Buka Pendaftaran Offline, Ada Yang Baru Dapat 3 Siswa
MALANG KOTA - Seleksi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) online jenjang SD diumumkan kemarin (5/7).
Tampak, beberapa sekolah masih belum memenuhi target pagu.
Karena itu, beberapa dari SD negeri membuka pendaftaran secara offline.
Itu dilakukan di 62 SD negeri yang belum memenuhi pagu.
Sebagai informasi, ada 195 SD negeri di Kota Malang.
Dari total itu, pagu yang disediakan sebanyak 8.322 kursi.
Pagu tersebut terbagi menjadi tiga jalur.
Yakni jalur zonasi sebanyak 80 persen, jalur afirmasi 15 persen dan jalur mutasi 5 persen.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang Suwarjana merinci, ada 7.663 pelajar yang mendaftar di tiga jalur tersebut (selengkapnya baca grafis).
”Paling banyak memang tiap tahun di jalur zonasi,” terangnya.
Dari total pendaftar itu, ada 6.037 pelajar yang dinyatakan lolos.
Sisanya ada sebanyak 1.626 siswa yang dinyatakan gugur.
Gagalnya pelajar masuk ke SD negeri itu dipengaruhi beberapa faktor.
Misalnya di jalur zonasi.
Biasanya, pendaftar di satu sekolah yang melebihi kuota terpaksa diseleksi oleh sistem.
Yakni dipilih pelajar yang domisilinya paling dekat dengan sekolah.
Jana juga menyebut ada beberapa SD negeri yang difavoritkan warga.
Seperti SD negeri Percobaan 1, Percobaan 2, Kauman 1, dan SDN Bareng 3.
”Kebanyakan daftar di sekolah favorit. Imbasnya ada beberapa sekolah yang akhirnya kekurangan siswa,” papar dia.
Dari hasil PPDB SD itu, tercatat ada 62 sekolah yang belum memenuhi pagu.
Totalnya ada 2.285 kursi yang masih kosong.
Jana menyebut, kekosongan kursi di SD negeri saat PPDB merupakan hal yang wajar.
Sebab, jumlah rombongan belajar (rombel) atau pagu yang dibuka setiap sekolah berbeda-beda.
Kadang, kekurangannya hanya satu hingga lima kursi saja.
”Tapi juga ada yang pendaftarnya sedikit,” ujarnya.
Faktor lain yang menyebabkan minimnya pendaftar di SD negeri bisa disebabkan karena berkurangnya penduduk usia sekolah di beberapa wilayah.
Sebagai contoh di wilayah Kecamatan Kedungkandang.
Meskipun wilayahnya luas, namun penduduk di sana lebih sedikit.
Sehingga, anak yang bersekolah di wilayah tersebut ikut berkurang.
Pria asal Bantul itu mengungkapkan, munculnya beberapa SD swasta unggulan juga turut menarik minat masyarakat.
Tak terkecuali sekolah swasta berbasis agama atau boarding school.
Sehingga meskipun biayanya mahal, namun output yang ditawarkan lebih baik dibanding sekolah negeri.
Agar jumlah kursi kosong bisa ditekan, Jana mengatakan agar masing-masing sekolah yang kekurangan siswa membuka PPDB secara offline.
Rentang waktunya dibuat panjang.
Sifatnya juga fleksibel.
”Bisa dilakukan sampai pagu terpenuhi semuanya,” ucapnya.
Dengan catatan, sebelum tahun ajaran baru dimulai.
Menurut pantauan Jawa Pos Radar Malang kemarin, kekosongan kursi di beberapa SD negeri tampaknya masih sulit terpenuhi.
Progres pendaftar offline juga belum banyak.
Bahkan, beberapa sekolah menerima pendaftar dari luar Kota Malang.
Seperti dilakukan oleh SD Negeri Bareng 4.
Tim PPDB SD Negeri Bareng 4 Sumarlin menuturkan, pihaknya hanya berhasil mendapat dua siswa pada saat PPDB online.
Kedua siswa tersebut mendaftar di jalur zonasi.
Akhirnya, pihaknya membuka pendaftaran secara offline mulai kemarin pukul 08.00.
”Masih ada satu siswa saja yang daftar via offline,” jelas Marlin.
Sehingga total siswa baru yang diterima hanya berjumlah tiga pelajar.
Sementara, jumlah pagu yang disediakan di sana sebanyak 21 kursi.
Artinya, masih butuh 19 pelajar lagi untuk memenuhi pagu.
Marlin menduga, ketatnya persaingan di Kelurahan Bareng menjadi faktor utama minimnya pendaftar.
Selain itu, letak sekolahnya yang berada di wilayah kurang strategis membuat banyak warga tak tahu.
Meski begitu, pihaknya tetap mengupayakan pemenuhan pagu sebelum tahun ajaran baru.
Senada dengannya, kekurangan siswa juga dirasakan SD Negeri Kauman 2.
Tim PPDB SD Negeri Kauman 2 Anita Dewi Anggraini mengaku pihaknya masih menerima 31 pelajar.
”Pagu di tempat kami berjumlah 62 pelajar,” kata dia.
Anita mengaku pihaknya telah membuka pendaftaran secara offline.
”Sudah ada tambahan lima pelajar dari Kabupaten Malang,” paparnya.
Kelima siswa tersebut bahkan mendaftar sebelum PPDB offline dibuka.
Sebab, mereka tak bisa mengikuti seleksi online karena alamat di KK-nya bukan Kota Malang.
Menanggapi kekurangan pelajar itu, anggota Komisi D DPRD Kota Malang Suryadi mengungkapkan, bila kekosongan kursi pada jenjang SD bukan sebuah masalah besar.
Sebab, hal tersebut masih bisa diatasi dengan pengalihan kuota dari SD negeri yang pendaftarnya berlebih.
Sehingga bisa saling menutup kekurangan.
Kendati begitu, Suryadi mengaku belum berkoordinasi dengan Disdikbud terkait hasil PPDB SD.
”Nanti kami monitor sekolah yang kesulitan mencari siswa untuk kami bantu,” paparnya.
Dia menyebut bisa jadi sekolah tersebut perlu bantuan untuk peningkatan kualitas belajar atau infrastruktur sekolah.
Dia juga menekankan perlunya peningkatan kualitas bagi sekolah yang eksistensinya mulai merosot.
Seperti diberikan pembinaan untuk meningkatkan mutu dan akreditasi.
Bisa juga lebih getol melakukan promosi agar makin dikenal masyarakat. (ori/by)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana