MALANG RAYA – Beberapa sekolah di Malang Raya mulai mengenalkan mata pelajaran berbasis Artificial Intelligence (AI) dan coding.
Di Kota Malang, sedikitnya ada sembilan sekolah yang sudah memberikan pengenalan tersebut kepada siswa.
Sementara di Kabupaten Malang, pemkab menyebut sudah ada 10 sekolah yang melakukannya (selengkapnya baca grafis).
Kepala Bidang (Kabid) Pembinaan Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang Muflikh Adhim mengatakan, salah satu sekolah yang sudah memperkenalkan AI dan coding yakni SMP Negeri 5 Kota Malang.
Selain itu juga di SD Negeri Tunjungsekar 1 dan SD Muhammadiyah 1 Kota Malang.
Menurut Adhim, penerapan AI dan coding di Kota Malang memang belum sepenuhnya dilakukan.
Pihaknya baru sekadar memperkenalkan pembelajaran berbasis teknologi kepada siswa.
Sebab, untuk menetapkan itu secara menyeluruh, dibutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni.
Serta fasilitas yang lengkap.
Beberapa waktu lalu, disdikbud juga mulai mendukung para pengajar untuk mengenalkan teknologi.
”Ada kegiatan yang bertajuk ’Waktunya Tenaga Pendidik Berinovasi’ ,” kata Adhim.
Dalam kegiatan itu, disdikbud menyampaikan kalau di era sekarang ada pembelajaran menggunakan AI.
Namun belum dijadikan patokan resmi.
”Meski belum diterapkan sepenuhnya, tapi saya lihat beberapa tenaga pengajar sudah memiliki aplikasi yang berkaitan dengan AI,” imbuh pejabat eselon III B Pemkot Malang tersebut.
Sebagai contoh ChatGPT, Python, Google Assistant, dan Copilot.
Melalui beberapa platform tersebut, proses pembelajaran bisa terbantu.
Salah satunya di SDN Tunjungsekar 1 yang memiliki kompetensi membatik.
Di sana, guru sering mencari informasi mengenai cara pemasaran produk batik.
Untuk penerapan lebih lanjut, pihaknya masih menunggu ketentuan kurikulum dari pusat.
Saat ini disdikbud tetap mendorong guru untuk memperkenalkan pembelajaran berbasis teknologi secara umum.
Pengenalan teknologi di SD biasanya dilakukan oleh guru kelas masing-masing. Sementara di tingkat SMP, dilakukan oleh guru mata pelajaran TIK.
”Kalau di masing-masing SMP, ada sekitar dua guru yang mengajar TIK,” terangnya.
AI-Coding Masuk Sekolah
KOTA MALANG
- Ada 54 guru SMp yang berpotensi mengajar AI dan coding.
- Pemkot masih menunggu petunjuk teknis dari pemerintah pusat terkait penerapannya.
- Baru ada beberapa sekolah yang mengenalkan pembelajaran teknologi
KOTA BATU
- Ada 46 guru SMp yang berpotensi mengajar AI dan coding.
- Pemkot bakal mengandalkan KSRg (kandidat sekolah rujukan Google) untuk tutor sebaya pembelajaran AI dan coding.
- Pemkot memastikan sarana dan prasarana sudah cukup representatif.
KABUPATEN MALANG
- Ada 115 guru yang berkompetensi mengajar AI dan coding.
- Ada 10 sekolah yang sudah menerapkan pembelajaran coding.
- Ada kendala sarana dan prasarana, umumnya pelajar harus membawa laptop sendiri.
Selain sekolah-sekolah yang ada di bawah naungan pemkot, ada pula sekolah di lingkungan Kemenag yang sudah menerapkan mata pelajaran AI.
Kasi Pendidikan Madrasah Kemenag Kota Malang Abdul Mughni menyatakan, sedikitnya ada enam madrasah negeri yang menerapkannya.
”Contohnya di MAN 2 Kota Malang dan MTS Negeri 1 Kota Malang,” ucapnya.
Penambahan mata pelajaran AI dan coding untuk jenjang SD dan SMP memang sudah di wacanakan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI Abdul Mu’ti.
Materi tentang coding juga sudah ada dalam pelajaran informatika.
”Ada 115 orang guru yang sudah divalidasi di SIMPKB (Sistem Informasi Manajemen untuk Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) sebagai pengajar informatika di sekolah,” ucapnya.
Secara prasarana penunjang seperti komputer, hampir 50 persen sekolah di Kabupaten Malang sudah siap melaksanakan program tersebut.
Baik di sekolah negeri maupun swasta.
Terutama untuk sekolah maju yang ada di kawasan perkotaan seperti Kepanjen.
Namun, belum semua sekolah mampu menyediakan sarana komputer untuk pembelajaran coding.
Sebab, spesifikasi komputer yang diperlukan cukup tinggi.
Minimal prosesornya core i5.
Biasanya, dalam pembelajaran coding, siswa bakal membawa laptop sendiri.
”Sebenarnya, terdapat 10 sekolah yang diberikan bantuan komputer dengan spesifikasi support untuk pembelajaran coding. Yaitu sekolah yang masuk dalam program Kawasan Ekonomi Kreatif (KEK) atau kelas digital, namun jumlahnya terbatas,” papar Suwadji.
Menurut data Dindik Kabupaten Malang, 10 sekolah yang sudah menerapkan pembelajaran coding tersebut.
Yakni SMPN 4 Kepanjen, SMPN 1 Singosari, SMPN 2 Singosari, SMPN 3 Singosari, SMPN 6 Singosari, SMPN 1 Karangploso, SMPN 5 Karangploso, SMPN 1 Lawang, SMPN 2 Lawang, dan SMPN 3 Lawang
Di tempat lain, Kabid SD Dinas Pendidikan Kota Batu Daud Andoko menyebut belum ada kepastian terkait regulasi atau petunjuk teknis (juknis) dalam melaksanakan kurikulum baru.
Namun, sejumlah persiapan untuk menyambutnya sudah dilakukan.
”Kami sudah punya kandidat sekolah rujukan Google (KSRG),” terangnya.
Ada tiga sekolah yang ditunjuk untuk mengikuti uji kompetensi.
Yakni SD Negeri Beji 1, SMP Negeri 2 Batu, dan SMP Negeri 3 Batu.
Seluruh guru dari ketiga sekolah tersebut telah mengikuti ujian kompetensi berbasis komputer.
Ujian itu dilaksanakan tiga bulan lalu.
Kendati begitu, Daud menyebut belum seluruh guru tersebut lulus dalam uji kompetensi.
Sebab, setiap guru tak memiliki prevalensi yang sama dalam memahami IT.
”Hanya sekitar 60 persen saja yang lolos,” kata dia.
Guru yang telah lolos tersebut akan dijadikan tutor sebaya.
Khususnya dalam mengajarkan IT hingga penguasaan AI dan coding.
Itu karena tak seluruh sekolah memiliki guru dengan kompetensi yang mumpuni.
Misalnya di jenjang SD, saat pelajaran teknologi ilmu komputer (TIK) diampu oleh guru kelas masing-masing.
Beranjak dari kondisi itu, Daud menyebut bila kebutuhan SDM perlu digodok ulang.
Terlebih, banyak yang belum memahami bagaimana AI dan coding yang dimaksud dalam pembelajaran.
Jika juknis sudah diterbitkan, sekolah bakal diminta menyesuaikan.
Khususnya dari segi sarana dan prasarana.
”Kami masih wait and see untuk kepastian materinya akan seperti apa,” ungkap Daud. (yun/mel/ori/by)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana