Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Kemendikbudristek Resmi Hapus Jurusan di SMA: Mapel Ilmu Alam Paling Diminati Siswa

Fathoni Prakarsa Nanda • Senin, 5 Agustus 2024 | 22:38 WIB
Infografik Penghapusan Jurusan SMA di Kota Malang.
Infografik Penghapusan Jurusan SMA di Kota Malang.

Setelah Pemerintah Hapus Kelompok Jurusan IPA, IPS, dan Bahasa

MALANG KOTA - Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) resmi menghapus kelompok jurusan IPA, IPS, dan Bahasa pada jenjang SMA.

Kini, seluruh sekolah diwajibkan untuk menerapkan kurikulum merdeka.

Kurikulum tersebut membebaskan siswa untuk memilih mata pelajaran yang sesuai dengan bakat dan minatnya.

Kebijakan itu diselaraskan dengan Permendikbudristek Nomor 345 Tahun 2022 tentang Mata Pelajaran Pendukung Program Studi dalam Seleksi Nasional Berbasis Prestasi (SNBP).

Artinya, penerapan kurikulum bertujuan untuk memudahkan siswa masuk ke perguruan tinggi sesuai dengan bidang yang diminati.

Kepala seksi (Kasi) SMA dan PKLPK Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Wilayah Kota Malang dan Kota Batu M. Asrofi mengatakan, saat ini masih ada sekitar 10 persen sekolah yang belum menerapkan kurikulum merdeka.

Itu karena sebelumnya penerapan kurikulum merdeka masih bersifat mana suka.

“Kalau tahun ini benar-benar mulai diwajibkan. Jadi harus mengikuti,” terangnya.

Asrofi mengatakan, penerapan kurikulum merdeka membebaskan siswa memilih mata pelajaran yang diminati.

Namun, pilihan mata pelajaran akan diimplementasikan pada fase F, yakni kelas 11 dan 12.

Sementara pada fase E (kelas 10), siswa masih menempuh seluruh mata pelajaran untuk menggali potensi dan minat masing-masing.

Ada dua kelompok pilihan mata pelajaran yang akan diterapkan mulai fase F.

Yakni kelompok umum dan kelompok pilihan.

Kelompok umum mencakup seluruh mata pelajaran sebanyak sembilan jenis.

Sementara kelompok pilihan, sekolah dibebaskan untuk mengatur menurut rumpun jenis profesi yang ingin dicapai.

Sebagai contoh, ilmu sains yang meliputi biologi, kimia, fisika, dan matematika untuk profesi ahli kesehatan atau teknik.

Penentuan kelompok pilihan juga perlu melakukan banyak pertimbangan.

Misalnya, survei kelompok pilihan mana yang banyak diinginkan, tapi dengan catatan harus menggunakan sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni.

“Jumlah rombongan belajar (rombel) tetap disesuaikan dengan jumlah guru yang mengampu,” lanjutnya.

Asrofi tak memungkiri ada sejumlah mata pelajaran yang peminatnya juga lebih banyak dibanding mata pelajaran lainnya.

Karen itu, sekolah dituntut melakukan pemerataan pilihan dengan cara yang tepat.

Bisa menggunakan tes.

Bisa juga berdasar nilai rapor kelas 10 yang dianggap paling sesuai dari masing-masing siswa.

Dengan cara itu, siswa tidak bisa asal memilih kelompok pilihan.

Ada proses yang tetap harus dilalui dan sudah disosialisasikan saat kelas 10.

Harapannya, siswa termotivasi untuk meningkatkan nilai agar bisa masuk kelompok pilihan yang diinginkan.

“Di sini peran guru bimbingan konseling (BK) sangat penting untuk mengarahkan,” imbuhnya.

Asrofi menyebut penerapan kurikulum merdeka dapat banyak membantu siswa untuk fokus menentukan pilihan.

Sekaligus memberikan gambaran wawasan mengenai apa yang dipelajari saat nantinya dia berprofesi.

Kendati begitu, perlu banyak evaluasi untuk pemerataan mata pelajaran agar nantinya bisa diselaraskan dengan kebutuhan yang ada.

Penentuan Kelompok Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulim SMA Negeri 1 Malang Agnes Yuni Pujiastuti menjelaskan, pihaknya membuka 10 kelas untuk kelompok pilihan.

Namun ada delapan jenis pilihan yang ditawarkan.

Kelompok pilihan yang banyak peminat akan dibuka dua kelas.

Misalnya, kelompok rumpun ilmu sains dibuka dua rombel.

”Tapi tetap disesuaikan dengan jumlah guru yang ada,” katanya.

Penentuan kelompok itu didasarkan pada hasil capaian belajar siswa pada kelas 10.

Indeks nilai rapor di beberapa mata pelajaran menentukan peluang masuk kelompok pilihan.

Sebagai contoh, siswa yang memilih rumpun kesehatan harus memiliki nilai bagus pada mata pelajaran biologi, kimia, dan matematika.

Atau peminat rumpun teknik, siswa harus memiliki nilai bagus pada mata pelajaran fisika, matematika, dan bahasa Inggris.

Agnes menyebut, siswa akan diberikan angket untuk mengisi tiga pilihan kelompok kelas sesuai yang diinginkan.

Dengan demikian, peran guru BK akan memproses tingkat kecocokan kelompok yang dipilih sesuai nilainya.

“Kalau tiga kelasnya tidak cocok, kami panggil siswanya untuk diarahkan sesuai dengan nilainya,” jelas dia.

Yang jadi masalah, pasti ada kelompok pilihan dengan jumlah pemilih yang membeludak.

Misalnya pada kelompok kesehatan atau berkaitan dengan ilmu alam, peminatnya mencapai 50 hingga 60 orang.

Sementara kapasitasnya hanya bisa menampung 32 orang.

Peminat paling sedikit ada pada kelompok pilihan kebahasaan.

Yakni hanya mencapai 20 orang dengan kapasitas 32 orang.

Dengan kondisi itu, pihak sekolah harus membuat pemerataan pilihan mata pelajaran.

Salah satunya dengan membuka kelas yang terbatas.

Sehingga, siswa juga mendapatkan gambaran mana kelompok yang peluangnya lebih besar.

“Paling tidak mereka berusaha sejak dari fase E untuk mencapai target,” tambah Agnes.

Hal senada diungkapkan Wakahumas SMA Negeri 4 Malang Alfan Akbar Yusuf.

Pihaknya membuka 10 kelas dengan delapan pilihan.

“Kapasitasnya semuanya 32 siswa per kelas,” ujarnya.

Alfan mengungkapkan, kelompok medical science dan government and military memiliki peminat paling banyak setiap tahun.

Karena itu pihak sekolah membuka dua rombel untuk kelas tersebut.

Untuk mata pelajaran yang dipilih juga masih pada rumpun biologi, kimia, matematika dan fisika.

“Persentasenya masing-masing bisa 15 persen per pilihan,” kata Alfan.

Sementara, minat paling sedikit pada rumpun ilmu sosial dan kebahasaan yang mencakup mata pelajaran ekonomi, geografi, antropologi, dan bahasa Jepang.

Persentase peminatnya hanya berkisar 5 persen atau sekitar 18 orang.

Alfan menambahkan, proses seleksi per kelas akan lebih banyak membuat siswa berusaha berpikir.

Mereka dibiarkan memilih tiga kelas, namun dengan pertimbangan nilai yang harus tinggi pada mata pelajaran tertentu.

Dengan demikian, persebaran siswa per kelas dapat lebih merata. (ori/fat)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#hapus #Kemendikbduristek #ilmu alam #jurusan di sma #mapel