Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Penguatan Pendidikan Karakter Redam Ancaman Krisis Budaya

Fathoni Prakarsa Nanda • Sabtu, 28 Desember 2024 | 18:10 WIB
PERAN KAMPUS: Rektor  Universitas Merdeka Malang  Dr prihat Assih SE MSi Ak  CSRS (kiri) dan Wakil Rektor  III Unmer Dr Ana Mariani SSos  MSi mengupas kecenderungan  perilaku Gen Z di hadapan  Forum.
PERAN KAMPUS: Rektor Universitas Merdeka Malang Dr prihat Assih SE MSi Ak CSRS (kiri) dan Wakil Rektor III Unmer Dr Ana Mariani SSos MSi mengupas kecenderungan perilaku Gen Z di hadapan Forum.

REKTOR Universitas Merdeka (Unmer) Malang Dr Prihat Assih SE MSi Ak CSRS mencontohkan terkikisnya semangat gotong-royong di kalangan Gen Z.

Anak muda lebih bersifat individualistis.

Padahal, dunia kerja tidak bersahabat pada sikap semacam itu.

Bisa jadi, sikap individualistis pada sebagian besar Gen Z terbangun karena berbagai kemudahan yang diberikan teknologi.

Misal nya kemunculan Artificial intelligence (AI) yang sangat memudahkan pekerjaan.

Namun di kalangan mahasiswa, AI bisa melemahkan semangat belajar.

Cukup memanfaatkan Chat GPT, tugas kuliah bisa diselesaikan dengan sangat cepat.

”Kemajuan teknologi melalui AI memang tidak bisa di hindarkan. Yang harus dilakukan adalah cara mengontrol nya,” tutur rektor yang juga merupakan pengajar ilmu akuntansi itu.

Sisi lain dampak kemajuan teknologi juga terlihat setelah Pandemi Covid-19.

Dosen dan mahasiswa lebih memilih kuliah secara daring.

Padahal sistem daring lemah dalam pengawasan.

Mahasiswa terkadang malas menyimak materi dengan benar.

Beda dengan pembelajaran tatap muka yang bisa lebih fokus dan mudah diawasi.

Yang tak kalah penting adalah gejala degradasi mental pada anak muda sebagai imbas tradisi serba instan.

Itu bisa dilihat dari maraknya kasus bunuh diri beberapa waktu terakhir.

Kesehatan Gen Z saat ini juga cenderung lebih rapuh.

Ketika mendapatkan tugas berat, mereka tiba-tiba jatuh sakit.

”Banyak keluhan bahwa mereka tidak lolos rekrutmen pekerjaan karena asam lambung,” imbuhnya.

Beberapa perusahaan meyakini bahwa penyakit asam lambung menunjukkan daya tahan seseorang terhadap stress.

Penyakit itu tidak lepas dari pola dan gaya hidup generasi zaman sekarang.

Kerap begadang dan tidak teratur dalam mengonsumsi makanan.

Menurut Assih, kampus perlu memberi perhatian pada masalah-masalah yang dialami mahasiswa saat ini (Gen Z).

Memperkuat pendidikan karakter bisa menjadi solusi untuk mengantisipasi berbagai permasalahan generasi muda saat ini.

Tapi, penyampaiannya harus benar-benar tepat.

Misal nya melalui pendekatan secara personal agar bisa diterima dengan baik.

”Ada cara yang berbeda untuk memberikan pemahaman kepada Gen Z. Ini harus diketahui para orang tua. Tidak bisa dengan cara keras seperti dulu. Harus diajak mengobrol selayaknya teman,” jelas Assih.

Unmer Malang juga concern dengan culture lag karena memiliki banyak mahasiswa dari luar.

Bahkan Unmer merupakan salah satu kampus favorit mahasiswa dari Indonesia Timur.

Penanganan semacam itu juga bermanfaat saat mereka terjun ke masyarakat yang lebih kompleks.

Wakil Rektor III Unmer Dr Ana Mariani SSos MSi menyampaikan, ada beberapa insiden culture lag yang biasanya mahasiswa asal Indonesia Timur saat baru pertama kali masuk Malang.

Misalnya, selalu beraktivitas hingga malam hari.

Kadang diiringi musik yang kencang hingga membuat masyarakat sekitar terganggu.

Akibatnya terjadi gesekan antara warga dan mahasiswa.

Untuk mengatasinya, pihak kampus turun langsung memberikan edukasi kepada para mahasiswa tentang kehidupan sosial di lingkungan baru mereka.

Bahkan Unmer juga melakukan pendekatan dengan tokoh masyarakat agar terjadi saling kesepahaman.

”Anak-anak itu tidak bermaksud mengganggu. Rata-rata hanya belum mengerti apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Kami yang turun tangan menanamkan pengertian ekstra,” imbuhnya. (adk/fat)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#Universitas Merdeka Malang #Gen Z #Kota Malang