MALANG KOTA - Universitas Brawijaya (UB) terus berupaya mempertahankan predikat sebagai kampus inklusi.
Indikasinya terlihat dari munculnya beberapa kebijakan untuk mendukung mahasiswa disabilitas.
Salah satunya dengan memberikan bebas biaya Iuran Pengembangan Institusi (IPI) bagi mahasiswa yang masuk dari jalur Seleksi Mandiri Penyandang Disabilitas (SMPD).
Baca Juga: Cegah Macet, UB Gelar Ospek Luring-Daring
Kepala Subdirektorat Layanan Disabilitas (SLD) Zubaidah Ningsih AS PhD menyebut, pembebasan IPI merupakan kebijakan yang baru diterapkan tahun ini.
Selain bebas IPI, mahasiswa yang menerimanya mendapat ketetapan Uang Kuliah Tunggal (UKT) golongan IV sebesar 75 persen dari total aslinya.
”Ada sebanyak 19 mahasiswa baru (maba) disabilitas yang kami terima tahun ini,” terang Zubaidah.
Dari total itu, sebanyak 15 maba disabilitas diterima di jalur SMPD.
Sementara empat mahasiswa lainnya diterima dari jalur Seleksi Nasional Berbasis Tes (SNBT) dan Seleksi Nasional Berbasis Prestasi (SNBP).
Mereka terdiri dari berbagai macam ketunaan.
Seperti Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), tunadaksa, tuli, tunanetra dan slow learner.
Selain pembebasan biaya kuliah, mahasiswa disabilitas juga mendapat fasilitas lain penunjang pembelajaran.
Sebagai contoh yakni pendamping khusus selama masa perkuliahan.
Juga buku yang dapat dibaca mahasiswa tunanetra hingga hadirnya juru bahasa isyarat (JBI).
Salah satu mahasiswa baru UB penyandang disabilitas yang masuk dari jalur SMPD yakni Muhammad Abu Mas’ud Al Ansori.
Mahasiswa baru program studi Biologi itu mengaku sangat terbantu dengan predikat UB sebagai kampus inklusi.
Baca Juga: UB Halal Metric Hadir untuk Tingkatkan Ekosistem Halal
Dia berharap segala kebutuhan selama masa perkuliahan bisa mendapat kemudahan.
Sebab, sebagai tunadaksa, dia perlu pendampingan selama menempuh studi di UB.
”Saya yakin itu sudah dipersiapkan, sebab fasilitasnya juga sangat mendukung,” kata dia. (ori/by)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana