanya saja kalau sekarang lebih banyak dipakai yang mengatai orang bodoh,” tandas dia. (biy/by)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana