Prediksi dari Disdikbud, Mayoritas Sekolah Favorit
MALANG KOTA - SD swasta di Kota Malang lebih leluasa dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB).
Sebab, tak ada petunjuk teknis (juknis) khusus yang mengatur mereka.
Semua sistem bergantung pada kebijakan masing-masing sekolah.
Baik waktu pelaksanaan, proses seleksi, hingga pagu yang dibuka.
Sehingga, pelaksanaan PPDB di SD swasta lebih fleksibel.
Bahkan, beberapa sekolah telah membuka pendaftaran jauh sebelum tahun ajaran baru dimulai.
Beberapa dari mereka juga mengaku membuka pendaftaran sepanjang tahun.
Artinya, mereka tetap menerima siswa baru meski pembelajaran telah bergulir.
Kepala bidang (Kabid) Pembinaan Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang Dodik Teguh Pribadi menyebut, total ada 90 SD swasta di Kota Malang.
Dari jumlah itu, kalkulasi daya tampung yang diterima setiap tahun sekitar 5.500 pelajar.
”Biasanya SD swasta unggulan saja yang jadi favorit, totalnya sekitar 36 sekolah,” kata dia.
Sementara 54 sekolah lainnya masih berusaha memenuhi pagu.
Dodik menyebut tren peminat SD swasta didasari beberapa faktor.
Seperti kualitas layanan dan mutu pendidikan yang lebih baik ketimbang SD negeri.
Karena itu, tak heran bila sejumlah sekolah negeri kekurangan siswa.
Seperti diberitakan sebelumnya, ada 62 SD negeri yang belum sanggup memenuhi pagu dalam PPDB.
Karena itu, mereka membuka pendaftaran offline.
Kini, sekolah-sekolah negeri itu juga harus bersaing dengan SD swasta.
Khususnya SD swasta favorit.
Misalnya SD Insan Amanah, SD Insan Permata, SD Anak Saleh, SD Sabilillah dan lain sebagainya.
”Mereka biasanya buka rombel (rombongan belajar) yang banyak, sekitar empat sampai lima rombel,” ujar Dodik.
Di tempat lain, Koordinator Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) SD Swasta Kota Malang Agus Suharjata menyebut bila beberapa sekolah belum bisa memenuhi pagu.
Sayangnya, dia belum bisa menyebut jumlah pastinya. ”Sebenarnya, kami tidak pernah mendata khusus keterpenuhan pagu,” kata dia.
Agus menerangkan bila animo pendaftar di SD swasta selama ini lebih fleksibel.
Sehingga, memang ada sekolah-sekolah yang menjadi jujukan siswa baru saat PPDB berlangsung.
Namun, masih ada pula sekolah yang kesulitan mencari siswa.
Bahkan beberapa di antaranya yang tak genap memiliki 10 siswa.
Menurut pantauan Jawa Pos Radar Malang, beberapa SD Swasta unggulan tampak sudah memenuhi pagu terlebih dulu.
Misalnya di SDIT Insan Permata.
”Total yang kami terima tahun ini ada 112 siswa baru,” terang Tim PPDB SDIT Insan Permata Khoirul Anam.
Anam menjelaskan bila pihaknya telah membuka gelombang PPDB sejak bulan November 2023.
Mereka hanya membuka satu gelombang saja setiap tahunnya.
”Kami juga ada tes psikologi dan menyeleksi siswa yang mendaftar sesuai kriteria,” jelasnya.
Di tempat lain, anggota Komisi D DPRD Kota Malang Suryadi mengatakan bila pihaknya akan memantau pertumbuhan sekolah swasta di Kota Malang.
Terlebih, masih banyak SD Negeri yang kekurangan siswa.
Dia menilai perlu ada regulasi khusus untuk pengetatan pendirian sekolah swasta baru.
”Harus ditinjau kembali seperti visi dan misi pendirian sekolah ataupun layanan pendidikan yang disediakan,” terang politisi partai Golkar itu.
Selain SDIT Insan Amanah, ada SD Katolik Mardiwiyata 2 yang sudah memenuhi pagu dalam PPDB.
Sekolah di Jalan Semeru Nomor 36 itu membuka pendaftaran sejak Januari 2024.
Mereka membuka dua rombel.
Jumlah satu rombel sesuai dengan standar yang ditetapkan pemerintah, yakni 28 siswa.
Dengan demikian, ada kuota untuk 56 siswa.
Menurut Kepala SDK Mardiwiyata 2 Y V C Hansri Amahurit, jumlah kuota pendaftaran siswa tahun ini meningkat.
Meski demikian, sejak Juni lalu pagunya sudah terpenuhi.
”Kalau tahun lalu hanya 40 siswa,” terang pria yang akrab disapa Frater Tommy tersebut.
Dia menambahkan, kebanyakan pendaftar berasal dari TK di sekitar SDK Mardiwiyata 2.
Seperti TK Mardiwiyata, TK Santa Maria, dan TK lain di Kecamatan Klojen.
Sejauh ini, proses pendaftaran siswa baru juga tidak menemui kendala signifikan.
Apalagi bantuan pendidikan seperti BOSDA juga menyasar sekolah swasta.
Itu turut membantu warga pra-sejahtera yang ingin mendaftarkan anaknya di sekolah swasta.
”Tahun lalu, di sekolah kami ada empat sampai lima anak yang mendapat bantuan,” imbuh Frater Tommy.
Peningkatan pendaftar juga dirasakan SD Sang Timur.
Wakil Kepala SD Sang Timur Yohana Suciningtyas mengatakan, tahun lalu pihaknya membuka kuota untuk 60 siswa.
Namun hanya terpenuhi 32 siswa.
Sementara tahun ini, berdasar ketentuan dapodik jumlah kuota di sana mencapai 56 anak.
Pada bulan Juni lalu, kuota itu telah terpenuhi.
”Kebanyakan pendaftar dari TK Sang Timur, tapi ada juga sebagian yang pindahan dari luar kota,” imbuh perempuan yang akrab disapa Cici itu.
Kendati demikian, ada pula SD swasta yang kuotanya belum terpenuhi.
Salah satunya yakni Sekolah Alam Avesiena Malang (SAAM).
Kepala SAAM Lilla Yustitia Prima Duhita menyebut, baik tahun lalu maupun tahun 2024, pihaknya membuka kuota untuk 10 siswa.
”Hingga kini yang terpenuhi baru delapan siswa,” ucapnya.
Meski begitu, mereka optimistis bisa memenuhi kuota.
Sebab, ada peminat-peminat seperti dari TK Avisiena dan sekolah di sekitar Kelurahan Sawojajar, Kecamatan Kedung-kandang. (ori/mel/by)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana