Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

SMA SMK Kota Malang Cari Cara Tak Bergantung pada BPOPP

Aditya Novrian • Senin, 30 September 2024 | 23:45 WIB
Photo
Photo

MALANG KOTA - Seperti yang telah diberitakan sebelumnya, pencairan dana Biaya Penunjang Operasional Penyelenggaraan Pendidikan (BPOPP) tahun ini hanya 9 bulan.

Baik untuk SMA/SMK negeri maupun sekolah swasta.

Kabar itu membuat sekolah harus membuat mitigasi untuk menutup kebutuhan operasional.

Berangkat dari hal tersebut, salah satu strategi pemenuhan kebutuhan telah disiasati oleh jenjang SMK.

Salah satunya dengan menggunakan hasil teaching factory (tefa) dari jurusan yang dimiliki.

Sebagai informasi, besaran BPOPP SMK digantungkan pada kebutuhan per jurusan.

Untuk jurusan teknologi kucuran yang diterima sebesar Rp 200 ribu per siswa.

Sementara untuk jurusan non-teknologi menerima sebesar Rp 120 ribu per siswa.

Kepala SMK Negeri 3 Malang Lilik Sulistyowati menyebut, BPOPP yang diterima oleh sekolahnya relatif lebih sedikit.

Itu karena dirinya tak memiliki jurusan teknologi.

Sehingga besaran yang diterima rata seperti SMA.

Yakni sebesar Rp 120 ribu.

Jumlah itu masih dirasa kurang untuk memenuhi kebutuhan beberapa jurusan.

Misalnya kebutuhan untuk jurusan Tata Boga.

Hampir setiap hari kegiatan memasak yang dilakukan siswa menyedot banyak anggaran.

Sementara sekolah memiliki peran penting untuk menyediakan.

”Jujur kami cukup terseok-seok untuk menambal kebutuhannya,” ungkapnya.

Sehingga untuk menutup kekurangan itu, sekolah mengandalkan teaching factory.

Sebagai contoh, menjual produk yang telah dibuat.

Lilik mengungkapkan, beberapa hasil makanan praktik langsung diserahkan kepada penjual.

Misalnya pujasera atau kantin.

Kemudian hasilnya akan menutup perputaran kebutuhan praktik.

Lilik mengatakan, hal tersebut bukan bermaksud mencari keuntungan.

Namun, sebagai sarana belajar siswa yang sekaligus dapat menghasilkan.

”Meskipun menjual kami non-profit oriented, output-nya akan kembali kepada kemahiran siswa sesuai bidang-ya,” ungkap dia.

Hal serupa juga dituturkan oleh Wakakurikulum SMK Negeri 2 Malang Zulqodiah.

Pihaknya menyebut, memanfaatkan teaching factory menjadi hal yang paling efektif sejauh ini.

Selain sebagai sarana belajar siswa, outputnya juga membantu kebutuhan siswa dalam menunjang pembelajaran.

”Siswa kami aktif dalam memproduksi dan memiliki omzet yang stabil dan berkomitmen untuk meningkatkan kualitas layanan pembelajaran berbasis dunia industri,” ujarnya.

Dengan demikian, pembelajaran bisa lebih maksimal meskipun terkendala dari segi dana yang digelontorkan.

Menanggapi hal tersebut, Kepala seksi (Kasi) SMK Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Wilayah Kota Malang dan Kota Batu Frenky Minggaryana Dwi Putra SSn menilai teaching factory juga menjadi salah satu mitigasi terbaik yang bisa dilakukan SMK.

Terlebih jika jurusan tersebut menghasilkan banyak output yang membantu kebutuhan operasional.

”Tak berorientasi pada keuntungan, namun pada pengetahuan teoritis dan keterampilan praktis yang relevan dengan kebutuhan pasar kerja,” ungkapnya.

Selain itu, menjalin kerja sama dengan industri juga menjadi salah satu opsi yang bisa dilakukan.

Misalnya praktisi mengajar atau penyedia kebutuhan praktik bisa juga didapat dengan menggandeng mitra.

”Relasi lebih banyak, peluang kerja juga lebih besar,” tandasnya. (ori/adn)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#sma #BPOPP #Kota Malang #sekolah #SMK