Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Sedih, Delapan Tahun SMP Arjuno Kota Batu Bertahan dengan Murid yang Sangat Sedikit

Fathoni Prakarsa Nanda • Rabu, 18 September 2024 | 18:05 WIB

LENGANG: Kepala SMP Arjuno  Nurhayati berdiri di dekat papan nama  sekolah yang dibangun pada 1997 itu.
LENGANG: Kepala SMP Arjuno Nurhayati berdiri di dekat papan nama sekolah yang dibangun pada 1997 itu.

Kini Hanya Punya Delapan Siswa, Berharap Jadi SMP Negeri

RUANG perpustakaan SMP Arjuno di Jalan Raya Wonorejo, Kelurahan Tulungrejo, Kota Batu, nyaris ambruk.

Satu ruang kelas juga mengalami kerusakan di bagian atap.

Beruntung masih ada enam ruangan lain yang bisa digunakan untuk aktivitas belajar mengajar.

Tapi, sehari-hari kompleks sekolah seluas 1.000 meter persegi yang dibangun pada 1997 itu tampak lengang.

Hanya ada 13 orang yang beraktivitas.

Lima guru dan delapan murid.

Kondisi semacam itu sudah terjadi selama delapan tahun terakhir.

Para siswa yang memilih SMP Arjuno merupakan lulusan SD sekitar yang tidak lolos seleksi masuk sekolah negeri. 

Orang tua mereka juga tidak memiliki cukup uang untuk menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah swasta lain.

Pilihan paling rasional adalah SMP Arjuno.

Dekat dari rumah dan biayanya tidak mahal.

Saat ini, delapan murid itu tersebar di tiga kelas.

Lima orang di kelas tiga, dua murid di kelas dua (salah satunya berkebutuhan khusus), dan satu murid di kelas satu, juga berkebutuhan khusus.

”Pendaftar ke sekolah kami menurun drastis sejak 2017,” ujar Kepala SMP Arjuno Nurhayati.

Tahun itu merupakan kali pertama penerapan sistem zonasi pada penerimaan peserta didik baru (PPDB).

Awalnya Nurhayati masih optimistis bisa menggaet peserta didik.

Tapi, sampai berakhirnya masa pendaftaran, sekolahnya tak kunjung menerima pengembalian formulir dari pendaftar.

Sebenarnya saat itu sudah ada 10 pendaftar.

Tapi semuanya tidak mengembalikan formulir.

Itu karena salah satu SMP negeri terdekat menambah dua rombongan belajar.

Nurhayati pun hanya bisa pasrah dan melanjutkan aktivitas belajar dengan murid yang ada.

”Waktu itu masih ada lima murid di kelas tiga dan tiga murid di kelas dua. Kami tetap melakukan aktivitas belajar mengajar dengan harapan tahun depan banyak pendaftar,” imbuhnya.

Satu tahun berlalu, sekolah yang gedungnya menghadap ke Gunung Arjuno itu mendapat siswa baru.

Tapi jumlahnya hanya enam.

Begitu pun pada tahun-tahun selanjutnya.

Jumlah siswa yang diterima tidak pernah menyentuh angka belasan.

”Karena dari awal kami sudah sepakat untuk mengajar dengan ikhlas, berapa pun murid yang masuk akan tetap kami didik,” lanjut perempuan yang sudah mengabdi di SMP Arjuno selama 22 tahun itu.

Para guru yang mengajar di sekolah itu memang tidak menerima gaji tetap.

Honor yang mereka terima hanya sekitar Rp 20 ribu untuk sekali datang.

Itu pun tidak setiap hari.

Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dari pemerintah yang diterima SMP Arjuno memang tidak banyak.

Sebab, jumlah murid mereka sangat sedikit.

Pemasukan yang diterima dari para siswa pun minim.

Hanya Rp 35 ribu per bulan per anak.

Tentu tidak cukup untuk menutup seluruh kebutuhan operasional sekolah.

”Sudah semurah itu, ternyata juga banyak yang tidak bayar atau menunggak,” lanjut Nurhayati.

Padahal seragam olahraga sudah digratiskan.

Sejak 2013 lalu, sekolah tersebut tidak menerima kucuran dana dari yayasan.

Pada beberapa kesempatan Nurhayati harus merelakan uangnya sebagai dana talangan.

Juga merelakan gajinya yang dirapel tak dibayar beberapa bulan.

Menurutnya, penurunan jumlah pendaftar di sekolahnya disebabkan beberapa faktor.

Yang utama adalah pendirian SMP Negeri 5 Batu pada 2007 di Jalan Lapangan Lemahputih, Kelurahan Sumberbrantas, Kecamatan Bumiaji.

Jaraknya 5,2 kilometer dari SMP Arjuno.

Sejak saat itu, lulusan SD yang mendaftar ke SP Arjuno menurun drastis.

Apalagi sebelumnya juga sudah ada SMP Negeri 4 Batu di Tulungrejo yang jaraknya hanya 3,5 kilometer dari SMP Arjuno.

Dua tahun terakhir malah muncul Pendidikan Kelompok Belajar Masyarakat PKBM yang juga menyedot siswa.

Tahun ini ada satu siswa kelas dua yang akan naik kelas tiga, tiba-tiba minta berhenti dan memilih belajar di PKBM karena lebih fleksibel di sela-sela bekerja.

”Di sini memang banyak anak usia SMP yang lebih memilih bekerja membantu orang tua,” terangnya.

Kini, Nurhayati hanya bisa mewanti-wanti pada muridnya agar tidak berkecil hati.

Meski jumlah murid hanya sedikit, para guru konsisten mengajarkan kemampuan-kemampuan dasar pada muridnya.

”Termasuk keterampilan memasak, bersih-bersih, hingga bercocok tanam. Semua kami ajarkan,” paparnya.

Dia berharap pemerintah desa bersedia membantu sekolah swasta yang sudah puluhan tahun berdiri itu.

Salah satunya dengan mengusulkan SMP Arjuno menjadi sekolah negeri. Agar tujuannya untuk menampung lulusan dua SD negeri di samping sekolah tersebut.

”Kami pernah melakukan survei ke dua sekolah itu. Mereka bersedia melanjutkan pendidikan ke SMP Arjuno asalkan sudah beralih menjadi SMP Negeri,” tandas perempuan 52 tahun tersebut. (*/fat)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#Bertahan #Sedikit #murid #Smp arjuno #Delapan Tahun