MALANG KOTA - Universitas Negeri Malang (UM) kembali mengukuhkan empat guru besar (gubes) hari ini (28/11).
Empat guru besar baru UM ini merupakan profesor di bidang Perkembangan Relasi Beragama, Bidang Kajian Pembelajaran Bipa, Bidang Ilmu Model Bimbingan Pribadi Sosial, dan Profesor Bidang Ilmu Degradasi dan Konservasi Tanah.
Pertama ada Prof Dr Dewa Agung Gede Agung MHum, Guru Besar baru UM dalam Bidang Perkembangan Relasi Beragama.
Dalam pidato pengukuhannya, Prof Dewa membahas mengenai konstruksi relasi beragama di Indonesia.
Dosen Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial (FIS) UM tersebut mengatakan, relasi beragama di Indonesia masih baik.
Namun menurutnya masih terdapat benih-benih konflik.
”Dibuktikan dengan masih adanya sentimen akan perbedaan yang berujung pada konflik agama,” tuturnya.
Beberapa oknum masih berpegang pada prinsip bahwa agama yang dianutnya adalah yang paling baik dan agama orang lain tidak baik.
Stigma tersebut masih menjadi penyebab konflik.
Baca Juga: Kaprodi S2 Keguruan Bahasa Arab UM Resmi Buka Rakernas dan Konferensi Internasional PPPBA
Menurutnya, konflik itu akan selalu ada.
Namun diperlukan pemahaman yang baik untuk menjaga konflik tidak sampai merusak relasi beragama.
Selain itu, beberapa daerah di Indonesia juga berhasil menjaga toleransi beragama karena kearifan lokal.
Seperti konsep rukun agawe santosa di Sulawesi Tengah dan manyama braya di Bali.
”Memang tidak mudah untuk menggali apalagi menerima kearifan lokal, tetapi memang perlu kesadaran untuk melahirkan ideologi harmoni,” ungkapnya.
Kemudian ada Prof Dr Arbin Janu Setiyowati MPd, Guru Besar Bidang Ilmu Model Bimbingan Pribadi Sosial.
Meramu Self Care sebagai Kontinum Utama Penyeimbang Kesehatan Mental dan Kompetensi Akademik menjadi topik pidato pengukuhan guru besar Prof Dr Arbin Janu Setiyowati MPd.
Perhatian terhadap kesejahteraan mental calon helper menjadi isu yang penting.
Baca Juga: UM Kembali Kukuhkan Empat Guru Besar
Itu karena mereka nanti akan menjadi tumpuan harapan konselor dalam mencapai kualitas hidup yang lebih baik.
”Ini berawal dari buku yang saya tulis bersama mahasiswa berjudul Luka Batin itu Mendewasakan,” tuturnya.
Dari buku tersebut, banyak mahasiswa yang menulis dinamika psikologis mereka.
Baca Juga: Universitas Negeri Malang (UM), Kembangkan Simulator Kendaraan LIistrik Hingga SPKLU
Calon dokter, perawat, psikolog, hingga konselor mengalami problematika yang hampir sama berkaitan dengan gangguan kesehatan mental.
Bukti empiris menunjukkan bahwa mahasiswa calon konselor masih mengalami kesulitan dalam menyeimbangkan kesehatan mental dan kompetensi akademik mereka.
Sehingga mahasiswa calon konselor diharapkan memiliki kemampuan self care atau kepedulian untuk merawat diri sendiri.
Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa model teoritik self care mahasiswa calon konselor dapat diterima.
Artinya self awareness, self efficacy, dan dukungan sosial menggambarkan pembentukan self care.
Baik secara langsung maupun tidak langsung.
Baca Juga: Evaluasi dan Sempurnakan Pembelajaran, BRIN Gandeng BK FIP UM
”Harapannya mahasiswa calon konselor memaknai self care sebagai kebutuhan utama untuk mendukung pengembangan pribadi dan upaya penyiapan diri sebagai calon helper professional,” terangnya.
Ketiga yaitu Prof Dr Didik Taryana MSi, Guru Besar dalam Bidang Ilmu Degradasi dan Konservasi Tanah.
Pidato ilmiah yang dibawakan Prof Dr Didik Taryana MSi dalam pengukuhan gubes hari ini berjudul Penatagunaan Lahan dalam Rangka Mereduksi Degradasi Lahan.
Baca Juga: Klub Baca Menjadi Ekstrakurikuler di SMP Laboratorium UM Malang
Degradasi tanah mengakibatkan kualitas tanah sangat menurun.
Penyebabnya, mulai dari kepadatan penduduk, marjinalisasi tanah, hingga bencana alam.
Erosi tanah juga menjadi fokus penelitian Prof Didik.
Baca Juga: Tim Pengabdian kepada Masyarakat UM Tingkatkan Kapabilitas Guru MA Zainul Hasan 1 Genggong
Fenomena itu menjadi faktor utama penyebab ketidakberlanjutan kegiatan usaha tani di wilayah hulu.
Sehingga diperlukan penatagunaan lahan.
Yakni dengan menata pola tanaman seperti jenis tanaman dengan memperhatikan kondisi topografi.
Dia mencontohkan, lahan pertanian yang banyak ditanami kentang di lahan miring atau dataran tinggi akan menyebabkan erosi saat hujan.
”Sehingga tidak disarankan menanam kentang saat musim hujan. Selain itu apabila di lahan daerah kota, penataan ruang terbuka hijau perlu menjadi perhatian,” ujar dia.
Terakhir Prof Dr Kusubakti Andajani MPd, Guru Besar Bidang Kajian Pembelajaran BIPA.
Tantangan dan Attitude Pelajar BIPA Tingkat Mahir dalam Menyimak Percakapan Autentik menjadi judul yang diangkat Prof Dr Kusubakti Andajani MPd dalam pidato ilmiah hari ini.
Dia mengatakan, menyimak autentik dipandang sulit oleh mayoritas pelajar bahasa asing, termasuk pelajar BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing) tingkat mahir.
Tantangan yang dihadapi pelajar BIPA tingkat mahir dalam menyimak percakapan autentik pada podcast terjadi pada kosakata yang dianggap terlalu sulit, tempo bicara yang terlalu cepat, serta aksen bicara yang unik dan terpengaruh bahasa daerah.
Baca Juga: Mahasiswa UM dan UB Sabet Gelar DutaKu Literasi Keuangan 2024
”Untuk itu terbiasa mendengar penuturan bahasa yang autentik menjadi salah satu solusi dari tantangan para pelajar BIPA ini,” tuturnya.
Karena menurutnya, keterampilan berbahasa yang harus dikuasai, mulai dari menyimak, berbicara, membaca, dan menulis.
”Proses pemerolehan bahasa pertama, menyimak dan berbicara cenderung lebih mudah dipelajari dibandingkan membaca dan menulis. Namun, pada pemerolehan bahasa asing, menyimak justru menjadi aspek yang cenderung sulit dipelajari,” terangnya.
Baca Juga: Tim Dosen Sastra Arab UM Ciptakan Al-Qur’an Isyarat Berbasis Flipbook
Bahasa Indonesia ditetapkan sebagai bahasa resmi UNESCO pada 20 November 2023 di Markas Besar UNESCO di Paris, Perancis.
Alasan mengapa Bahasa Indonesia diakui sebagai bahasa resmi UNESCO di antaranya karena bahasa Indonesia banyak diminati oleh masyarakat asing. (dur/adn)
Editor : Aditya Novrian