Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Cerita SMP Islam Ulul Albab Malang yang Selalu Kesulitan Mencari Siswa Baru

Bayu Mulya Putra • Selasa, 23 Juli 2024 | 23:20 WIB
TETAP BERTAHAN: Siti Mutaminatun Ula, Kepala SMP Islam Ulul Albab (empat dari kanan) bersama tiga guru dan enam siswa di sana, kemarin.
TETAP BERTAHAN: Siti Mutaminatun Ula, Kepala SMP Islam Ulul Albab (empat dari kanan) bersama tiga guru dan enam siswa di sana, kemarin.

Diawali Konflik di Yayasan, Guru Hanya Diberi Uang Transport

Pada PPDB tahun ini, SMP Islam Ulul Albab menerima tiga siswa baru. 

Itu lebih baik ketimbang tahun lalu, saat tak ada siswa baru sama sekali. 

Konflik di yayasan membuat mereka kesulitan dalam mengembangkan sekolah. 

RORI DINANDA BESTARI

Letak SMP Islam Ulul Albab berada di perbatasan antara Kota Malang dan Kabupaten Malang. 

Tepatnya di Jalan Mayjend Sungkono Nomor 57, Kelurahan Buring, Kecamatan Kedungkandang. 

Baca Juga: Kasihan, Gara-Gara PPDB Negeri, Dua SMP Swasta di Kota Malang Tak Kebagian Siswa Baru

Sekolah itu cukup jauh dari permukiman warga. 

Untuk mengaksesnya harus melewati area perkebunan dan masuk gang dengan lebar sekitar satu setengah meter. 

Tak ada tanda pengenal meski sudah memasuki pelataran SMP Islam Ulul AlbabHanya ada tiga ruang kelas di sana. 

Semua dilengkapi dengan meja kursi berbahan dasar kayu. 

Bangunan dengan warna hijau itu satu kawasan dengan MI Nurul Huda dan RA Nurul Huda. 

”Tapi, kami dengan MI dan RA Nurul Huda berbeda yayasan,” terang Siti Mutaminatun Ula, Kepala SMP Islam Ulul Albab. 

Pada 2016 lalu, dia diminta tolong oleh rekannya yang mendirikan sekolah tersebut untuk menjadi kepala sekolah di sana. 

Saat itu, mayoritas guru di sana juga bekerja sebagai peternak sapi. 

Sehingga tak jarang mereka datang ke sekolah pada siang hari. 

Ula tak tahu persis kapan sekolah tersebut mulai berdiri. 

Dia hanya tahu ada perang antar-yayasan yang menyebabkan SMP Islam Ulul Albab kehilangan arah. 

Pembangunan sekolah tersebut awalnya didirikan oleh mantan anggota dewan bersama Yayasan Nurul Huda. 

Namanya dulu SMP Islam Nurul Huda. 

Namun, pengajuan nama tersebut ditolak karena sudah dipakai sekolah lain. 

Sehingga, namanya berubah menjadi SMP Islam Ulul Albab. 

”Sayangnya, anggota dewan itu membuat yayasan baru Ulul Albab. Sehingga terjadilah pertikaian di situ,” beber wanita asal Lesanpuro itu.

Pertikaian itu memperebutkan dana bantuan Bantuan Operasional Sekolah (BOS) atau Bantuan Operasional Sekolah Daerah (BOSDA). 

Kondisi itu membuat bantuan rehabilitasi sekolah tak pernah sampai ke sekolahnya. 

Itu mengapa bangunan SMP Islam Ulul Albab fasilitasnya tak bisa maksimal. 

Berada satu kawasan dengan dua yayasan yang berbeda, membuat suasana di sana kurang nyaman. 

Itu membuat satu per satu guru di SMP Islam Ulul Albab mengundurkan diri. 

Bahkan hingga tak tersisa sama sekali. 

”Saya akhirnya memutuskan untuk mengajar seluruh siswa itu sendirian,” ujar Ula. 

Itu dia lakukan selama satu tahun. 

Dia tentu kewalahan harus mengajar seluruh mata pelajaran (mapel) sekaligus merangkap tugas sebagai kepala sekolah. 

Cobaannya tak berhenti di situ. 

Akibat perseteruannya dengan yayasan, Ula mendadak jatuh sakit. 

Dia sempat sakit keras sekitar satu bulan. 

Setelah mencoba beberapa pengobatan, dia akhirnya sembuh. 

Ula mulai bangkit lagi untuk mencari solusi. 

Baca Juga: SMP Swasta di Malang Waswas Siswa Baru Cabut Berkas

Langkah awalnya dengan memindahkan kepemilikan sekolah ke Yayasan LP Maarif Kota Malang. 

Tujuannya, agar perselisihan itu bisa berhenti. 

Dirinya juga merekrut tenaga pengajar baru yang sukarela mengajar di SMP Islam Ulul Albab. 

Salah satunya dengan merekrut guru les anaknya. 

Dari situlah, upaya promosi ke kampus-kampus mulai getol dilakukan. 

Satu per satu guru mulai melamar ke SMP Islam Ulul Albab. 

”Kalaupun mereka resign, pasti saya dicarikan gantinya,” papar dia.

Hingga saat ini, total ada sembilan guru pengajar yang ada di SMP Islam Ulul Albab. 

Beberapa di antaranya merangkap mengajar beberapa mapel. 

Tak ada honor yang diberikan sekolah kepada guru-guru tersebut. Hanya diberikan uang transport saja. 

”Saya berikan Rp 20 ribu saja tiap pulang mengajar,” kata perempuan 

kelahiran 1977 itu. 

Ula bersama guru-guru yang ada juga melakukan banyak upaya promosi. 

Namun hasilnya belum memuaskan. 

Setiap tahun, sekolahnya hanya menerima tak genap dari 10 siswa. 

Misalnya tahun ini, ketika sekolahnya menerima tiga siswa baru. 

Sementara tahun sebelumnya tak menerima siswa sama sekali.

Menurutnya, itu berkaitan dengan pola pikir warga sekitar yang kurang melek dengan pentingnya pendidikan. 

Bahkan, beberapa siswanya juga sudah dinikahkan walaupun belum lulus dari sekolah. 

Tak jarang, Ula mendengarkan keluhan dari siswinya yang dinikahkan secara paksa. 

Perempuan berusia 47 tahun itu sadar betul, posisinya sebagai Kepala SMP Islam Ulul Albab mengemban tanggung jawab besar untuk mengantarkan siswa-siswinya menyelesaikan studi. 

Namun, dia tak bisa berbuat banyak jika wali murid enggan menerima masukannya. 

”Saya pernah didatangi ke rumah karena menegur siswa saya yang bolos,” ungkap dia. 

Untuk itu, dia kini hanya merangkul siswa yang mau bersekolah saja. 

Dia tak memaksakan diri seperti sebelumnya. 

Toh, semua pelajar yang bersekolah di sana juga digratiskan. 

Berbagai polemik yang dialami oleh SMP Islam Ulul Albab malah mengundang 

rasa iba dari para guru muda yang mengabdi. 

Baca Juga: SMP Swasta Gratis di Malang Justru Minim Siswa

Salah satunya dari M. Husein Al Maulani. 

Sejak 2018 dia mengabdi di sana. 

”Saya ingat betul mengajar di sini pertama kali saat semester dua,” ucap alumnus Universitas Kanjuruhan Malang (Unikama) itu.

Alan, sapaan akrabnya mengaku sudah betah mengajar. 

Terlebih rasa sayangnya kepada siswa-siswi di SMP Islam Ulul Albab membuatnya mantap untuk bertahan ketimbang pindah ke sekolah lain. 

Secara finansial, tak banyak yang dia dapatkan dengan mengajar di sana. 

Namun, kenyamanan dengan lingkungan kerja dan rasa iba mem-buatnya enggan meninggalkan sekolah tersebut. (*/by)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#Kesulitan Mencari Siswa Baru #konflik yayasan #malang #SMP Islam Ulul Albab