RADAR MALANG - Pemberitaan tentang Rancangan Undang-Undang Tentara Nasional Indonesia (RUU TNI) yang baru diresmikan pada 20 Maret kemarin memicu perbincangan di kalangan warganet.
Banyak yang khawatir jika kebijakan ini akan membawa Indonesia kembali ke masa Orde Baru, di mana TNI memiliki peran besar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk sosial-politik dan ekonomi.
Tahun 1998 menjadi momen bersejarah bagi Indonesia.
Di tahun itu, rakyat bersatu menuntut reformasi, menggulingkan kekuasaan Orde Baru yang telah bertahan lebih dari 30 tahun.
Baca Juga: Pencinta Novel Konflik Berat Wajib Baca, Rekomendasi Webnovel dengan Jalan Cerita Epik
Namun, peristiwa ini juga meninggalkan banyak luka, termasuk penculikan aktivis, demonstrasi besar-besaran, dan kekerasan aparat terhadap rakyat.
Untuk memahami lebih dalam bagaimana situasi Indonesia saat itu, beberapa novel fiksi sejarah ini bisa menjadi bacaan yang menarik.
Novel-novel ini mengangkat kisah perjuangan, pengorbanan, dan tragedi yang terjadi di masa reformasi.
Berikut adalah empat rekomendasi novel yang mengangkat peristiwa 1998.
Baca Juga: 3 Rekomendasi Toko Buku Islami dan Al-Qur’an di Malang, Koleksi Lengkap Harga Bersahabat
1. Laut Bercerita oleh Leila S. Chudori
Novel ini mengisahkan perjalanan seorang aktivis bernama Biru Laut yang bersama rekan-rekannya berjuang demi keadilan dan hak rakyat kecil.
Namun, keberanian mereka dalam menyuarakan aspirasi berujung pada penculikan oleh aparat keamanan pada 1996.
Dari sekian banyak aktivis yang ditangkap, beberapa dibebaskan, tetapi sebagian lainnya, termasuk Biru Laut, tidak pernah kembali.
Melalui sudut pandang Biru Laut dan orang-orang di sekitarnya, novel ini menggambarkan tekanan dan kekerasan yang dialami para aktivis saat itu.
Selain itu, kisah ini juga memperlihatkan bagaimana keluarga korban harus berjuang mencari kejelasan tentang keberadaan orang-orang terkasih mereka yang hilang tanpa jejak.
2. Kronik Penculikan Aktivis dan Kekerasan Negara 1998 oleh Muhidin M. Dahlan
Buku ini bukan sekadar novel, melainkan sebuah kumpulan dokumentasi sejarah yang mengungkap berbagai peristiwa terkait penculikan aktivis dan tindakan represif aparat selama 1997–1998.
Melalui berbagai arsip dan catatan penting, buku ini menghadirkan gambaran detail tentang bagaimana tragedi itu terjadi, siapa saja yang terlibat, serta bagaimana kasus ini ditangani setelahnya.
Dengan lima bagian utama, buku ini memaparkan latar belakang tokoh-tokoh kunci, alasan di balik tindakan kekerasan negara, serta proses hukum yang dilakukan terhadap mereka yang bertanggung jawab.
Buku ini menjadi referensi penting bagi siapa saja yang ingin memahami reformasi 1998 tanpa campur tangan bias politik.
Baca Juga: Valentine Romantis di Malang: 3 Rekomendasi Kafe Buku yang Pas untuk Book Date Bareng Pasangan
3. Notasi oleh Morra Quatro
Berlatar belakang reformasi 1998 di Yogyakarta, novel ini mengikuti perjalanan dua mahasiswa, Nino dan Nalia, yang awalnya bertemu karena persaingan dalam pemilihan ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gajah Mada (UGM).
Keduanya memiliki pandangan yang berbeda, tetapi seiring waktu, mereka mulai saling memahami di tengah pergolakan politik kampus yang semakin memanas.
Situasi mulai berubah drastis ketika sebuah acara di kampus mereka berujung pada insiden penembakan.
Demonstrasi besar pun meledak di Yogyakarta, memicu penyerangan ke dalam kampus dan penangkapan mahasiswa.
Di tengah kekacauan tersebut, Nino menghilang, memperlihatkan betapa nyatanya ancaman terhadap mereka yang berani bersuar.
Baca Juga: Tiga Rekomendasi Toko Buku Terbaik di Kota Malang untuk Para Bookworm
4. 1998: sebuah novel oleh Ratna Indraswari
Novel ini menawarkan perspektif berbeda dengan mengambil latar di Malang.
Putri, seorang mahasiswa Universitas Brawijaya sekaligus anak seorang Wali Kota, menghadapi dilema besar.
Di satu sisi, teman-temannya aktif menggelar demonstrasi menuntut perubahan, sementara keluarganya melarangnya terlibat dalam gerakan tersebut.
Keadaan semakin rumit ketika kekasihnya, Neno, ikut terlibat dalam demonstrasi besar di Jakarta.
Neno yang mengikuti aksi tersebut kemudian hilang dan tak pernah kembali.
Baca Juga: Perpusda Punya Banyak Koleksi Buku Fiksi
Reformasi 1998 adalah tonggak sejarah yang membawa Indonesia menuju era demokrasi yang lebih terbuka.
Namun, di balik kemenangan itu, ada banyak kisah kelam tentang pengorbanan dan penderitaan yang dialami para pejuang perubahan.
Melalui novel-novel ini, kita dapat melihat bagaimana peristiwa reformasi membentuk kehidupan banyak orang, mulai dari aktivis yang berjuang di garis depan hingga mereka yang kehilangan orang-orang tercinta akibat kekerasan negara.
Dengan membaca dan memahami sejarah ini, kita diingatkan untuk terus menjaga demokrasi dan memastikan bahwa tragedi serupa tidak terulang kembali. (rossa)
Editor : Aditya Novrian