MALANG KOTA - Fakultas Hukum Universitas Brawijaya (FH UB) menjadi tuan rumah 7th Conference on Human Right atau Konferensi Internasional Hak Asasi Manusia (HAM) mulai kemarin (28/8).
Sebanyak 26 negara menjadi peserta dalam konferensi yang berlangsung selama dua hari tersebut.
Berbagai masalah HAM di seluruh dunia dibahas dan dipetakan pemecahan masalahnya.
Dekan FH UB Dr Aan Eko Widiarto SH MHum mengatakan, terutama terkait pelanggaran HAM berat yang dialami rakyat Palestina akan dibahas dalam konferensi tersebut.
”Kita berdiri bersama rakyat Palestina. Kita sangat konsen membela masyarakat Palestina,” tuturnya.
Baca Juga: Selenggarakan Sekolah Pasar, Diskoperindag Kota Batu Gandeng Tim Pengabdian Masyarakat FH UB
Berbagai wacana di bidang HAM terkumpul lebih dari 250 paper yang sudah diterima.
Ia berharap bahasan tersebut tidak hanya bergaung dalam ruangan tersebut, tetapi juga dapat berimbas ke luar.
Tak hanya di Palestina, pelanggaran HAM di belahan dunia lain dan juga di Indonesia turut dibahas.
Karena menurutnya masih banyak praktik pelanggaran HAM di kehidupan sehari-hari.
”Seperti kemarin pelanggaran demokrasi dilakukan dengan kekerasan, penembakan gas air mata, ada pemukulan, ada luka pada pendemo. Ini semua adalah praktik pelanggaran ham yang terjadi di sekitar kita,” terangnya.
Dengan begitu, harapannya tidak ada lagi pelanggaran HaM di atas bumi.
Karena seharusnya manusia itu sama dan setara. Sementara itu, Ketua Serikat Pengajar Hak Asasi Manusia (Sepaham) Indonesia Dr Muktiono SH MPhil juga menggandeng Komnas HAM dan Sydney Southeast Asia Center (SSEAC) University of Sydney.
Tujuannya adalah merespons persoalan HAM dan juga memberikan tawaran terkait penyelesaiannya.
Baca Juga: BRI Kanwil Malang Serahkan CSR Kepada FH UB
”Targetnya dapat memberikan subangsih dalam pendidikan, penelitian, dan pengajaran HAM,” tutur Pria yang juga merupakan Dosen di FH UB tersebut.
Dengan tema ”Human Right, Peace, and Innovation in Asia and the Pacific: A Synergistic Approach to Sustainable Societies,” Permasalahan SDGs juga dikaitkan dalam pembahasan.
Mulai dari isu perempuan, lingkungan hingga pangan.
Terutama di belahan bumi selatan yang masih perlu penguatan lebih dalam pemenuhan HAM.
Berbagai latar belakang pembicara yang hadir Plenary Session yakni salah satunya Komisioner Komnas Ham Anis Hidayah. (dur/adn)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana