Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

SBT Malang Dorong Belajar Budaya, Tak Hanya Ditulis di Kertas, tapi Jadi Motif Batik di Kain

Fathoni Prakarsa Nanda • Selasa, 22 Oktober 2024 | 00:45 WIB
PEDULI BUDAYA: Kholiq Nuriadi (kiri) dan salah seorang temannya yang juga  pegiat budaya menyiapkan materi untuk mengajar menulis aksara  Jawa kuno di Sekolah Budaya Tunggulwulung.
PEDULI BUDAYA: Kholiq Nuriadi (kiri) dan salah seorang temannya yang juga pegiat budaya menyiapkan materi untuk mengajar menulis aksara Jawa kuno di Sekolah Budaya Tunggulwulung.

SEKOLAH Budaya Tunggul wulung (SBT) terletak di Jalan Sasando, Kelurahan Tunggulwulung, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang.

Bangunannya berbentuk joglo, tepat berada di sebelah kanan pabrik dupa yang juga merupakan bagian dari SBT.

Karena itu, aroma dupa selalu tercium oleh siapapun yang berkunjung ke kawasan tersebut.

Tulisan tulisan aksara Jawa kuno tampak memenuhi setiap sudut bangunan joglo.

Terdapat satu panggung di dalamnya yang dilengkapi alat musik tradisional Jawa.

Beragam tanaman, mulai kalpataru hingga kamboja, seolah ikut menyambut siapa pun yang datang sejak memasuki gerbang SBT.

Kamis lalu (17/10), Kholiq Nuriadi dan salah seorang kawannya yang juga pegiat budaya tampak sedang bersantai di SBT.

Tidak ada kegiatan hari itu.

Sebab jadwal kelas seni dan budaya dilaksanakan pada Jumat, Sabtu, dan Minggu.

Kepada Jawa Pos Radar Malang, Kholiq mengaku sedang berusaha menghidupkan lagi tempat belajar budaya yang sempat tutup karena pandemi Covid.

“SBT didirikan pada 2014 untuk menjadi wadah bagi semua orang yang ingin belajar maupun mengajar terkait budaya Jawa,” ujarnya.

Awalnya, pria yang juga pengusaha itu lebih dulu aktif di perkumpulan penggiat budaya dengan kawan kawan nya di Tunggulwulung.

Melalui perkumpulan itu, ia sering bertemu dengan banyak pegiat budaya dari seluruh Kota Malang, termasuk seniman dan akademisi.

Lama kelamaan, ayah tiga anak tersebut merasa perlu menyediakan tempat khusus bagi para pegiat budaya untuk bertemu dan bertukar pikiran.

Maka, ia memutuskan untuk membangun Sekolah Budaya Tunggulwulung.

Ternyata aktivitas di tempat itu terus berkembang, tak lagi sebatas menjadi tempat diskusi, tetapi juga menjadi wadah bagi masyarakat umum yang ingin belajar tentang budaya dan seni.

Kemudian di buatlah jadwal belajar setiap hari dengan berbagai aktivitas, mulai dari kelas tari, kelas tembang macapat, kelas wayang, kelas aksara Jawa kuno, hingga kelas membuat dupa.

“Dulu hampir setiap hari ada kegiatan belajar di sini. Semuanya gratis. Para pengajarnya memberikan materi secara sukarela,” tutur pria kelahiran 1972 tersebut.

Kholiq juga memberikan fasilitas tempat dan media belajar secara gratis, mulai dari kain dan peralatan membatik hingga buku buku sejarah untuk dibaca.

Tak sekadar mengajarkan cara membaca dan menulis aksara Jawa kuno, Kholiq dan teman temannya membuat terobosan dalam hal pelestarian, yakni dengan mengaplikasikan aksara aksara itu dalam motif batik.

Tidak ada latar belakang budayawan dari Kholiq.

Ia merupakan lulusan D3 Akuntansi.

Orang tuanya juga bukan budayawan atau pun seniman.

Namun, rasa penasaran terhadap budaya Jawa membuatnya terus belajar banyak hal terkait budaya.

Saat ini, dia dan teman temannya sedang fokus terhadap pelestarian aksara Jawa kuno atau aksara Kawi.

Baginya, aksara Jawa kuno dapat membuka banyak penjelasan logis terkait praktik praktik budaya pada masyarakat Jawa yang dianggap mistis selama ini.

“Budaya adalah kecerdasan. Bagaimana cerdas menjaga raga, cerdas berpikir, hingga cerdas berperilaku. Saya suka itu,” kata pria yang juga pernah men jadi ketua paguyuban angkot Kota Malang tersebut.

Kholiq yakin, belajar aksara Kawi akan membuka banyak pengetahuan dan kekayaan budaya Jawa.

Dia mencontohkan hal hal yang banyak di jumpai di sekitar masyarakat, seperti bunga kamboja yang sering ditemukan di tempat pemakaman.

“Dari beberapa literatur berbahasa Kawi, bunga kamboja, atau dulu disebut semboja, ini berarti kehidupan bersahaja untuk yang hidup dan doa untuk yang sudah mati,” kata dia.

Begitu juga dengan pohon beringin yang biasanya ada di setiap alun alun, khususnya di Pulau Jawa.

Itu merupakan simbol afirmasi dari kecerdasan penataan wilayah.

Sayangnya, kekayaan kekayaan budaya Jawa selama ini hanya diartikan sebagai hal mistis.

Itu karena tidak ada pemahaman simbol simbol yang ada di dalam nya.

“Apabila dipahami, maka banyak sekali pelajaran yang bisa diterapkan,” ungkapnya.

Hal lain yang tak kalah menarik, prasasti pertama dengan aksara Jawa kuno ada pada prasasti Dinoyo yang ditemukan di Kota Malang.

Karena itu, bagi Kholiq, aksara Jawa kuno sangat pantas menjadi identitas Kota Malang. (*/fat)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#joglo #Tunggulwulung #budaya indonesia #Kota Malang #batik #sekolah budaya