Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

1.802 Siswa Eligible di Malang Tak Mendaftar SNBP

Fathoni Prakarsa Nanda • Selasa, 18 Februari 2025 | 18:10 WIB

Grafis data siswa yang eligible di Malang Raya.
Grafis data siswa yang eligible di Malang Raya.

Dampak Sekolah yang Tidak Mengisi PDSS

MALANG RAYA – Sekitar 175 sekolah swasta jenjang SMA di Malang Raya tidak mengisi atau tidak menuntaskan pengisian Pangkalan Data Sekolah dan Siswa (PDSS).

Dampaknya, siswa eligible di sekolah tersebut tidak memiliki kesempatan untuk masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) melalui jalur Seleksi Nasional Berbasis Prestasi (SNBP).

Jumlahnya mencapai 1.802 siswa (selengkapnya lihat grafis).

Grafis data siswa yang eligible di Malang Raya.
Grafis data siswa yang eligible di Malang Raya.

Ada sejumlah alasan yang melatarbelakangi fenomena tersebut.

Misalnya di Kabupaten Malang.

Sebanyak 139 sekolah swasta jenjang SMA tidak mengisi PDSS lantaran kuliah tidak menjadi prioritas dalam meluluskan para siswa.

Otomatis, siswa-siswi eligible di sekolah tersebut mundur atau tidak memiliki kesempatan ikut SNBP.

Berdasar rekap yang dilakukan tim Jawa Pos Radar Malang, di wilayah Kabupaten Malang terdapat 10.465 eligible (memenuhi syarat ikut SNBP).

Namun yang mendaftar hanya 8.867 siswa.

Artinya, 1.598 siswa tidak mendaftar.

Ketua MKKS SMA Swasta Kabupaten Malang Fatkhurrozi menyayangkan hal tersebut.

Namun, pihaknya berjanji melakukan evaluasi banyaknya SMA swasta yang tidak menuntaskan pengisian PDSS.

”Beberapa SMA swasta mungkin belum sepenuhnya memahami pentingnya PDSS sekaligus cara pengisiannya,” ujarnya kemarin (17/2).

Ada juga kemungkinan sekolah mengalami kendala teknis dalam pengisian PDSS.

Seperti masalah jaringan atau kurangnya sumber daya manusia (SDM) yang kompeten.

Yang pasti, ada juga sekolah yang menganggap bahwa SNBP tidak terlalu penting bagi siswa mereka.

”Beberapa sekolah merasa kalah bersaing dengan sekolah lain, sehingga merasa tidak perlu mengikutkan siswanya dalam SNB,” terangnya.

Meski demikian, pihaknya tetap mendorong seluruh lulusan SMA atau yang sederajat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi.

Di antaranya melalui bimbingan karier kepada siswa untuk membantu memilih jurusan yang sesuai dengan minat dan bakat.

Sekolah juga tetap mengadakan try out dan simulasi masuk PTN untuk mempersiapkan siswa menghadapi ujian.

“Sekolah juga memberikan informasi mengenai berbagai PTN, jurusan, dan persyaratan masuk,” kata Fatkhur.

Salah satu SMA swasta yang tidak menuntaskan pengisian PDSS adalah SMKS PGRI Ngajum.

Kepala SMKS PGRI Ngajum Sulam Afandi menyebut siswa kelas XII di sekolahnya hanya 13 anak.

Mereka memutuskan langsung bekerja.

“Karena kami bekerja sama dengan beberapa perusahaan besar, rata-rata alumni kami langsung bekerja di sana setelah lulus,” kata dia.

Sebenarnya pihak sekolah selalu memotivasi siswa-siswinya untuk lanjut kuliah setelah lulus.

Namun, karena letak geografis SMKS PGRI Ngajum yang berada di pinggiran dengan kondisi ekonomi menengah ke bawah, rata-rata lulusannya memilih untuk bekerja.

Bergantung Sikap Sekolah

Sementara itu, di Kota Malang terdata 185 siswa yang mundur dari SNBP.

Mereka berasal dari 32 sekolah swasta yang tidak mengisi atau pun tidak menuntaskan pengisian PDSS.

Seperti SMAS PGRI 6, MAS Bahrul Maghfiroh, SMK Al Azhar, dan MA Nurul Jadid.

Humas SMAS PGRI 6 Kota Malang Ribut Budiarti mengaku sempat berencana melakukan finalisasi PDSS.

Apalagi panitia pusat memberi perpanjangan waktu.

Namun finalisasi urung dilakukan karena tahun ini siswa yang hendak ikut SNBP minim.

Total hanya ada lima siswa dalam rombongan belajar yang akan lulus.

Tiga siswa di antaranya memutuskan tidak melanjutkan kuliah. Ada yang ingin bekerja, menikah, dan menjadi atlet.

Sempat ada dua siswa yang ingin mencoba jalur SNBP.

Tapi, satu di antaranya beralih memutuskan untuk mendaftar ke Universitas PGRI Kanjuruhan (Unikama).

Satu siswa lagi ternyata tidak memenuhi standar.

”Daripada ke depan berdampak untuk adik kelas, mending kami sarankan ikut jalur Seleksi Nasional Berbasis Tes (SNBT),” imbuh Ribut.

Ketua MKKS SMA Swasta Kota Malang Antonius Sumardi menambahkan, fenomena siswa eligible yang mundur dari SNBP juga dipengaruhi kondisi masing-masing sekolah.

Dari pihak cabang dinas (cabdin) maupun MKKS sebenarnya sudah memberi pesan agar segera melakukan finalisasi.

Tapi, tidak semua sekolah mengejar target siswa-siswinya masuk PTN.

”Semua kembali kepada siswa dan sekolah masing-masing,” terangnya.

Pihak sekolah sebenarnya terus berupaya agar siswa-siswinya bisa masuk ke kampus favorit.

Sebagai contoh di tempatnya, yakni SMA Dempo Malang.

“Kami sudah menyusun strategi seperti perankingan dan mempertimbangkan kampus yang dipilih siswa agar tidak terpusat di satu kampus atau program studi saja,” tegasnya.

Menurut Antonius, tahun ini terdapat 153 siswa eligible di sekolahnya.

Seluruhnya sudah melakukan pendaftaran SNBP ke berbagai kampus.

Seperti Universitas Brawijaya, Institut Teknologi Bandung, ISI Yogyakarta, dan Universitas Airlangga.

Minat Lulusan SMK Rendah

Di Kota Batu terdapat empat sekolah yang tak menuntaskan finalisasi PDSS.

SMKS 17 Agustus Kota Batu dengan dua siswa eligible, SMKS Edith Kota Batu dengan satu siswa eligible, SMKS Muhammadiyah 1 Batu sebanyak 11 siswa eligible, dan SMKS Bhineka Tunggal Ika Indonesia sebanyak lima siswa eligible.

Artinya, ada 19 siswa yang dipastikan mundur dan tak mengikuti serangkaian seleksi.

Kepala Seksi SMK Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Wilayah Kota Malang dan Kota Batu Frenky Minggaryana Dwi Putra mengatakan, minat lulusan SMK untuk melanjutkan ke PTN masih minim.

Rata-rata mereka ingin langsung bekerja.

Dari hasil tracking yang dilakukan oleh Cabdindik, minat siswa SMK untuk melanjutkan perguruan tinggi kurang dari 50 persen.

Selebihnya memilih untuk bekerja atau berwirausaha.

Kota Batu yang memiliki keunggulan di sektor turut mempengaruhi orientasi siswa untuk lebih cepat masuk dunia kerja.

”Apalagi siswa SMK yang mengambil jurusan perhotelan dan pariwisata. Bahkan, saat ini sekolah sudah banyak yang menggandeng perusahaan untuk menyalurkan siswanya setelah lulus,” terangnya.

Rendahnya keinginan melanjutkan ke pendidikan tinggi juga bisa dipengaruhi lingkungan sekolah.

Misalnya di SMKS Edith Kota Batu yang hanya ada satu siswa kategori eligible.

Motivasi siswa itu untuk masuk PTN menjadi tidak begitu besar.

Hal itu dibenarkan Guru Bimbingan Konseling (BK) SMKS Edith Kota Batu Elyk Andriani.

Pihaknya mengaku hanya memiliki dua siswa kelas XII. Sementara hanya satu siswa yang masuk dalam kategori eligible.

”Sayangnya juga tidak berkeinginan masuk ke PTN, jadi kami tidak lanjutkan,” ujarnya.

Hal senada diungkapkan Guru BK SMKS Muhammadiyah 1 Batu Dwi Kumalasari.

Di sekolah itu terdapat 11 siswa eligible dari jurusan agribisnis ternak dan perhotelan.

Dua siswa dari jurusan perhotelan sempat ingin mendaftar ke PTN.

Namun, mendekati finalisasi mereka memilih melanjutkan studi ke Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) karena mendapat potongan Dana Penyelenggaraan Pendidikan (DPP) sebesar 50 persen.

Sementara siswa jurusan peternakan memilih untuk melanjutkan studi ke sekolah kedinasan.

Seperti di Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Malang.

”Tahun lalu ada dua siswa yang mendaftar PTN. Tahun ini minat siswa memang cenderung menurun,” tandasnya. (yun/mel/ori/fat)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#Siswa Eligible #SNBP #PDSS 2025 #Malang Raya